
RASIO.CO, Jakarta — Pemerintah menyampaikan keprihatinan dan membuka suara atas tragedi seorang siswa Sekolah Dasar (SD) kelas IV di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang ditemukan meninggal dunia tergantung di sebuah dahan pohon cengkeh, Kamis (29/1) pekan lalu.
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar menilai peristiwa tersebut harus menjadi pengingat sekaligus cambuk bagi semua pihak untuk lebih peka terhadap kondisi sosial masyarakat.
“Ya, ini harus menjadi cambuk,” ujar Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin di kawasan Gambir, Jakarta, Selasa (3/2) malam, dikutip dari Antara.
Cak Imin juga menekankan pentingnya keterbukaan sosial agar masyarakat, khususnya kelompok rentan, merasa mudah untuk meminta bantuan ketika menghadapi kesulitan.
“Kita juga harus cari akar masalah frustrasi sosial itu sudah sejauh mana,” katanya.
Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyatakan tragedi tersebut menjadi atensi bersama pemerintah. Ia menyampaikan duka cita dan keprihatinan mendalam atas peristiwa yang menimpa korban dan keluarganya.
“Ya, tentu kita prihatin dulu ya, turut berduka. Yang kedua, ya tentu ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama,” ujar Gus Ipul di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (3/2).
Gus Ipul menyampaikan bahwa Kementerian Sosial akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk memperkuat pendampingan sosial bagi keluarga korban dan masyarakat sekitar.
Pada saat yang sama, ia menyoroti pentingnya penguatan data sosial agar negara dapat menjangkau keluarga-keluarga yang membutuhkan perlindungan, rehabilitasi, dan pemberdayaan secara tepat.
“Bagaimana data ini kita sajikan sebaik mungkin, sehingga kita bisa menjangkau seluruh keluarga-keluarga yang memang memerlukan perlindungan, memerlukan rehabilitasi, dan memerlukan pemberdayaan,” ujarnya.
Dari sisi pendidikan, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyatakan pihaknya akan melakukan penyelidikan terkait peristiwa tersebut.
“Nanti coba kita selidiki ya. Saya belum tahu informasinya,” kata Abdul Mu’ti.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban ditemukan meninggal dunia di sebuah dahan pohon cengkeh yang berada tidak jauh dari pondok tempat ia tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun.
Dalam proses penyelidikan di tempat kejadian perkara (TKP), petugas kepolisian menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang diduga ditujukan kepada ibunda korban. Surat tersebut ditulis menggunakan bahasa Ngada.
Dalam surat itu, korban meminta ibundanya untuk merelakan kepergiannya lebih dulu, serta meminta agar sang ibu tidak menangis, mencari, atau merindukannya. Pada bagian akhir surat, terdapat gambar menyerupai emoji dengan ekspresi wajah menangis.
Hasil pemeriksaan kepolisian mengungkapkan bahwa sebelum kejadian, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku tulis dan pena seharga Rp10.000. Namun, permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Ibunda korban, MGT (47), mengaku pada malam sebelum kejadian korban sempat menginap di rumahnya. Keesokan paginya, sekitar pukul 06.00, korban diantar kembali ke pondok neneknya menggunakan jasa ojek.
MGT juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat memberikan nasihat terakhir kepada korban agar tetap rajin bersekolah. Dari pemeriksaan kepolisian, diketahui kondisi ekonomi keluarga korban tergolong terbatas dan menghadapi berbagai kekurangan.
***

