Pelabuhan Rakyat Jembatan 6 Sarang Penyeludupan

0
47

RASIO.CO,  Batam – Pelabuhan Rakyat(pelra) diduga menjelang Tugu Titik Nol Barelang Batam, lebih dikenal pelra Akau diduga terus dimanfaatkan mafia menjadi sarang penyeludupan barang-barang antar pulau maupun provinsi.

Pantauan lapangan, Pelabuhan Pelra tersebut yang diperuntukan bagi para nelayan untuk membongkar hasil laut berupa ikan serta udang hasil tangkapan dibawa oleh kapal kayu alias pompong, berubah angkut, beras, gula l, bawang merah dan komiditi ilegal lainnya dari batam yang merupakan daerah FTZ.
Ironisnya, Para mafia penyeludup mengunakan pelabuhan rakyat tersebut dan diduga dibekingi oknum aparat nakal.

“Kegiatan pembongkaran beras, gula dan lainnya sudah berlangsung lama dipelabuhan ini,” ingkap sumber dilokasi.

Lanjutnya, Perhatikan saja kalau ada mobil box masuk ke arah pelabuhan Akau dan ada mobil pribadi yang kawal. Itu diduga oknum aparat,” jelasnya.

Ia juga menyebut nama-nama inisial yang diduga terlibat sebagai pemilik dan pengendali lapangan, diantaranya MO, LO, AX, dan AC sebagai pengurus lapangan di Batam.

Aktivitas penyelundupan ini dinilai merugikan negara hingga miliaran rupiah serta merusak iklim usaha yang sehat di Batam. Padahal DJBC dan aparat penegak hukum telah gencar melakukan “Operasi Gurita” untuk memberantas sindikat barang ilegal.

Berdasarkan UU Nomor 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan, pelaku penyelundupan terancam pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda maksimal Rp5 miliar, serta penyitaan barang bukti dan sarana angkut.

Kepala Bidang Bimbingan Kepatuhan dan Layanan Informasi (BKLI) Bea Cukai Batam Setiawan Rosyidi mengatakan, Memperketat pengawasan lalulintas barang masuk dan keluar di perairan Batam.

“kami juga melakukan operasi laut bersama BC Kepri yg mempunyai armada laut besar utk melakukan pengawasan di pintu keluar dan masuk. Contohnya kemarin kita lakukan penindakan 1,5 juta batang rokok ilegal di kapal MV Ocean Porter.”kata Setiawan Rosyidi melaui sambungan selularnya kemarin.

Kata dia, Pengawasan kita lakukan berdasarkan manajemen resiko,  Dengan besarnya wilayah FTZ Batam kami melakukan analisis dari berbagai sumber
salah satunya informasi dari masyarakat.

“Tidak itu saja kami juga melakukan sinergi dengan APH lain seperti TNI, Polri dan Pemkot.” Tegas Setiawan Rosyidi.

Redaksi@www.rasio.co //

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini