
Rasio.co, Tanjungpinang – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raja Ahmad Tabib Provinsi Kepri (Kepulauan Riau) di Tanjungpinang terus berinovasi demi kenyamanan pasien maupun keluarga pasien. Rumah sakit plat merah itu kini memberikan kemudahan dalam mendaftarkan pasiennya.
Pasien tidak perlu antre lagi untuk mendapatkan nomor antrean, cukup melalui aplikasi WhatsApp (WA) yang ada di ponsel Anda. Layanan ini dihadirkan untuk memberi kemudahan bagi masyarakat.
Layanan melalui WhatsApp sudah bisa dilakukan masyarakat yang hendak berobat ke RSUD Raja Ahmad Tabib Kepri sejak April 2018 lalu.
Caranya, bagi pasien yang sudah pernah berobat, harus registrasi nomor ponselnya terlebih dahulu ke WhatsApp RSUD Raja Ahmad Tabib Kepri. Bagi yang belum pernah berobat, belum dapat dilayani via WhatsApp.
Selanjutnya, khusus bagi pasien BPJS langsung konfirmasi ke loket pendaftaran untuk verifikasi berkas dengan membawa surat rujukan faskes.
Caranya pun sangat mudah. Masyarakat tinggal ketik daftar/nama pasien/nomor RM/poliklinik tujuan/jaminan (pribadi/asuransi). Contoh : daftar/Syafrizal/06-38-92/poliklinik jantung/BPJS.
Inovasi layanan ini merupakan jawaban masyarakat terkait pelayanan selama ini. Pihak manajemen RSUD Raja Ahmad Tabib mohon maaf jika ada masyarakat yang merasa tidak nyaman dalam proses pendaftaran karena harus mengantre.
Berdasar data RSU Raja Ahmad Tabib, pada awal tahun 2014, pengunjung pasien yang berobat ke poliklinik saat itu masih sekitar 50 orang pasien setiap harinya. Kemudian terjadi peningkatan antara 100 hingga 150 persen per hari pada awal tahun 2015.
Kemudian di tahun 2016, jumlah pasien meningkat lagi mulai 200 sampai 300 pasien setiap hari. Saat itu mesin antrean pendaftaran dibuka oleh sekuriti pada malam hari untuk berobat esok hari.
Akhirnya masyarakat mengeluh karena harus antri dari pukul 3 dini hari untuk mendapatkan nomor antrian. Untuk menjawab keluhan tersebut, manajemen RSUD Raja Ahmad Tabib lantas membuat kebijakan baru.
RSUD Raja Ahmad Tabib membuka mesin antrean sejak pukul 06.00 WIB. Meski demikian, ternyata hal itu belum mampu menjawab masalah. Masyarakat masih memadati antrean karena membludaknya pasien.
Manajemen pun kembali melakukan terobosan, yakni memberikan pelayanan pendaftaran melalui aplikasi WhatsApp. Pada tahun 2018, jumlah pasien semakin meningkat antara 400 sampai 500 pasien setiap harinya.
*****

