Tokoh Masyarakat Lingga Soroti Pariwisata, Akses Kebersihan hingga Desa Wisata Harus Diperkuat

0
37

RASIO.CO, Lingga – Tren positif kunjungan wisatawan ke Kabupaten Lingga dalam beberapa waktu terakhir dinilai harus menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi dan pembenahan sektor pariwisata secara menyeluruh.

Tokoh masyarakat Lingga, Muhammad Ishak, mengatakan peningkatan jumlah wisatawan patut disyukuri. Namun, di balik tren tersebut masih terdapat sejumlah persoalan yang perlu segera dibenahi agar kunjungan wisatawan tidak hanya meningkat dari sisi jumlah, tetapi juga berdampak terhadap perekonomian masyarakat dan daerah.

Menurut Ishak, evaluasi tidak cukup hanya melihat kekurangan infrastruktur dan fasilitas yang belum tersedia. Pemerintah juga perlu mendengar secara serius berbagai tanggapan, saran dan masukan dari wisatawan yang datang ke Lingga.

“Tujuan utama adalah agar tingkat kunjungan terus meningkat, jumlah yang berkunjung banyak, lama tinggal (long stay) lama dan ada manfaat kepada masyarakat dan daerah,” ujar Muhammad Ishak, Sabtu (5/9/2026).

Ishak menilai persoalan aksesibilitas masih menjadi salah satu tantangan utama pengembangan pariwisata Lingga.
Saat ini, akses laut reguler menuju Lingga masih mengandalkan rute Punggur Batam–Sei Tenam dan Tanjungpinang–Sei Tenam. Ia melihat Pelabuhan Cakang di Batam berpotensi menjadi alternatif akses baru menuju Lingga. Menurutnya, pemerintah daerah perlu menjajaki pembukaan trayek tersebut secara serius.

“Untuk mewujudkannya tentu Pemkab Lingga bersama DPRD harus berkoordinasi dan berkomunikasi secara intens dengan Pemko Batam, Pemprov Kepri dan Kementerian Perhubungan,” katanya.

Ishak menyebut jarak antara Sei Tenam dan Cakang relatif dekat, yakni sekitar 1,5 hingga 2 jam menggunakan speedboat.
Selama ini, akses melalui Cakang telah dimanfaatkan dalam kondisi tertentu, seperti membawa pasien dari Lingga yang dirujuk ke rumah sakit di Batam menggunakan kapal ambulans laut maupun speedboat. Jalur tersebut juga digunakan masyarakat untuk membawa wisatawan menuju Pulau Benan.

“Selain transportasi laut, alternatif lainnya adalah mengoptimalkan transportasi udara melalui Bandara Dabo Singkep. Dengan demikian, wisatawan dari Batam dapat terbang menuju Dabo sebelum melanjutkan perjalanan ke berbagai destinasi wisata di Lingga,” terangnya.

Ishak menyampaikan, persoalan akses tidak berhenti pada pintu masuk daerah. Akses menuju objek wisata juga dinilai perlu mendapat perhatian. Sejumlah destinasi potensial seperti Situs Istana Kota Batu, Benteng Bukit Cening, Benteng Kuala Daik, Pantai Dungun dan Sumur Hang Tuah membutuhkan dukungan aksesibilitas yang memadai.

“Termasuk juga perlu adanya bus pariwisata untuk mengangkut rombongan wisatawan yang datang dalam jumlah besar,” ujarnya.

Ishak menyoroti persoalan kebersihan yang menurutnya sangat penting dalam membangun citra destinasi wisata. Ia juga mengingatkan bahwa Sapta Pesona yang terdiri dari aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah dan kenangan harus benar-benar diwujudkan di lapangan.
Dari tujuh unsur tersebut, kebersihan dinilai menjadi salah satu pekerjaan yang paling mendesak, terutama kebersihan toilet di fasilitas umum, objek wisata serta lingkungan di sekitar destinasi.

“Kebersihan ini sangat penting karena bila tidak bersih akan merusak enam pesona lainnya,” tegasnya.

Ishak menyadari kondisi APBD Lingga yang masih terbatas. Namun, ia menilai persoalan kebersihan dapat dilakukan melalui gerakan gotong royong yang melibatkan OPD dan masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa pola tersebut bukan sesuatu yang baru bagi Lingga.

“Hal yang sama pernah dilakukan ketika awal-awal pemerintahan Kabupaten Lingga baru berjalan. Waktu itu anggaran dan SDM sangat terbatas, sehingga banyak kegiatan dilakukan melalui gotong royong bersama masyarakat,” ungkapnya.

Ishak mengatakan, tak hanya kebersihan, unsur “kenangan” dalam Sapta Pesona juga perlu diperkuat. Salah satunya dengan mendorong ketersediaan oleh-oleh dan suvenir khas Lingga yang menarik sehingga wisatawan memiliki pilihan untuk membawa pulang produk lokal.

Ishak juga mengingatkan agar pembangunan pariwisata tidak hanya menjadi tanggung jawab OPD yang membidangi pariwisata. Menurutnya, seluruh OPD, sektor usaha, masyarakat dan stakeholder terkait harus bergerak secara terpadu.

“Jangan mentang-mentang OPD pariwisata sebagai leading sector dibiarkan bergerak sendiri. Semua OPD dan sektor-sektor serta apa saja yang berkait kelindan dengan pariwisata harus bahu-membahu untuk memajukan pariwisata sebagai salah satu program unggulan di Kabupaten Lingga,” katanya.

Dalam hal ini, menurut Ishak, peran kepala daerah sangat menentukan. Kepala daerah harus mampu memberikan arah kebijakan, membangun koordinasi lintas sektor sekaligus menggerakkan seluruh perangkat daerah.

“Disinilah sebenarnya peran dan komitmen kepala daerah sangat perlu dan menentukan sekali di dalam kebijakannya untuk memberikan pemahaman, mengoordinasi dan memobilisasi terus-menerus,” ujarnya.

Ia juga menilai sosialisasi dan pertemuan koordinasi mengenai pengembangan pariwisata sebagai sektor unggulan harus dilakukan secara berkelanjutan.

“Jangan berhenti, agar benar-benar menjadi nyata sebagai sektor unggulan,” tambahnya.

Muhammad Ishak menyebut Desa Resun, Benan dan Mepar sebagai desa wisata yang sejauh ini telah beberapa kali menerima kunjungan wisatawan. Di luar itu, Desa Panggak Laut dan Kelurahan Pancur juga mulai menjadi tujuan kunjungan. Namun, menurutnya, masih banyak desa lain yang memiliki potensi unik dan layak dikembangkan.

Desa Kelumu, misalnya, memiliki potensi budaya dan alam. Desa Kerandin memiliki kegiatan penggemukan sapi. Desa Kudung dikenal dengan tradisi Ketupat Lepas.
Kemudian Desa Berindat dan Lanjut dengan potensi ikan tamban salai, Desa Pekaka dengan produk belacan, serta Desa Kute dengan potensi budaya dan keterampilan masyarakat.

“Semua desa tersebut, termasuk desa wisata, harus dibina terus-menerus agar menjadi menarik dan siap untuk selalu dikunjungi,” katanya.

Untuk itu, menurut Ishak, pengembangan desa wisata tidak cukup hanya mengandalkan OPD pariwisata dan kebudayaan. Peran camat dan kepala desa juga sangat penting.

“Selain peran OPD pariwisata dan kebudayaan, juga sangat diperlukan komitmen, kreativitas dan dukungan dari camat dan kepala desa,” tegasnya.

Ishak selanjutnya mendorong pemerintah daerah mengoptimalkan berbagai atraksi budaya yang telah ada dan hidup di tengah masyarakat. Sebelumnya, Lingga memiliki sejumlah kegiatan yang mampu menarik wisatawan, seperti Rampai Seni Budaya Melayu (RSBM), Lingga Fishing Festival (LFF), Pergelaran Tamadun Melayu Sedunia dan berbagai kegiatan lainnya. Namun, dengan kondisi APBD saat ini, penyelenggaraan event berskala besar tentu membutuhkan dukungan anggaran yang tidak sedikit.

Karena itu, Ishak menyarankan Pemkab Lingga lebih aktif mengusulkan kegiatan pariwisata dan kebudayaan kepada Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau maupun kementerian terkait. Di sisi lain, kegiatan budaya yang sudah menjadi tradisi masyarakat dapat dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata tanpa harus selalu membuat event baru.

“Seperti kegiatan Haul Jama’, Maulud Nabi, Mandi Syafar, perayaan 7 Likur dan Ketupat Lepas,” katanya.

Menurutnya, kegiatan Haul Jama’ dan Maulud Nabi bahkan memiliki potensi khusus karena penyelenggaraannya berlangsung cukup panjang dan dilakukan pada waktu yang berbeda di banyak rumah ibadah.

Kondisi tersebut, kata Ishak, dapat menjadi peluang untuk mendatangkan wisatawan dalam jumlah lebih besar sekaligus mendorong wisatawan tinggal lebih lama di Lingga.

“Sehingga dapat menarik jumlah wisatawan dalam jumlah besar dan berlama-lama di Lingga,” pungkasnya.

Dengan berbagai potensi tersebut, Muhammad Ishak menilai peningkatan kunjungan wisatawan harus diikuti pembenahan dari hulu hingga hilir. Mulai dari akses transportasi, infrastruktur destinasi, kebersihan, pelayanan, keterlibatan masyarakat, penguatan desa wisata hingga optimalisasi tradisi dan budaya lokal.

Jika dikelola secara terpadu dan berkelanjutan, sektor pariwisata diharapkan tidak hanya menjadi sumber kunjungan, tetapi mampu menciptakan lama tinggal wisatawan, perputaran ekonomi masyarakat dan peningkatan pendapatan daerah.

Puspan







TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini