

RASIO.CO, Jakarta – Indonesia harus fokus membenahi lima pilar kebijakan publik jika ingin mencapai target sebagai negara maju. Kebijakan tersebut berkaitan dengan produktivias bisnis hingga pengembangan sumber daya manusia.
“Ambisi Indonesia adalah jadi negara maju. Untuk mencapai tujuan, negara harus memastikan masyarakat kelas menengah bertumbuh dan kesejahteraan warga meningkat. Ada lima fokus yang harus dikejar,” ujar Country Director Bank Dunia di Indonesia, Rodrigo A. Chaves, dalam diskusi Indonesia Economic Quarterly di kawasan Sudirman, Jakarta, Senin (01/07).
Mengutip Tempo.co, kebijakan publik pertama yang mesti disoroti menurut Chaves adalah kesenjangan kemampuan sumber daya manusia yang menjadi modal utama pertumbuhan. Menurutnya, gap kemampuan SDM di Indonesia seharusnya dipersempit sehingga secara merata generasi mendatang dapat menjadi pekerja yang mumpuni.
Kedua, Indonesia perlu menutup kesenjangan di sektor infrastruktur. Chaves mengakui pengembangan infrastruktur di Tanah Air dalam 5 tahun terakhir terus digeber. Namun, berdasarkan fakta, kesenjangan infrastruktur masih mencapai US$ 5 triliun.
“Ini melebihi rata-rata di 31 negara berkembang lainnya,” ucapnya.

Ketiga, Indonesia mesti meningkatkan iklim bisnis dengan menggenjot modal asing dan mengimpor penanaman modal asing atau PMA. Adapun pilar keempat, Indonesia disarankan menjaga aset nasionalnya dengan baik.
“Terakhir, Indonesia dapat mengelola pajaknya lebih efektif,” kata Chaves.
Di tempat yang sama, Lead Economist Bank Dunia Indonesia, Frederico Gil Sander memuji pertumbuhan ekonomi yang cukup stabil. Menurut catatan Bank Dunia, pada 2018, pertumbuhan investasi Indonesia cukup kuat.
“Ada penguatan investasi di bidang infrastruktur, pertambangan, dan alat berat,” ujarnya.
Adapun pada kuartal pertama 2019, belanja ekonomi ditopang oleh belanja konsumsi yang bermuasal dari partai politik. Belanja konsumsi meningkat lantaran adanya kebutuhan Pemilu dari partai.
“Jadi pertumbuhan konsumsi bukan cuma dari rumah tangga, tapi juga partai,” ujar Sander.
***
