Singkep Berpotensi Jadi Destinasi Wisata Heritage Bekas Tambang Timah

0
27

RASIO.CO, Lingga – Sebagai bekas salah satu pusat pertambangan timah terbesar di Indonesia, Pulau Singkep, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata heritage atau warisan sejarah.

Pengembangan wisata berbasis sejarah pertambangan tersebut dinilai tidak hanya dapat menjadi sarana untuk memperkuat identitas daerah, tetapi juga sebagai ruang edukasi dan nostalgia. Keberadaannya diharapkan dapat berjalan beriringan dengan arah pembangunan Singkep sebagai kawasan industri dan perdagangan di Kabupaten Lingga.

Tokoh masyarakat Lingga, Muhammad Ishak, mengatakan potensi wisata heritage di Singkep sangat kuat karena didukung oleh berbagai peninggalan fisik, kisah sejarah, serta jejak kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat yang berkaitan erat dengan aktivitas pertambangan timah.

Menurutnya, potensi tersebut semakin lengkap karena Singkep telah memiliki berbagai fasilitas pendukung, seperti hotel, kuliner, transportasi lokal, serta objek wisata alam.

“Kalau Kabupaten Sawahlunto dan Belitung yang notabene juga merupakan bekas daerah tambang mampu menyulap daerahnya menjadi destinasi wisata yang menarik, Singkep, Kabupaten Lingga, pun kenapa tidak,” kata Ishak, kepada media ini. Kamis (10/9/2026).

Ishak menjelaskan, Lingga memiliki sejarah panjang yang tidak hanya berkaitan dengan Kerajaan Melayu, tetapi juga dengan pertambangan timah yang berlangsung hampir dua abad.

“Selain lebih dari satu abad sebagai pusat Kerajaan Melayu, Lingga juga hampir dua abad menjadi pusat tambang timah nomor dua di negeri ini,” ungkapnya.

Ishak menilai sejarah Daik Lingga sebagai pusat Kerajaan Melayu saja telah meninggalkan begitu banyak warisan budaya yang hingga kini terus digali, dikaji, dipelajari dan dilestarikan.

“Apalagi Singkep yang hampir dua abad pernah menjadi salah satu pusat pertambangan. Tentu banyak sekali rentetan sejarah, cerita dan bukti yang menjadi fakta tentang besarnya pengaruh pertambangan terhadap ekonomi, sosial dan budaya masyarakat, hingga berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada masanya,” ujarnya.

Menurut Ishak, semangat tersebut pula yang menjadi salah satu alasan didirikannya Museum Linggam Cahaya (MLC) di Daik. Museum yang telah dirancang sebelum Kabupaten Lingga terbentuk itu, dalam perkembangannya, kini menjadi salah satu destinasi wisata budaya dan edukasi utama di Kabupaten Lingga.

Karena itu, Ishak berharap semangat serupa dapat diterapkan melalui Museum Timah Singkep (MTS) di Dabo.

“Meskipun kebijakan pembangunan Pemerintah Kabupaten Lingga di Pulau Singkep lebih diarahkan kepada pembangunan industri dan perdagangan, warisan sejarah dan budaya dari daerah bekas penghasil timah nomor dua di negeri ini yang dieksploitasi hampir dua abad dan pernah berkontribusi terhadap ekonomi nasional jangan sekali-kali diabaikan,” paparnya.

Ishak mengatakan, aktivitas pertambangan timah di Singkep memang telah berakhir pada 1985. Namun, jasa pertambangan tersebut terhadap kehidupan masyarakat, perekonomian daerah hingga perekonomian nasional pada masa lalu merupakan bagian penting dari sejarah yang patut dikenang.

Menurut Ishak, keberadaan MTS yang didirikan di Dabo pada 2019 bukan semata-mata untuk bernostalgia dengan masa kejayaan atau booming pertambangan timah di Singkep. Lebih dari itu, museum tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi pusat informasi dan edukasi sejarah sekaligus menjadi magnet wisata yang mampu mengundang kembali orang-orang yang pernah memiliki hubungan dengan aktivitas pertambangan timah Singkep.

“MTS diharapkan bukan sekadar tempat bernostalgia tentang sejarah pernah booming-nya tambang timah di Singkep beserta dampak positifnya pada masa lalu, tetapi juga menjadi pusat informasi edukasi sekaligus magnet awal untuk menarik kembali siapa saja yang pernah merasakan, baik sebagai mantan pengelola, karyawan, buruh maupun pihak lainnya, agar berhasrat ‘balek kampung’,” tuturnya.

Ishak menilai, meskipun banyak orang yang pernah bersentuhan langsung dengan pertambangan timah Singkep kini telah berpindah tempat, memasuki usia lanjut atau bahkan telah meninggal dunia, jejak sejarah tersebut masih memiliki hubungan dengan keluarga dan keturunannya.

“Keluarga, keturunan dan kerabatnya diyakini banyak sekali yang tinggal di pelosok Nusantara, bahkan di luar negeri, seperti Belanda. Sebab dalam sejarahnya, pihak Belanda pernah mengelola tambang timah tersebut sebelum kemudian diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia,” ujarnya.

Ishak berharap MTS ke depan dapat dikembangkan menjadi museum yang lebih representatif, bukan hanya menyimpan benda-benda bersejarah, tetapi mampu bercerita mengenai perjalanan panjang pertambangan timah di Pulau Singkep.

“Museum yang hidup dan mampu menghadirkan kembali berbagai cerita, peninggalan, serta dampak pertambangan terhadap kehidupan masyarakat akan memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan,” ujarnya.

Ishak juga menyampaikan, apabila didukung dengan fasilitas yang memadai untuk kenyamanan dan kebutuhan pengunjung, MTS dinilai dapat menjadi salah satu titik kumpul dalam pengembangan wisata heritage Singkep.

“Kalau MTS sudah sedikit representatif, atau paling tidak mendekati sebagaimana layaknya sebuah museum yang hidup dan dapat bercerita tentang segala rentetan sejarah dan lika-liku tambang timah di Pulau Singkep beserta dampak positifnya, kemudian dilengkapi fasilitas pendukung untuk kenyamanan dan kebutuhan pengunjung maupun wisatawan, tentu MTS sudah dapat dijadikan sebagai titik kumpul,” pungkasnya.

Puspan







TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini