
RASIO.CO, Lingga (Advetorial) – Bupati Lingga Muhammad Nizar beserta Ketua TP PKK Kabupaten Lingga Maratusholiha Nizar mengadakan acara ramah tamah dan syukuran atas pencapaian prestasi yang luar biasa oleh para Pengerajin Tudung Manto dalam Pawai Mengenakan Tudung Manto dan Kain Dagang oleh Peserta Terbanyak yang mendapatkan penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Acara tersebut diadakan di Gedung Daerah Daik Lingga dan dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Asisten, Staf Ahli Bupati Lingga, Ketua LAM, Kepala atau Perwakilan OPD di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Lingga, serta Tokoh Masyarakat yang hadir.
Ketua TP PKK Kabupaten Lingga Maratusholiha Nizar menyatakan rasa syukur dan bangganya atas pencapaian dan penghargaan yang luar biasa ini. Ia mengharapkan kepada seluruh pengerajin Tudung Manto untuk tetap semangat memproduksi dan mempromosikan Tudung Manto Lingga ke seluruh dunia.

Prestasi yang diraih ini menunjukkan bahwa Tudung Manto lahir, tumbuh, dan berkembang di Kabupaten Lingga dengan doa dan kerja keras bersama.
Maratusholiha mengatakan, Sebelum meraih penghargaan MURI ini, Tudung Manto telah menjadi bagian dari HAKI, Hak Komunal, dan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Kabupaten Lingga. Penghargaan ini membuat Tudung Manto semakin dikenal oleh dunia, mengukuhkan statusnya sebagai kain yang memiliki nilai budaya yang tinggi.
“Tudung Manto Lingga bukanlah sekedar kain, tetapi merupakan bagian dari sejarah dan identitas masyarakat Lingga. Sebagai warisan budaya, Tudung Manto memiliki nilai cultural heritage yang tinggi, dan terus dijaga serta dipelihara oleh masyarakat Lingga,” kata Maratusholiha.

Maratusholiha menjelaskan, keunikan Tudung Manto Lingga yang membuatnya berbeda dengan kain lainnya adalah bahan dasarnya yang terbuat dari serat kapas dengan ukuran yang sangat kecil. Proses pembuatannya pun memerlukan keahlian khusus dan ketelatenan yang tinggi, dari memintal benang hingga merajut kain dengan teknik tertentu sehingga menghasilkan bermacam-macam motif menarik.
“Tudung Manto bukan hanya sekedar kain yang dipakai sebagai baju, melainkan dipakai sebagai simbol identitas dan kearifan lokal masyarakat Lingga. Selain dipakai sehari-hari, Tudung Manto juga digunakan dalam acara adat dan religi, seperti perkawinan dan sholat Idul Fitri,” ungkap Maratusholiha.

Dikatakan, kesuksesan Tudung Manto dalam Pawai Mengenakan Tudung Manto dan Kain Dagang oleh Peserta Terbanyak diakui oleh dunia internasional melalui penghargaan MURI yang berhasil diraih. Penghargaan ini menyatakan bahwa Tudung Manto Lingga memiliki daya tarik dan keunikan yang membuatnya diakui sebagai kain khas Kabupaten Lingga yang layak dipromosikan ke dunia.
“Pemerintah Kabupaten Lingga juga telah berusaha meningkatkan promosi Tudung Manto sebagai bagian dari kekayaan budaya dan pariwisata daerah. Kegiatan awareness tersebut dapat meningkatkan nilai tambah bagi Tudung Manto dan membuka peluang usaha bagi para pengerajin Tudung Manto di Lingga,” papar Maratusholiha.

Tudung Manto Lingga adalah satu-satunya kain yang memiliki keunikan dan keindahan tersendiri di Kabupaten Lingga.
Melalui upaya promosi dan pelestarian oleh pemerintah dan masyarakat setempat, kita dapat memastikan bahwa Tudung Manto akan terus dijaga dan dipertahankan sebagai bagian dari kearifan lokal dan warisan budaya, serta memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat Lingga.
***

