
RASIO.CO, Tanjungpinang – Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Nyanyang Haris Pratamura, mengapresiasi kolaborasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan Badan Usaha Milik Ansor (BUMA) dalam menjaga stabilitas pangan di Kepri.
Hal itu disampaikan Nyanyang saat membuka Gebyar Kuliner dan Gerbang Ekonomi Pangan yang digelar DPC HKTI Kota Tanjungpinang di depan Ramayana Tanjungpinang, belum lama ini.
“Yang dijual oleh BUMA HKTI itu harganya di bawah pasar. Ini menjadi kolaborasi yang sangat kuat, ekonomi di daerah tersebut akan lebih meningkat lagi,” ujar Nyanyang, yang juga Ketua DPD HKTI Provinsi Kepri.
Pantauan di lokasi, harga yang ditawarkan memang jauh di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET). Minyak goreng yang HET-nya Rp15.700 dijual Rp15.000, dan beras 5 kg yang biasanya Rp76.000 hingga Rp86.000 di pasaran, dijual hanya Rp70.000 – Rp71.000. Masyarakat pun berbondong-bondong datang.
Tantangan Pangan di Daerah Kepulauan

Dalam Podcast Ruang Bicara bersama Sri Widayanti di Kediaman Resmi Wagub Kepri, Nyanyang menjelaskan tantangan pangan di Kepri yang memiliki 2.028 pulau dengan 394 pulau berpenghuni.
“Kendala utama adalah konektivitas. Kalau di Jawa dan Sumatera pupuk bisa diangkut mobil, di Kepri semua lewat laut. Ini berpengaruh pada harga dan pasokan,” jelasnya.
Kebutuhan pangan Kepri masih sangat bergantung pasokan luar. Kebutuhan telur di Kepri mencapai 3 juta butir per hari, sementara produksi lokal baru 600 ribu – 800 ribu butir. Cabai, sayuran, daging, dan ayam banyak didatangkan dari Medan, Padang, Lampung, hingga Jawa Timur.
Untuk itu, Pemprov Kepri mendorong kedaulatan pangan melalui bisnis matching dengan distributor dan memperkuat peran petani lokal.
“60% populasi ada di Batam, kebutuhan tinggi di sana. Kita harus berdaulat pangan,” tegasnya.
Pemprov juga telah menyalurkan 9.700 BPJS Ketenagakerjaan untuk petani dan program bibit cabai bersama Dinas Ketahanan Pangan yang dinilai berhasil menekan inflasi.
Angka Kemiskinan Terendah ke-4 dan IPM Tertinggi ke-3
Nyanyang yang juga Ketua Satgas Pengentasan Kemiskinan Kepri memaparkan, angka kemiskinan Kepri saat ini terendah nomor 4 se-Indonesia.
“Pendidikan kita utamakan, kesehatan kita tingkatkan pelayanannya,” ujarnya.
Strategi pengentasan dilakukan dengan pendekatan desil. Anak dari keluarga desil 1 dan 2 disekolahkan melalui Sekolah Rakyat yang sudah berjalan dengan 100 lebih murid di Tanjungpinang, serta bantuan UMKM bagi keluarganya.
Menurutnya, hal itu berdampak pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kepri yang kini berada di peringkat 3 nasional setelah DKI Jakarta dan DI Yogyakarta.
“Jangan sampai investasi datang kita hanya jadi penonton. Kita siapkan SDM lewat SMK, sekarang 63% anak kita masuk SMK dan belum lulus sudah diterima kerja,” katanya.
Ia juga menyebut program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dari Presiden Prabowo Subianto berjalan lancar di Kepri.
Dorong Kolaborasi untuk Sukseskan Asta Cita
Terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Sekolah Rakyat, Nyanyang menilai peran HKTI, BUMA, dan ormas lain sangat vital.
“Ini kolaborasi yang sangat kuat yang mana ekonomi di daerah tersebut akan lebih meningkat lagi. HKTI, BUMA, dan organisasi lain ikut menjalankan program Asta Cita Presiden Prabowo. Petani, nelayan, peternak dibutuhkan untuk menyukseskan Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Ke depan, ia berharap model pasar murah BUMA HKTI yang sukses di Tanjungpinang bisa direplikasi di 6 kabupaten/kota lainnya di Kepri. Pemprov Kepri membuka peluang kerja sama resmi melalui MoU dengan ormas-ormas pangan.
“Terima kasih BUMA dan HKTI. Insya Allah dengan kolaborasi ini Kepri akan menjadi lumbung swasembada pangan, masyarakat tidak susah sekolah, tidak susah pendidikan, dan tidak susah lapangan pekerjaan,” tutupnya.
Redaksi@www.rasio.co //

