
Penulis : Prof. Iskandar Nazari,S.Ag.,M.Pd.,M.Si.,M.H.,Ph.D
Guru Besar Psikologi Pendidikan
Univeristas Islam Negri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, tidak semua orang mampu berjalan dengan ketenangan yang sama. Di balik kesibukan pekerjaan, tuntutan sosial, derasnya informasi digital, hingga tekanan kehidupan sehari-hari, ada banyak orang yang diam-diam bergulat dengan kecemasan, kegelisahan, stres, bahkan kehampaan dalam dirinya.
Tubuh mungkin terlihat baik-baik saja. Senyum masih terpancar. Aktivitas tetap berjalan. Namun, di dalam hati, tidak sedikit yang merasa lelah.
Persoalan inilah yang menjadi perhatian Prof. Iskandar Nazari, Founder Ruhiologi dan Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Ia menawarkan sebuah pendekatan yang memadukan dimensi psikologi, spiritualitas Islam, dan kesadaran diri melalui konsep Kecerdasan Ruhiologi atau Ruhiology Quotient (RQ).

Gagasan tersebut terangkum dalam konsep “Revolusi Ruhiologi: Bangkitkan Jiwa, Sembuhkan Peradaban” dengan pendekatan Mujahadah Healing With Salat.
Menurut konsep tersebut, persoalan kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan kondisi psikologis manusia, tetapi juga menyentuh dimensi batin dan spiritual. Ketika seseorang kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri, lingkungan sosial, dan Sang Pencipta, kegelisahan dapat berkembang menjadi berbagai persoalan dalam kehidupan.
Naskah Ruhiologi menggambarkan bahwa penyakit hati dapat muncul dalam bentuk iri ketika melihat keberhasilan orang lain, kegelisahan ketika mendapat perbandingan sosial, buruk sangka, dendam, hingga konflik antarmanusia. Kondisi tersebut kemudian dapat berkembang menjadi fitnah, gosip, intrik dan kebencian.
Dari sinilah perjalanan penyembuhan dimulai: bukan dengan menyalahkan orang lain, tetapi dengan berani melihat ke dalam diri sendiri.
Lima Jalan Transformasi Batin
Dalam konsep Ruhiologi, terdapat lima indikator utama transformasi batin.
Pertama, pengenalan dan kesadaran diri yang hakiki. Seseorang diajak untuk mengenali dirinya, memahami kelemahan, berdamai dengan keadaan, serta melakukan evaluasi terhadap kehidupan batinnya.
Kedua, pengenalan kepada Tuhan atau God Spot. Dimensi ini menempatkan hubungan manusia dengan Allah sebagai bagian penting dalam membangun ketenangan dan kesadaran spiritual.
Ketiga, ketaatan ibadah yang membebaskan atau Mindful Salat. Salat tidak dipandang hanya sebagai rutinitas ibadah, tetapi sebagai ruang untuk menghadirkan kesadaran, ketenangan, dan kekhusyukan di tengah tekanan kehidupan.
Keempat, perbaikan akhlak karimah sebagai terapi sosial. Perubahan batin diharapkan tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi tercermin dalam hubungan dengan orang lain. Iri diarahkan menjadi syukur, kebencian diredam dengan kedewasaan emosional, dan kedengkian digantikan dengan doa kebaikan.
Kelima, kesadaran puncak atau God Light, yakni kondisi ketika kesadaran spiritual menjadi landasan dalam mengarahkan akal, emosi, dan pemanfaatan teknologi.
Melawan Musuh yang Tidak Terlihat
Dalam perjalanan tersebut, Mujahadah ditempatkan sebagai perjuangan batin. Musuh yang dihadapi bukan orang lain, melainkan gejolak hawa nafsu, ego, kecemasan destruktif, dan ketidaktenangan yang ada di dalam diri.
Pesannya sederhana tetapi mendalam: pertempuran terbesar manusia sering kali bukan melawan dunia di luar dirinya, melainkan melawan gejolak yang ada di dalam hati.
Konsep ini juga dikaitkan dengan pesan Rasulullah SAW tentang kekuatan manusia yang sesungguhnya, yaitu kemampuan mengendalikan diri ketika sedang marah.
Ketika Teknologi Membuat Dunia Semakin BisingDi era digital, tantangan tersebut semakin kompleks.
Informasi datang tanpa henti. Media sosial membuat seseorang mudah membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Komunikasi yang seharusnya mendekatkan manusia terkadang justru melahirkan polarisasi, kecemasan dan insecurity.
Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi perkembangan tersebut dinilai perlu diimbangi dengan kedewasaan spiritual.
Dalam pendekatan Salat Mindful Living, salat diposisikan sebagai ruang jeda. Sebuah momen ketika manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, menenangkan diri, menghadirkan kesadaran dan kembali mengingat tujuan hidupnya.
Dengan demikian, masjid, sajadah dan waktu salat bukan hanya menjadi bagian dari rutinitas, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk melakukan dialog dengan diri sendiri dan mendekat kepada Allah.
Dari Gagasan Menjadi Gerakan
Gagasan tersebut kemudian dikembangkan melalui Ruhiology Institute yang dipelopori Prof. Iskandar Nazari.
Pendekatan ini tidak berhenti pada gagasan spiritual, tetapi juga diarahkan pada proses evaluasi diri menggunakan instrumen Ruhiology Quotient Inventory (RQI-15) dan WHO-5 Well-Being Index melalui platform digital Ruhiology Institute.
Dalam naskah tersebut disebutkan bahwa pendekatan ini telah mendapat respons dari berbagai kalangan, termasuk akademisi, siswa, mahasiswa, khususnya generasi Z, serta masyarakat umum. Instrumen tersebut digunakan untuk membantu individu melakukan evaluasi diri dan mengenali kondisi dirinya.
Pada akhirnya, konsep Ruhiologi membawa satu pesan penting: perubahan besar dalam masyarakat dapat dimulai dari perubahan kecil di dalam hati manusia.
Ketika seseorang mulai berani mengenali dirinya, mengendalikan egonya, memperbaiki ibadah, membangun akhlak dan memperkuat hubungan dengan Tuhan, perubahan itu diharapkan tidak hanya dirasakan secara pribadi.
Ia dapat menjalar ke keluarga, lingkungan kerja, masyarakat, hingga kehidupan sosial yang lebih luas.
Sebab, peradaban yang damai tidak hanya dibangun dengan teknologi, ekonomi dan kecerdasan manusia. Ia juga membutuhkan manusia yang memiliki hati yang sehat.
Bangkitkan jiwa, sembuhkan hati, lalu hadirkan perubahan bagi sesama.
Itulah semangat yang dibawa melalui gagasan Mujahadah, Salat Mindful Living, dan Kecerdasan Ruhiologi dalam menuju kehidupan yang lebih tenang, sadar, dan berorientasi pada nilai-nilai ketuhanan.

