Beacukai Tangkap Kapal Penyeludup Mikol di Sengkuang Batam

0
351

Ironisnya, Para penyeludup berusaha melakukan perlawanan dengan berusaha menabrak kapal Beacukai dan akhirnya kapal kandas serra ditemukan muatan kapal minuman beralkohol ilegal sebanyak 8.784 botol.

RASIO.CO, Batam – Jajaran Beacukai Batam bersama Patroli Lantamal IV berhasil gagalkan penyeludupan minuman berarkohol(mikol) ilegal menggunakan kapal kayu tanpa nama di perairan Sengkuang, Batam. Kamis(20/10) malam.

Estimasi nilai barang yang berada dalam kapal  tersebut sebesar Rp4,38 miliar dengan taksiran kerugian negara sebesar Rp9 miliar.

Kepala Bidang Bimbingan Kepatuhan dan Layanan Informasi, M. Rizki Baidillah menjelaskan bahwa  kronologi kejadian ini bermula ketika Satgas Patroli Laut Bea Cukai Batam mendapatkan informasi dari
Masyarakat tentang adanya kapal kayu yang diduga bermuatan minuman beralkohol ilegal yang akan  masuk ke peraian Indonesia.

Kemudian Satgas Patroli Laut Gabungan melakukan pengejaran sampai di
perairan Tanjung Sengkuang.

“Pada saat pengejaran dan proses penghentian, kapal tersebut dengan sengaja menabrak kapal patroli Bea
Cukai sehingga lambung kapal patroli Bea Cukai rusak.

Selain itu ABK kapal kayu tidak bersikap kooperatif.  Pada saat proses tersebut Satgas Patroli Bea Cukai berkoordinasi dan berkolaborsi dengan Tim Patroli
Lantamal IV Batam.

Tim Patroli Lantamal IV Batam turut serta membantu Satgas Patroli Bea Cukai dalam
proses pengejaran dan penghentian kapal target,” tambahnya.

Selanjutnya kapal tersebut melaju dengan kecepatan tinggi menuju perairan dangkal di sekitar perairan  Sengkuang sehingga kapal tersebut kandas.

Pada saat kapal tersebut kandas ABK melakukan upaya  melarikan diri dengan cara melompat ke laut. Pada saat bersamaan, seluruh Satgas Patroli berusaha untuk  melakukan kegiatan SAR.

Namun, tidak lama dari kejadian tersebut, berdasarkan pantauan petugas terlihat
dua kapal pancung membantu ABK untuk melarikan diri.

“Dengan koordinasi dan kolaborasi Satgas patroli laut Bea Cukai serta dukungan dari Lantamal IV Batam  mengedepankan keselamatan petugas, kapal tersebut berhasil ditangkap oleh petugas.

Pada saat  dilakukan pemeriksaan, tidak ditemukan dokumen kelengkapan kapal dan didapati kondisi kapal dalam
keadaan bocor serta papan nama kapal telah dibuang oleh ABK kapal tersebut,” pungkas Rizki.

Pelaku diduga melanggar Pasal 102 Undang-undang Kepabenan dengan sanksi pidana karena melakukan  penyelundupan di bidang impor dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan pidana penjara  paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)
dan paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

Dan/atau Pasal 50 Undang-undang Cukai  dengan sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan pidana  denda paling sedikit 2 (dua) kali nilai cukai dan paling banyak 10 (sepuluh) kali nilai cukai yang seharusnya  dibayar.

Luasnya wilayah perairan Indonesia membutuhkan extra effort dan sinergi antar instansi dalam melakukan
pengawasan.

Bea Cukai terus berupaya melakukan pengamanan wilayah perairan Indonesia dengan  melakukan koordinasi bersama Aparat Penegak Hukum lainnya untuk meningkatkan efektivitas pengawasan.

Pengawasan peredaran barang ilegal di Indonesia merupakan tanggung jawab bersama sehingga dibutuhkan sinergi dan kolaborasi antar instansi Aparat Penegak Hukum dalam melakukan pengawasan di  wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Adi@www.rasio.co //







TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini