Prof. Iskandar Soroti Krisis Kesehatan Mental di Era Digital: Pendidikan Harus Menyentuh Sisi Batin Manusia

0
54

RASIO.CO, Batam – Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia.

Di tengah kemudahan yang ditawarkan teknologi, muncul pula tantangan terhadap kesehatan mental, pola interaksi sosial, serta kemampuan manusia dalam mengendalikan diri.

Guru Besar Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin (UIN STS) Jambi, Prof. Iskandar, S.Ag., M.Pd., MSI., MH., PhD., menyampaikan bahwa,  perubahan perilaku manusia di tengah derasnya arus informasi digital menjadi ketergantungan terhadap perangkat digital, khususnya telepon pintar, menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian serius.

“masyarakat saat ini menghadapi kondisi ketika informasi datang secara terus-menerus, bahkan sebelum informasi sebelumnya selesai dipahami. Sehingga mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi dan membentuk pola perilaku tertentu.”

“Ketika informasi datang terus-menerus, anak-anak kita tidak bisa fokus dan mudah berpindah. Karena tumpukan informasi yang datang silih berganti,” ujar Prof. Iskandar dalam Podcast Ruang Bicara di MB2 Botania, Pekan lalu.

Selain iyu, Ia juga menyoroti fenomena penggunaan gawai yang semakin melekat dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat memengaruhi pola interaksi manusia, termasuk hubungan di dalam keluarga.

Prof. Iskandar menggambarkan kondisi ketika anggota keluarga yang secara fisik berada dalam satu rumah justru lebih banyak berkomunikasi melalui perangkat digital. Sehingga perkembangan teknologi seharusnya tidak menghilangkan kebersamaan dan komunikasi langsung antarmanusia.

Di sisi lain, lanjutnya, bahwa teknologi memiliki banyak manfaat apabila digunakan secara bijak. Karena itu, persoalannya bukan semata-mata pada teknologi, tetapi bagaimana manusia mampu mengendalikan dan memanfaatkannya sesuai kebutuhan.

Pendidikan Tidak Cukup Hanya Mengasah Intelektual

Dalam perbincangan tersebut, Prof. Iskandar juga mengkritisi pendekatan pendidikan yang menurutnya tidak cukup hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual.

Ia menjelaskan bahwa manusia memiliki sejumlah dimensi kecerdasan yang perlu dikembangkan secara seimbang, mulai dari kecerdasan intelektual, emosional, spiritual hingga dimensi batin yang menjadi perhatian dalam gagasan *ruhiologi* yang dikembangkannya.

Menurut Prof. Iskandar, pendidikan yang hanya membuat seseorang semakin pintar belum tentu membuat seseorang memiliki kemampuan mengendalikan emosi, memiliki empati, serta mampu menemukan makna dalam kehidupannya.

“Tidak cukup dengan ilmu. Ada sisi terdalam manusia yang harus disentuh,” jelasnya.

Ia menilai generasi muda memiliki potensi besar, tetapi membutuhkan pendekatan pendidikan yang tidak hanya memberikan pengetahuan, melainkan juga menghadirkan keteladanan, sentuhan emosional, serta pembinaan spiritual.

Ruhiologi dan Pentingnya Mengenal Diri

Prof. Iskandar turut memperkenalkan konsep *ruhiologi*, yang menurut penjelasannya lahir dari perjalanan akademik dan spiritual yang telah dijalaninya selama bertahun-tahun.

Ia mengaitkan konsep tersebut dengan pentingnya manusia memahami hubungan antara aspek jasmani dan rohani. Dimana manusia tidak cukup hanya memperhatikan kebutuhan fisik, pendidikan, pekerjaan, maupun pencapaian material, tetapi juga perlu memberikan perhatian terhadap kondisi batinnya.

Prof. Iskandar menilai banyak persoalan kehidupan manusia muncul ketika seseorang terlalu sibuk mengejar berbagai kebutuhan eksternal, tetapi kurang memberikan ruang untuk melakukan refleksi dan mengenali dirinya sendiri.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk memiliki waktu jeda dari aktivitas digital dan kembali membangun komunikasi dengan diri sendiri melalui refleksi, ibadah, serta aktivitas yang dapat memperkuat hubungan spiritual.

Sholat sebagai Bagian dari Pembentukan Kesadaran

Dalam perspektif keagamaan yang disampaikannya, Prof. Iskandar menempatkan salat sebagai salah satu sarana penting dalam membangun kesadaran dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Namun, ia menekankan bahwa ibadah tidak berhenti pada aktivitas ritual. Menurutnya, nilai ibadah seharusnya tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Ia mencontohkan, seseorang yang menjalankan salat tetapi masih melakukan perundungan, membuka aib orang lain, atau menyakiti sesama perlu melakukan evaluasi terhadap makna dan penghayatan ibadahnya.

“Kalau sudah salat kita masih menyakiti kawan, masih buka aib kawan, masih bullying, berarti salatnya belum membekas,” ujarnya.

Prof. Iskandar juga mengajak masyarakat untuk melakukan *muhasabah*, yaitu mengevaluasi diri, serta membangun kesadaran terhadap perilaku, pikiran, perasaan dan keinginan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Anak Muda Perlu Pendekatan yang Lebih Menyentuh

Menurut Prof. Iskandar, persoalan kesehatan mental dan perilaku generasi muda tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan yang bersifat motivasional.

Ia menilai diperlukan pendidikan dan pendampingan yang mampu menyentuh sisi emosional dan spiritual manusia. Menurutnya, proses tersebut membutuhkan waktu, latihan, keteladanan, serta lingkungan yang mendukung.

Ia juga mengingatkan pentingnya keseimbangan antara penggunaan teknologi dan interaksi sosial secara langsung. Menurutnya, AI dan teknologi digital tetap penting untuk dimanfaatkan, tetapi manusia harus tetap menjadi pihak yang mengendalikan teknologi, bukan sebaliknya.

Penelitian tentang Salat dan Kesehatan Mental

Pada akhir perbincangan, Prof. Iskandar mengungkapkan bahwa dirinya saat ini sedang melakukan penelitian mengenai penerapan sholat lima waktu selama 40 hari yang disertai jurnal, termasuk kepada anak muda dan warga binaan di lembaga pemasyarakatan.

Ia menyampaikan bahwa dalam pengamatan awalnya terdapat perubahan yang menurutnya menarik setelah beberapa waktu penerapan program tersebut. Namun, temuan tersebut merupakan bagian dari penelitian yang masih berlangsung sehingga memerlukan kajian lebih lanjut.

Prof. Iskandar mengajak masyarakat untuk kembali mengenali diri, menjaga kesehatan mental, menggunakan teknologi secara bijak, serta membangun keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual.

Prof. Iskandar, juga mengingatkan kita berupaya mengenali diri merupakan bagian penting dalam perjalanan manusia untuk menemukan ketenangan dan membangun kehidupan yang lebih bermakna.

Redaksi@www.rasio.co //

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini