
RASIO.CO, Batam – Sosialisasi Empat Pilar MPR RI kembali digelar di Kota Batam, Minggu (14/12) oleh Paguyuban Betawi Jakarta–Batam. Acara berlangsung pukul 09.00 WIB di Restoran Golden Prawn, Bengkong Laut, Kecamatan Bengkong, dengan menghadirkan Ria Saptarika sebagai narasumber.

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 150 peserta yang terdiri dari tokoh masyarakat, pengurus paguyuban, dan warga Betawi yang menetap di Batam. Para peserta terlihat antusias mengikuti seluruh rangkaian acara sejak dibuka oleh panitia.
Dalam pemaparannya, Ria Saptarika mengangkat tema “Meningkatkan Pariwisata Daerah Melalui Optimalisasi Peran Paguyuban dalam Menampilkan Budaya Kedaerahan.” Menurutnya, komunitas dan paguyuban budaya memainkan peran penting dalam memperkaya identitas wisata suatu daerah. Ia menjelaskan bahwa Empat Pilar MPR — Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika — menjadi dasar penguatan nilai budaya dalam pembangunan sektor pariwisata.
“Budaya merupakan perekat bangsa. Ketika kita tampilkan secara positif, maka pariwisata daerah akan tumbuh dengan sendirinya,” ujar Ria.
Ria mencontohkan bagaimana kekayaan budaya Betawi dapat menjadi daya tarik wisata, tidak hanya di Jakarta tetapi juga di Batam sebagai kota dengan populasi multietnis. Paguyuban, lanjutnya, dapat menjadi motor penggerak dalam menghidupkan seni tradisi, busana, kuliner, hingga kesenian khas Betawi.
Menurutnya, Pancasila memberi arah dalam memelihara keragaman, sementara prinsip Bhinneka Tunggal Ika menjadi dasar untuk menjadikan perbedaan budaya sebagai kekuatan dalam promosi pariwisata.
“Keragaman budaya di Batam adalah aset besar jika dikemas dengan baik,” tambahnya.
Ria juga menekankan bahwa peran paguyuban tidak hanya sebatas menjaga tradisi, tetapi juga mendorong kolaborasi dengan pelaku pariwisata, pemerintah daerah, dan komunitas lainnya. Dengan begitu, potensi budaya lokal dapat tampil sebagai atraksi unggulan daerah.
Para peserta tampak aktif selama sesi tanya jawab. Mereka menanyakan berbagai hal terkait strategi pengembangan budaya dalam kegiatan wisata, peluang kerja sama, serta bagaimana memanfaatkan empat pilar untuk memperkuat peran komunitas.
Panitia juga menyelenggarakan kuis singkat berisi pertanyaan seputar materi empat pilar dan budaya Betawi. Suasana ruangan pun menjadi lebih hidup saat peserta berebut menjawab untuk memperoleh hadiah hiburan.
Dalam kesempatan itu, Ria mengingatkan pentingnya menjaga identitas budaya tanpa menutup diri terhadap modernitas. Menurutnya, pariwisata yang berkembang adalah pariwisata yang mampu menampilkan keunikan budaya dengan pendekatan kekinian. Ia mendorong paguyuban untuk aktif mengadakan pertunjukan seni, festival makanan, hingga kegiatan edukasi budaya yang dapat menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Batam punya potensi besar. Tinggal bagaimana komunitasnya memoles budaya yang dimiliki,” katanya.
Ketua Paguyuban Betawi Jakarta–Batam cang Sarifudin, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menyebut sosialisasi ini memberikan pemahaman baru bagi anggota paguyuban tentang pentingnya budaya sebagai bagian dari pengamalan empat pilar.
Menjelang penutupan acara, panitia menyerahkan bahan materi sosialisasi secara simbolis kepada perwakilan peserta. Pembagian ini sekaligus menjadi rangkaian akhir dari kegiatan edukasi tersebut.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama antara narasumber, panitia, dan seluruh peserta yang hadir. Senyum para peserta menggambarkan antusiasme mereka untuk terus menghidupkan budaya Betawi di Batam.
Dengan sosialisasi ini, diharapkan Paguyuban Betawi Jakarta–Batam semakin mampu menjadi mitra strategis dalam pengembangan pariwisata daerah melalui pelestarian dan promosi budaya kedaerahan sesuai nilai-nilai Empat Pilar MPR RI.
YD

