34 WN China Diamankan Usai Insiden Penyerangan TNI di Kalbar

0
241
Sebanyak 34 WN China diamankan Imigrasi Ketapang usai insiden penyerangan terhadap warga sipil dan anggota TNI di Tumbang Titi, Kalimantan Barat. Pemeriksaan keimigrasian masih berlangsung. (Foto/Ist)

RASIO.CO, Jakarta – Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Ketapang mengamankan sebanyak 34 warga negara asing (WNA) asal China menyusul insiden penyerangan terhadap warga sipil dan lima anggota TNI di Kecamatan Tumbang Titi, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Insiden tersebut melibatkan 15 WN China yang diduga melakukan penyerangan di sekitar area perusahaan. Kepala Seksi Teknologi Informasi dan Komunikasi Keimigrasian Kantor Imigrasi Ketapang, Ida Bagus Putu Widia Kusuma, membenarkan pengamanan terhadap puluhan WNA tersebut.

“Betul, datanya valid,” ujar Ida Bagus Putu Widia Kusuma seperti dikutip Detik, Selasa (16/12).

Ia menjelaskan, hingga saat ini ke-34 WN China tersebut masih menjalani pemeriksaan terkait keimigrasian. Selama proses pemeriksaan berlangsung, para WNA tersebut diinapkan di shelter Imigrasi Ketapang.

“Kita masih dalam rangka pemeriksaan. Belum diperiksa juga dari pihak penjamin (sponsor). Info selanjutnya akan kita sampaikan,” kata pria yang akrab disapa Gustu itu.

Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, dua dari 34 WN China yang dievakuasi dari PT IMMI diketahui telah melakukan perpanjangan izin tinggal terbatas (KITAS), yakni Mo Mian dan Li Decai. Sementara satu WN China lainnya, Wang Xiaoping, dilaporkan dalam kondisi sakit.

Sebelumnya, Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XII/Tanjungpura, Kolonel Inf Yusub Dody Sandra, menyampaikan bahwa insiden penyerangan terjadi pada Minggu (14/12) di PT SRM saat sedang berlangsung Latihan Dalam Satuan oleh personel TNI.

Menurut Yusub, kejadian bermula ketika anggota TNI yang tengah melaksanakan latihan menerima informasi dari pihak keamanan terkait keberadaan sebuah drone yang terbang di sekitar area latihan.

“Selanjutnya anggota melakukan pengejaran serta mendatangi lokasi orang yang mengoperasikan drone, ternyata drone tersebut dioperasionalkan 4 orang WNA asal Beijing,” kata Yusub, Selasa (16/12).

Ia menjelaskan, saat anggota TNI meminta keterangan kepada empat WNA tersebut terkait alasan penerbangan drone, secara tiba-tiba muncul 11 WNA lainnya yang langsung melakukan penyerangan. Para pelaku disebut menggunakan senjata tajam, airsoft gun, serta alat setrum.

Yusub menuturkan, karena kondisi yang tidak seimbang, anggota TNI memilih kembali ke area perusahaan guna menghindari kemungkinan terburuk. Ia memastikan tidak terdapat korban jiwa maupun luka dari pihak TNI dalam insiden tersebut.

“Motif penyerangan dan penerbangan drone ini masih didalami. Kerugian materiil akibat penyerangan itu berupa kerusakan berat pada satu unit mobil perusahaan jenis Hilux dan satu unit sepeda motor Vario milik karyawan PT SRM,” ujarnya.

Sementara itu, Chief Security PT SRM, Imran Kurniawan, menjelaskan bahwa peristiwa bermula sekitar pukul 15.30 WIB saat anggota pengamanan sipil PT SRM sedang melaksanakan tugas jaga. Pada saat itu terlihat aktivitas penerbangan moda nirawak atau drone di sekitar area perusahaan yang dilakukan oleh WN China.

Sekitar pukul 15.40 WIB, atau sekitar 300 meter dari pintu masuk PT SRM, anggota pengamanan perusahaan bersama anggota TNI mendatangi empat WNA yang menerbangkan drone tersebut.

“Saat anggota pengamanan kami dan anggota TNI turun dari kendaraan, tiba-tiba datang sebelas WN China lainnya. Mereka membawa empat bilah senjata tajam, airsoft gun, serta alat setrum,” kata Imran.

Hingga kini, pihak berwenang masih mendalami motif penerbangan drone dan penyerangan tersebut, sementara pemeriksaan keimigrasian terhadap 34 WN China terus berlangsung.

AD

Print Friendly, PDF & Email





TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini