Tokoh Masyarakat Lingga Usulkan “Festival Gunung Daik Becabang Tiga” Jadi Event Tahunan Berskala Nasional

0
23
Ket foto: Muhammad Ishak, tokoh masyarakat Lingga

RASIO.CO, Lingga – Menyusul suksesnya rangkaian kegiatan peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81 tahun 2026 yang digelar oleh Kecamatan Lingga selama satu bulan penuh, tokoh masyarakat Lingga, Muhammad Ishak, memberikan apresiasi tinggi sekaligus mengajukan gagasan strategis untuk mengembangkan potensi daerah melalui sebuah festival berskala besar.

Ishak menilai, kegiatan yang berlangsung di Daik dan sekitarnya telah berhasil menghibur masyarakat serta menjadi wadah bagi penggiat seni untuk kembali berkarya setelah masa yang cukup sepi. Menurutnya, kesuksesan acara tanpa dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) membuktikan bahwa kepemimpinan yang tanggap, kreatif, dan kooperatif mampu menghasilkan dampak positif, termasuk bagi pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM).

“Masyarakat merasa terhibur dan berterima kasih. Bagi penggiat seni, adanya ‘ruang’ untuk tampil seolah membakar semangat dan menyuntikkan ‘darah baru’ untuk berkreasi kembali,” ujar Ishak, Minggu (4/10/2026).

Melihat antusiasme tersebut, Ishak mengusulkan agar rangkaian kegiatan serupa dikemas lebih menarik dan dikembangkan menjadi event tahunan daerah yang lebih bergengsi, yaitu Festival Gunung Daik Becabang Tiga (GDBT). Ia meyakini festival ini memiliki potensi efek domino tidak hanya bagi Kabupaten Lingga, tetapi juga dapat menarik wisatawan nusantara hingga mancanegara jika dipromosikan secara cerdas dan berkelanjutan.

“Tahniah dan mudah-mudahan tidak lelah sampai di situ saja. Alangkah baiknya jika ini dikembangkan menjadi Festival GDBT. Pantun legenda Gunung Daik sudah mendunia dan menjadi magnet kuat bagi wisatawan,” jelasnya.

Ishak menguraikan lima alasan kuat mengapa Festival GDBT layak digelar, pertama, Legenda Gunung Daik yang sudah mendunia. Kedua, Minat tracking atau pendakian Gunung Daik yang semakin tinggi. Ketiga, Cerita rakyat patahnya Gunung Daik yang telah populer di media sosial. Keempat, Fungsi hutan lindung Gunung Daik sebagai “paru-paru” kehidupan, dan Kelima, Ketersediaan fasilitas pendukung di kawasan Damnah, seperti Replika Istana Damnah, Dataran Sultan Abdurrahman Syah, Museum Linggam Cahaya, Balai Adat Melayu, dan Rumah Tenun.

Dalam konsep yang ditawarkan, Ishak menyarankan agar pelaksanaan awal festival memanfaatkan momen budaya yang sudah hidup di masyarakat, seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul Jama’, yang dapat dipusatkan di Replika Istana Damnah.

Selain itu, festival ini akan menampilkan berbagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Lingga yang telah diakui tingkat nasional. Pengunjung tidak hanya menonton, tetapi juga dapat terlibat langsung dalam pembuatan kerajinan, menikmati kuliner khas Melayu, serta menyaksikan prosesi adat perkawinan tradisional Melayu Daik Lingga di Balai Adat Melayu. Unikanya, biaya prosesi adat ini berasal dari masyarakat yang memiliki hajat, namun dikoordinir oleh Lembaga Adat Melayu (LAM) dan OPD terkait.

“Aspek konservasi juga harus menjadi bagian penting. Kita perlu mengundang kementerian terkait seperti KLHK, Kemenparekraf, dan Bappenas untuk melakukan FGD. Tujuannya bukan sekadar meramaikan, tetapi mencari strategi mendapatkan dana konservasi dan anggaran pembangunan ekowisata,” tambah Ishak.

Menutup pernyataannya, Ishak menekankan bahwa meskipun ide ini bermula dari modifikasi kegiatan tingkat kecamatan, skala potensi yang dimiliki terlalu besar jika hanya diserahkan kembali kepada pihak kecamatan. Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan komitmen, sinergitas, dan integrasi tugas fungsi antar-OPD.

“Kerja besar yang berpotensi menjadi event tahunan daerah membutuhkan koordinasi yang kuat. Bagaimana cara mengintegrasikan tugas fungsi OPD terkait agar event ini lancar dan sukses adalah hal yang sangat krusial ke depannya,” pungkas Ishak.

Dengan usulan ini, diharapkan Kabupaten Lingga dapat menempatkan diri sebagai destinasi wisata budaya dan ekowisata unggulan di Indonesia, dengan Gunung Daik sebagai ikon utamanya.

Puspan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini