
RASIO.CO, Batam – BP Batam dan Pemko Batam menyampaikan apresiasi tinggi atas suksesnya penyelenggaraan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Kepulauan Riau 2026.
Kehadiran insan pers yang kompeten dan berintegritas dinilai menjadi fondasi utama dalam memperkuat sinergi serta komunikasi publik demi mendorong percepatan pembangunan di Wilayah Batam dan Kepulauan Riau.
Apresiasi tersebut disampaikan oleh Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, saat menutup kegiatan UKW PWI Kepri di Balairung Sari BP Batam, Sabtu (19/9/2026).
Ariastuty hadir menyampaikan pesan langsung atas nama Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, dan Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra.
“Dua hari pelaksanaan kegiatan ini bukan sekadar agenda pengujian. Di dalamnya ada proses belajar, bertukar pengalaman, sekaligus menguji dan memperkuat profesionalisme insan pers. Kami mengucapkan selamat kepada 32 peserta yang dinyatakan kompeten,” ujar Ariastuty.

Pers Sebagai Mitra Strategis Pemerintah
Dalam kesempatan tersebut, Ariastuty menegaskan posisi pers sebagai mitra strategis pemerintah, baik BP Batam maupun Pemko Batam.
Menurutnya, hubungan yang terbangun antara pemerintah dan media melampaui batas kerja sama publikasi biasa, melainkan didasari oleh komunikasi yang terbuka dan saling mendukung.
“Kami menganggap teman-teman pers ini merupakan mitra strategis, terutama bagi kami di pemerintahan. Hubungan media dengan pemerintah itu spesial, di atas hubungan kerja sama biasa. Kuncinya adalah komunikasi yang baik,” tegasnya.
Ia menambahkan, dinamika dan keberanian wartawan Batam dalam menyajikan berita yang kritis serta kreatif justru dipandang sebagai dorongan positif bagi pemerintah untuk bertindak lebih cermat dan responsif terhadap kebutuhan publik.
“Teman-teman media di Batam ini sosok yang unik dan sangat kreatif. Oleh karena itu, BP Batam selalu membuka ruang komunikasi 24 jam. Kebutuhan terhadap pers tidak hanya untuk media lokal, tapi juga media nasional dan internasional,” kata Ariastuty.
Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Provinsi Kepulauan Riau 2026 menegaskan satu hal penting, menjadi wartawan kompeten bukan akhir dari proses belajar.
Dari 36 wartawan yang mengikuti ujian selama dua hari, 32 dinyatakan kompeten, sementara empat peserta lainnya mendapat kesempatan mengulang enam bulan mendatang.
UKW PWI Kepri digelar pada 18–19 September 2026 di Balairung Sari BP Batam. Sebanyak 36 peserta mengikuti ujian yang terbagi dalam tiga jenjang kompetensi, yakni 15 peserta jenjang Muda, 14 Madya, dan tujuh Utama.
Ketua Panitia UKW PWI Kepri, Hery Sembiring, mengatakan dari seluruh peserta, 32 wartawan dinyatakan kompeten. Sementara empat peserta lainnya belum dinyatakan kompeten dan masih memiliki kesempatan untuk kembali mengikuti UKW setelah enam bulan.
Direktur UKW PWI, Aat Surya Safaat, merinci, dari 15 peserta jenjang Muda, sebanyak 13 dinyatakan kompeten. Pada jenjang Madya, 13 dari 14 peserta dinyatakan kompeten. Sedangkan jenjang Utama, enam dari tujuh peserta dinyatakan kompeten.
“Jadi total dari 36 yang ikut, itu 32 yang kompeten. Tapi bukan karena tidak lulus, akan tetapi tidak kompeten. Enam bulan ke depan itu bisa ikut lagi,” kata Aat saat penutupan UKW PWI Kepri, Sabtu (19/9/2026).
Aat menyebut jumlah wartawan yang telah dinyatakan kompeten melalui UKW PWI di seluruh Indonesia kini mencapai 21.023 insan pers.
Menurutnya, hasil UKW bukan semata-mata menjadi ukuran akhir perjalanan seorang wartawan. Justru setelah dinyatakan kompeten, wartawan dituntut terus mengasah kemampuan karena proses belajar dalam profesi jurnalistik tidak pernah berhenti.
“Yang sudah kompeten jangan merasa menang, karena belajar itu tidak ada tamatnya. Prinsipnya kita harus terus belajar,” ujar Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat periode 2025–2030, Atal S. Depari, dalam acara penutupan.
Atal juga menyinggung tingginya persentase peserta yang dinyatakan kompeten dalam UKW PWI Kepri kali ini. Dari 36 peserta, hanya empat yang belum dinyatakan kompeten.
“Saya senang karena yang belum kompeten sedikit sekali. Biasanya bisa separuh, bisa seperempat, banyak yang tidak lulus. Jarang sekali persentasenya sekecil ini,” katanya.
Dengan nada berseloroh, Atal mengatakan peserta yang belum kompeten kemungkinan hanya kurang berdoa sebelum mengikuti ujian.
“Mungkin kurang berdoa. Bukan kemampuan jurnalismenya yang kurang, karena tidak berdoa. Jadi mohon lain kali kalau mengikuti uji kompetensi harus disematkan dengan doa,” ujarnya.
Redaksi@www.rasio.co //

