Bang Long Dorong Pemerintah Membuka Ruang Musyawarah

0
56

RASIO.CO, Batam – Tokoh Mayarakat Melayu Rempang-Galang Iswandi Muhammad Yaacob  lebih dikenal  Bang Long mendorong pemerintah, pengembang dan masyarakat mengutamakan berdialog dalam penyelesaian lahan di Barelang Batam. Selasa(29/09).

Menurut Bang Long seorang tokoh masyarakat Melayu yang selama ini dikenal aktif menyuarakan aspirasi masyarakat terkait persoalan Rempang. Hal ini disampaikan di kegiatan Podcast Ruang Bicara. Botania, Selasa(22/09) Pekan Lalu.

Dalam perbincangan tersebut, Bang Long menceritakan perjalanan keterlibatannya dalam perjuangan masyarakat Rempang sejak mencuatnya persoalan relokasi pada 2023.

Ia menjelaskan bahwa keterlibatannya berawal dari kepedulian terhadap masyarakat yang menurutnya menghadapi rencana relokasi dari kawasan tempat mereka telah bermukim selama bertahun-tahun.

Menurut Bang Long, persoalan Rempang pada saat itu tidak hanya menyangkut pembangunan dan investasi, tetapi juga berkaitan dengan sejarah, kehidupan masyarakat, serta keberadaan kampung-kampung tua di kawasan tersebut.

Kata dia,  terdapat sekitar 16 titik kampung tua yang menjadi bagian dari pembahasan relokasi. masyarakat pada dasarnya tidak menolak investasi maupun pembangunan, tetapi berharap kebijakan pembangunan tetap memperhatikan keberadaan masyarakat setempat.

“Rakyat tidak menolak yang namanya investasi, pembangunan, kemajuan dan lain sebagainya. Dengan catatan, duduk bermusyawarah dan temukan secara menyeluruh solusinya,” ujar Bang Long Dalam Podcast Ruang Bicara.Bang Long bercerita, kembali keterlibatannya dalam berbagai aksi masyarakat pada 2023. Ia menyebut salah satu momentum penting terjadi pada September 2023 ketika sejumlah pemuda dan masyarakat berkumpul menyampaikan aspirasi di depan BP Batam.

Menurut penuturannya, aksi tersebut merupakan bentuk penyampaian sikap masyarakat yang menolak relokasi dan meminta pemerintah memperhatikan aspirasi warga Rempang.

Bang Long mengatakan, dirinya bersama sejumlah pemuda saat itu berusaha menyampaikan tuntutan agar harkat dan martabat masyarakat serta hak masyarakat di kawasan tersebut diperhatikan dalam kebijakan pembangunan.

Ia menegaskan bahwa menurut pandangannya, masyarakat tidak menolak investasi. Persoalan utama, kata dia, adalah bagaimana pembangunan dapat berjalan tanpa mengabaikan keberadaan masyarakat yang telah lama tinggal di kawasan tersebut.

“Pada dasarnya masyarakat menerima investasi. Tapi dengan catatan kampung mereka jangan dipindahkan, jangan direlokasi, jangan digusur,” kata Bang Long.

Dalam dialog tersebut, Bang Long juga menyampaikan pentingnya komunikasi langsung antara pemerintah dan masyarakat sebelum kebijakan besar diterapkan.

Menurutnya, pemerintah perlu membuka ruang musyawarah agar masyarakat dapat memahami kebijakan sekaligus menyampaikan aspirasi dan kekhawatiran mereka.

Ia menilai kebijakan yang menyangkut masyarakat seharusnya dibicarakan secara terbuka dengan mengedepankan prinsip keadilan dan kebijaksanaan.

“Pemerintah dengan rakyat harus duduk bermusyawarah, membahas tentang permasalahan yang terjadi secara terbuka, legowo, adil dan bijaksana,” ujarnya.

Bang Long juga meminta pemerintah melakukan evaluasi terhadap kebijakan yang dinilai belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan masyarakat Rempang.

Ia berharap pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun BP Batam dapat membuka kembali ruang dialog untuk mencari solusi yang dapat diterima berbagai pihak.

Sejarah Masyarakat Melayu Menjadi Perhatian

Dalam pembahasan mengenai pembangunan Batam dan Rempang, Bang Long turut menyinggung sejarah masyarakat Melayu di kawasan tersebut.

Menurutnya, sejarah dan keberadaan masyarakat yang telah lama mendiami suatu wilayah perlu menjadi salah satu pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pembangunan.

Ia mengatakan, keberadaan BP Batam sebagai lembaga yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan dan pembangunan Batam tidak seharusnya menghilangkan perhatian terhadap sejarah dan masyarakat yang telah lebih dahulu berada di wilayah tersebut.

“Sejarah peradaban suatu wilayah, suatu daerah, suatu kebudayaan itu harus menjadi tolak ukur atau fokus sentral dalam menetapkan suatu kebijakan,” ujar Bang Long.

Rakyat Diminta Tidak Mudah Terprovokasi

Selain membahas persoalan Rempang, Bang Long juga menanggapi kejadian yang disebutnya terjadi pada 14 September. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan belasungkawa kepada korban yang meninggal dunia dan meminta masyarakat tidak memperkeruh situasi.

Ia mengimbau masyarakat Kepulauan Riau, khususnya Batam, agar tidak langsung mempercayai setiap informasi yang beredar.

Menurutnya, setiap informasi perlu disaring dan diverifikasi terlebih dahulu agar masyarakat tidak mudah terprovokasi, terutama oleh informasi yang berpotensi membawa isu SARA.

“Setiap informasi yang kita baca, kita dapatkan, jangan ditelan mentah-mentah. Disaring terlebih dahulu, dicari mana yang benar, mana yang tidak benar,” kata Bang Long.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat, pengusaha, maupun pemerintah untuk menahan diri dan menyerahkan penanganan persoalan kepada pihak yang berwenang.

Bang Long menyatakan kepercayaannya terhadap aparat penegak hukum untuk menangani persoalan tersebut secara sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Ilmu dan Sikap Kritis

Dalam perbincangan yang berlangsung di Podcast Ruang Bicara, Bang Long juga menyinggung pentingnya ilmu dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurutnya, ilmu dapat membantu seseorang memiliki pemikiran yang terukur dan tidak mudah dipengaruhi oleh pihak lain. Ia mengatakan, ketika menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan hati nurani, dirinya berusaha menyampaikan kritik secara tegas namun tetap dengan cara yang baik.

“Dengan ilmunya kita punya satu pemikiran yang terukur, punya psikologi yang kuat sehingga kita tidak mudah diintervensi oleh siapa pun,” ujarnya.

Bagi Bang Long, kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari kehidupan demokratis selama disampaikan secara santun dan bertanggung jawab.

Ia menilai hubungan pemerintah dan masyarakat seharusnya dibangun melalui komunikasi, musyawarah, serta keterbukaan dalam mencari penyelesaian terhadap berbagai persoalan.

Podcast Ruang Bicara bersama Bang Long kemudian ditutup dengan pesan agar masyarakat tetap menjaga ketenangan, tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi, serta memberikan ruang kepada pihak berwenang untuk menangani persoalan yang sedang berlangsung.

Perbincangan tersebut juga membuka peluang untuk menghadirkan kembali Bang Long dalam episode berikutnya dengan pembahasan yang lebih khusus mengenai persoalan Rempang, masyarakat Melayu, pembangunan, dan investasi di Batam.

Redaksi@www.rasio.co //

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini