
RASIO.CO, Batam – Badan Pengusahaan (BP) Batam mendorong investasi manufaktur bernilai tambah yang relevan dengan kebutuhan industri global di tengah perubahan geopolitik dan pergeseran rantai pasok.
Komitmen tersebut ditegaskan Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis, saat menghadiri pelepasan ekspor timah solder oleh PT Solder Tin Andalan Indonesia di Kawasan Industri Tunas Prima, Kamis (12/3).
Momentum tersebut hadir seiring penguatan ekonomi Batam. Pada Triwulan IV 2025, pertumbuhan ekonomi Batam tercatat mencapai 7,49 persen secara year-on-year, menunjukkan daya tahan dan daya saing Batam sebagai kawasan industri dan investasi strategis di wilayah barat Indonesia.
Dalam sambutannya, Fary menegaskan bahwa Batam perlu mendorong investasi yang tidak hanya berhenti pada pembangunan fasilitas, tetapi juga berlanjut hingga tahap produksi, hilirisasi, dan ekspor.
“Di tengah perubahan geopolitik dan pergeseran rantai pasok global, Batam harus mampu memosisikan diri sebagai basis industri yang adaptif, efisien, dan siap ekspor. Momentum pertumbuhan ekonomi harus diubah menjadi ekspansi industri bernilai tambah yang nyata,” ujarnya.
Kegiatan tersebut ditandai dengan pelepasan pengiriman timah solder produksi Batam ke pasar India. Ekspor ini menjadi bukti bahwa investasi di Batam tidak hanya bersifat administratif, tetapi telah menghasilkan produk nyata yang mampu bersaing di pasar internasional.
Perusahaan yang melakukan ekspor, PT Solder Tin Andalan Indonesia atau STANIA, bergerak di sektor hilirisasi timah dan menjadi bagian dari penguatan industri bernilai tambah di Batam. Kehadirannya dinilai memperkuat struktur industri daerah sekaligus memperluas keterhubungan Batam dengan rantai pasok global, khususnya di sektor manufaktur dan elektronik.
Direktur STANIA, An Sadiano, menyampaikan apresiasi atas dukungan BP Batam dalam pengembangan industri hilir.
“Kami menyampaikan terima kasih atas dukungan BP Batam yang telah memberikan perhatian dan dorongan bagi pengembangan industri kami. Dukungan ini menjadi bagian penting dalam membangun iklim usaha yang kondusif,” ujarnya.
Bagi BP Batam, pelepasan ekspor ini bukan sekadar seremoni, melainkan indikator bahwa investasi hilirisasi mulai terkonversi menjadi produksi riil, nilai tambah, serta akses pasar global.
Keberadaan industri seperti STANIA juga memperkuat posisi Batam sebagai basis produksi yang kompetitif. Kedekatan geografis dengan Singapura, kematangan kawasan industri, serta konektivitas logistik menjadi keunggulan utama dalam menarik investor global.
Ke depan, BP Batam menilai proyek hilirisasi akan menjadi fondasi penting dalam meningkatkan daya saing daerah. Investasi yang mampu menghasilkan nilai tambah, memperluas ekspor, dan menciptakan aktivitas ekonomi riil dinilai menjadi kunci pertumbuhan Batam yang berkelanjutan.
YD

