Lestarikan Budaya Leluhur, Tradisi Mandi Safar Kembali Digelar di Desa Panggak Darat

0
40

RASIO.CO, Lingga – Tradisi Mandi Safar kembali digelar oleh masyarakat Desa Panggak Darat, Kegiatan yang merupakan bagian dari warisan budaya Melayu tersebut berlangsung khidmat di Lubuk Kemaruh atau kawasan Daerah Irigasi Panggak Darat, Kecamatan Lingga, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, pada Rabu (12/8/2026) pagi.

Pelaksanaan Mandi Safar tahun ini diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Panggak Darat sebagai upaya konkret untuk menjaga agar tradisi dan budaya Melayu tetap hidup di tengah masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi sarana pewarisan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus.

Kepala Desa Panggak Darat, Parmuzi, menyebutkan bahwa pelaksanaan Mandi Safar di Lubuk Kemaruh telah memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya secara berturut-turut. Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat kekurangan dalam rangkaian acara.

“Seandaianya di dalam acara ini ada yang kurang, kami memohon maaf kepada semuanya,” kata Parmuzi.

Bagi masyarakat Lingga, Mandi Safar bukan sekadar kegiatan tahunan yang rutin dilakukan setiap memasuki bulan Safar dalam kalender Hijriah. Lebih dari itu, tradisi ini telah mengakar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan diwariskan secara turun-temurun. Mandi Safar memiliki kedudukan penting dalam khazanah budaya Melayu di Kabupaten Lingga dan bahkan telah dinobatkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Provinsi Kepulauan Riau untuk Kabupaten Lingga pada 2018 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Sejarah mencatat, tradisi Mandi Safar diyakini telah berlangsung sejak masa akhir Kesultanan Riau-Lingga, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Abdulrahman Muazamsyah (1883–1911). Hingga kini, ritual mandi tersebut masih dipertahankan dengan makna sebagai bentuk ikhtiar untuk mengusir bala atau hal-hal buruk.

Pelestarian Mandi Safar juga dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya. Keberadaan tradisi yang masih hidup ini dapat menjadi ruang bagi wisatawan untuk mengenal lebih dekat kebudayaan Melayu di Lingga, sekaligus memperkuat identitas daerah tersebut sebagai “Negeri Bunda Tanah Melayu”.

Acara yang berlangsung pagi itu dihadiri oleh berbagai unsur, termasuk Kepala Desa Panggak Darat, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), perwakilan Dinas Kebudayaan, Babinsa, Lembaga Adat Melayu (LAM) Panggak Darat, tokoh masyarakat, serta mahasiswa KKN STAIN SAR Kepri.

Kehadiran beragam pihak tersebut menunjukkan bahwa pelestarian tradisi bukanlah tanggung jawab tunggal pemerintah desa, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat. Dengan terus digelar dan dikenalkan kepada generasi muda, Mandi Safar diharapkan tetap menjadi bagian vital dari kehidupan masyarakat Lingga dan warisan budaya yang tidak pernah pudar.








TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini