Banjir dan Longsor Melanda Sumatera: Puluhan Tewas, Ratusan Ribu Terdampak

0
692
Basarnas Kota Padang, Sumatera Barat menemukan 10 warga Malalak Timur, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, dalam kondisi meninggal dunia akibat banjir bandang. (Foto/ANTARA FOTO)

RASIO.CO, Jakarta – Sejumlah wilayah di Pulau Sumatera, mulai dari Aceh, Sumatera Utara (Sumut), hingga Sumatera Barat (Sumbar), diguncang bencana banjir dan longsor dalam beberapa hari terakhir.

Bencana hidrometeorologi tersebut menyebabkan puluhan korban jiwa, puluhan ribu warga mengungsi, hingga memutus akses transportasi, komunikasi, dan layanan dasar.

Di Aceh, Pemerintah Provinsi menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari, mulai 28 November hingga 11 Desember 2025. Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem, menyampaikan bahwa hampir seluruh kabupaten dan kota terdampak banjir dan longsor yang menyebabkan kerusakan parah pada pemukiman, fasilitas publik, dan infrastruktur.

Total 119.998 jiwa terdampak, 20.759 orang mengungsi, sementara 30 warga meninggal dunia dan 16 lainnya masih dicari. Berdasarkan data BPBA, bencana terjadi di 16 kabupaten/kota, termasuk Pidie, Aceh Besar, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Bireuen, Lhokseumawe, hingga Aceh Selatan.

Di Sumatera Barat, Kabupaten Solok juga menetapkan status darurat bencana selama 14 hari sejak 25 November 2025. BNPB melaporkan sebanyak 3.362 warga di Kecamatan Tanjung Harapan dan Lubuk Sikarah terdampak banjir. Ribuan rumah dan fasilitas publik mengalami kerusakan, sementara wilayah terdampak tersebar di Kelurahan Koto Panjang, Nan Balimo, Kampai Tabu Karambia, IX Korong, hingga Tanah Garam.

Di Kabupaten Agam, banjir bandang yang menerjang Malalak Timur menyebabkan 10 warga meninggal dunia. Basarnas Padang menyebut sebanyak 135 kepala keluarga terpaksa mengungsi, sementara pencarian lima korban hilang masih berlangsung dengan kendala hujan deras dan akses yang sulit.

Di Sumatera Utara, situasi bencana semakin meluas. Di Deliserdang, banjir menggenangi 30 desa di delapan kecamatan dan berdampak pada 70 ribu warga. Seorang warga meninggal dunia di Desa Tanjung Gusta, sementara sebuah jembatan gantung rusak diterjang arus.

Bencana lebih parah terjadi di Tapanuli Utara, di mana tanah longsor dan banjir menyebabkan sembilan orang meninggal dunia dan 31 warga lainnya hilang. Polres Tapanuli Utara mencatat total 54 kejadian bencana sejak 24 November, terdiri dari 40 longsor, 12 banjir, dan dua kejadian pohon tumbang. Sebanyak 134 warga mengungsi setelah rumah mereka tertimbun material longsor atau terendam banjir.

Sementara itu, Tapanuli Tengah mengalami situasi paling kritis. Bupati Masinton Pasaribu menyatakan wilayahnya terisolasi akibat banjir bandang dan longsor yang memutus akses jalan dari berbagai arah. Mobilitas warga dan logistik hanya dapat dilakukan dengan berjalan kaki dari arah Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan. Jaringan listrik dan internet juga terputus, membuat komunikasi lumpuh total.

Saat ini, satu-satunya akses menuju Tapanuli Tengah adalah melalui udara lewat Bandara Pinangsori atau jalur laut melalui Pelabuhan Sibolga.

BPBD di berbagai daerah menyebut banjir dan longsor di Sumatera dipicu hujan lebat berintensitas tinggi sejak pertengahan November.

Di Sumut, 12 kabupaten/kota terdampak sejak 21 November, termasuk Humbang Hasundutan, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Serdang Bedagai, Nias Selatan, Pakpak Bharat, dan Padang Sidempuan. Di Sumbar, banjir dan longsor melanda Padang Pariaman, Pesisir Selatan, Pariaman, Padang, Solok, Tanah Datar, hingga Agam.

Selain korban jiwa dan hilang, kerusakan infrastruktur cukup signifikan. Di Agam, ruas jalan nasional yang menghubungkan Kota Padang dan Pasaman Barat terendam banjir setinggi 30–70 sentimeter, menyebabkan akses lalu lintas terputus.

Pemerintah pusat melalui BNPB, BPBD, TNI, Polri, dan sejumlah lembaga terkait terus melakukan upaya evakuasi, membuka akses jalan, menyalurkan logistik, serta mencari korban hilang. Cuaca ekstrem diperkirakan masih berlangsung, sehingga masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi bencana susulan.

***







TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini