RASIO.CO, Batam – Berdasarkan kajian Ekonomi dan Keuangan Regional yang dilakukan Bank Indonesia(BI) wilayah Kepri, perekonomian Kepri pada kwartal III tahun 2017 tumbuh membaik 2,41% dibandingkan kwartal sebelumnya hanya 1,04% (yoy).
Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kepri, Gusti Rizal Eka Putra, Pertumbuhan ekonomi Kepri sebesar 2,41% (Yoy), lebih tinggi dibanding pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 1,04 (yoy). Pertumbuhan tersebut juga lebih rendah dibanding nasional yang mencatatkan pertumbuhan ekonomi 5,06 (yoy).
Kata Dia, Dari sisi Permintaan., pertumbuhan ekonomi triwulan III dipengaruhi oleh perbaikan kinerja investasi dan konsumsi rumah tangga. dimana kerja investasi meningkat 9,03%, terutama pada investasi bangunan baik oleh pemerintah ataupun swasta.
Adapun realisasi investasi non bagunan(antara lain pembelian berupa mesin dan peralatan industri) mengalami kontraksi. Net ekspor masih mencatatkan kontraksi terutama bersumber dari penurunan eksport antar provinsi.
Selain itu, imbuhnya, konsumsi pemerintah mengalami pertumbuhan 0,04%(yoy) lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya yang mengalami kotraksi. Sementaraitu, konsumsi rumah tangga tumbuh menguat sebesar 7,20%(yoy) ditopang oleh peningkatan jumlah kunjungan wisman dan penurunan tingkat pengangguran agustus 2017 dibandingkan priode yang sama tahun 2016,” ungkapnya sesuai rilis diterima rasio.co. Rabu(15/11/2017).
Gusti menjelaskan, Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi bersumber dari perbaikan kinerja sektor industri penggolahan, kontruksi dan perdagangan. kinerja sektor Industri mengalami pertumbuhan 2,88%(yoy), pertumuhan ini terutama ditopang oleh pertumbuhan produksi CPO dan perahu, kapal dan struktur terapung lainnya, tercermin dari pertumbuhan ekspor komuditas-komoditas tersebut.
Sejalan realisasi investasi bangunan yang tumbuh, sektor kontruksi juga tumbuh 5,60% (yoy). sedangkan kiberja sektor pertambangan dan pengalian masih melanjutkan kontraksi dipengaruhi oleh harga minyak dunia yang masih pada level rendah. Sejalan kinerja konsumsi rumah tangga, sektor perdagangan tumbuh 7,11%(yoy), ditopang terjaganya konsumsi masyarakat pada triwulan laporan.
Tekanan Inflasi Kepri melemah pada triwulan III 2017, dipengaruhi dengan telah berlalunya perayaan hari besar keagamaan. inflasi triwulan III sebesar 3,78%(yoy), lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya dengan inflasi sebesar 4,73%(yoy).
Diketahui, lanjutnya, Kelompok Administered price, mencatat inflasi 8,88%(yoy), dengan andil terbesar dari tarif listrik. kenaikan tarif listrik merupakan dampak kebijakan PT PLN yang melakukan penyesuaian tarif pada tahun 2017. Komoditas inti mencatatkan inflasi 2,10%(yoy), terutama pada sejumlah komoditas seperti tarif pulsa ponsel dan sekolah dasar.
Sementara itu, tingkat inflasi volatile food sebesar 3,08%(yoy) dengan andil terbesar disumbang oleh bawang merah. bawang merah tercatat mengalami inflasi sebesar 84,56%(yoy). Memasuki Oktober 2017, Kepri mencatatkan inflasi 0,62%(mtm)atau secara tahunan terjadi inflasi 4,32%(yoy).
Secara total tahunan(januari-Oktober), inflasi Kepri sebesar 3,16%(ytd). Andil terbesar inflasi bersumber dari komoditas tarif listrik karena penyesuaian yang dilakukan oleh PT.PLN Batam(Bright).
Ditengah pertumbuhan ekonomi, kinerja perbankan Kepri(Bank Umum dan BPR) tetap kuat tercermin dari penguatan aset(lokasi bank) dan kredit(lokasi bank). Total kredit tumbuh 5,43%(yoy), dibanding pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 4,13%(yoy).
Pengusaha kredit khususnya pada kredit investasi, modal kerja dan konsumsi. Dana pihak ketiga(DPK) tumbuh melemah 6,87%(yoy) dibanding pertumbuhan triwulan sebelumya sebesar 7,60% (yoy).
Namun, Pelemahan DPK khususnyapada tabungan dan deposito sementara giro menunjukkan penguatan. Penurunan tabungan dan deposito mengindikasikan bahwa masyarakat sudah mulai melakukan konsumsi hal ini sejalan dengan pertumbuhank onsumsi rumah tangga
Adapun total aset menguat 9,96% (yoy) dibanding pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 6,93% (yoy). tekanan perlambatan ekonomi pada triwulan I dan triwulan II masih memberikan dampak pada NPL yang meningkat menjadi 3,81% pada triwulan III dari sebelumnya 3,15% pada triwulan II.
Meski meningkat, tingkat NPL tersebut masihpada batas aman sebesar 5%. Sementara itu, Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 80,89% meningkat dibanding triwulan sebelumnya sebesar 78,21%.
Sering dengan berlalunya perayaan hari besar keagamaan, transaksi tunai dan non tunai kembali normal. Total outflow Rp2.254 milyar, tumbuh 2,75% (yoy), demikian pula inflow R1.642 milyar, tumbuh 15,03% (yoy).
Secara total, Kepri mencatatkan net outflow Rp612 milyar. Transaksi kliring melambat pada triwulan III02017. Nominal transaksi kliring sebesar Rp3.674 milyar, menurun 27,54% (yoy) dengan jumlah warkat sebanyak 116.854 lembar. juga menurun 11,96% (yoy),” paparnya.
Gusti menambahkan, Perekonomian Kepri triwulan IV 2017 diperkirakan tumbuh pada kisaran 4,0-4,4% (yoy). Perkiraan pertumbuhan ekonomi tersebut ditopang peningkatan investasi bangunan, khususnya realisasi proyek infrastruktur pemerintah.
Kinerja industri Kepri khususnya CPO, dan elektronik berpotensi membaik sejalan dengan semakin pulihnya permintaan dunia, terutama dari Thiongkok, Eropa dan Amerika Serikat. Dengan perhitungan realisasi pertumbuhan ekonomi triwulan I,II dan III 2017, secara total 2017 pertumbuhan ekonomi Kepri diperkirakan melambat pda kisaran 2,2 – 2,6% (yoy).
Sedangkan laju inflasi pada triwulan IV 2017 diperkirakan meningkat, dipengaruhi oleh komoditas volatile food khususnya komoditas hasil laut serta administrasi price khususnya tarif angkutan udara.
Potensi kenaikan volatile food dipengaruhi faktor cuaca yaitu curah hujan cukup tinggi dan gelombang tinggi yang telah dirasakan menjelang akhir tahun, memicu kenaikan harga ikan segar dan sejumlah komoditas sayuran. Selain itu , maskapai angkutan udara diperkirakan akan menaikkan tarif menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Secara total tahunan, inflasi Kepri 2017 diperkirakan masih dalam kisaran target inflasi Nasional 4% + 1% (yoy).
APRI@www.rasio.co

