Polres Kuansing Gelar FGD Radikalisme dan Anti Pacasila

0
556

RASIO.CO, Teluk Kuantan – Jajaran Kepolisian Polres Kuansing gelar Focuss Group Discussion(FGD) bagi Organisasi Masyarakat dan Mahasiswa di Aula Sanika  Satyawada. Jumat(27/08). 

FGD ini mengambil tema  Sinergitas Elemen Masyarakat Dalam Upaya Pencegahan dan Penanganan Paham Radikalisme dan Anti Pancasila pada Masa Pandemi Covid-19 di Wilayah Kabupaten Kuantan Singingi.

Kegiatan ini dibuka Kapolres Kuansing AKBP Rendra Oktha Dinata SIk MSi  diwakili Waka Polres Kuansing Kompol. Antoni Lumban Gaol SH, MH.

Selain Waka Polres juga hadir Kasat Binmas AKP Efrion, Kasat Intelkam AKP Riand Samudro, Ustad H. Irsyad Azizi,Lc.MA, para Bhabinkamtibmas polres,Pengurus Cabang GP. Ansor dan Banser Kuansing, anggota Senkom, tokoh masyarakat, mahasiswa.

Kapolres Kuansing menjelaskan, seiring dengan kemajuan zaman bangsa indonesia kembali dihadapkan dengan masalah radikalisme dan anti pancasila yang mengancam stabilitas dan persatuan bangsa.

Penyebaran paham radikalisme dan anti Pancasila ini mengikuti pesatnya perkembangan teknologi.

Masa pandemi covid-19 ini, sehingga menjadi celah bagi masuknya ideologi dan pemahaman radikal serta Anti Pancasila oleh kelompok-kelompok tertentu yang ingin memecah belah bangsa dan ini perlu diantisipasi  semenjak dini.

Sementara itu, Ustad H. Irsyad Azizi,Lc,MA, salah satu pemateri mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga sanak saudara keluarga agar tidak masuk ke dalam kelompok radikalisme atau pun menjadi teroris yang mana itu sangat di larang oleh agama.

Cara kita membersikan radikalisme itu mari lah kita mencari akarnya sehingga kita dapat mencegahnya.

Sedangkan, Kasat Intelkam Polres Kuansing AKP Riand Samudro menjelaskan, masalah radikalisme dan anti pancasila dapat mengancam stabilitas dan persatuan bangsa.

Dia menjelaskan, paham radikal tercermin pada sikap ekstrim yang menghendaki perubahan secara cepat dan mendasar terhadap hal-hal yang di anggap fundamental oleh seseorang atau sekelompok radikalis.

Bahayanya, sikap ektrim ini biasanya diimplementasikan melalui tindakan – tindakan teror, ancaman dan anarkisme terhadap negara, aparat, serta masyarakat yang memiliki pemahaman berseberangan.

Dari hasil penelitian, kata dia, bahwa kemiskinan dan kesenjangan sosial memang merupakan salah satu faktor pemicu utama gerakan radikal.

Dia juga menjelaskan, penyebaran paham-paham radikal dan anti Pancasila saat ini juga mengalami pergeseran metode dalam pergerakannya.

Jika semula dilakukan dengan tatap muka dan membentuk kelompok-kelompok ekslusif (tertutup), maka saat pandemi mereka memanfaatkan platfrom digital dan media sosial.

Penyebaran paham radikal melalui media sosial dinilai sangat efektif dalam membentuk para pelaku teror Lone Wolf

Bahaya Radikalisme negatif dan sikap anti pancasila, termasuk  dapat menimbulkan konflik horizontal, memunculkan kebencian dan tindak kekerasan, bahkan bisa memecah belah kerukunan umat beragama di Indonesia.

Sementara itu Pimpinan Gerakan pemuda Ansor Kuansing 

melalui sekjen GP.Ansor kuansing yaitu M.Fajrin Kholil menyampaikan kepada media Rasio.co sasaran utama aliran radikalisme negatif adalah adek-adek mahasiswa baru tamat SMA dan baru memasuki bangku kuliah serta  pengetahuannya minim tentang agama ataupun yang sedang mencari jati diri.

Mahasiswa sekarang lebih mudah untuk mendapatkan ilmu secara akademisi dan aktualisasi dari sosmed dan media online lainnya.

Sesuai dgn yg disampaikan oleh ust. Azizi dan kasat intel polres, sebaiknya mahasiswa mengkaji ulang dan mencari kebenaran berita dari sosmed dan media online lainnya.

Kepada Dosen, kyai atau ustadz yang mumpuni, agar mahasiswa tidak terjerumus kedalam radikalisasi negatif dan anti pacasila.

Dan sebagai mahasiswa harus selektif dalam memilih organisasi keagamaan, Terang sekjen Gp Ansor Kuansing

M.Fajrin Kholil berpesan kepada adek-adek agar waspada dalam mencari guru untuk mengetahui tentang agama agar tidak terpapar aliran radikalisme dan Anti pancasila yaitu menanamkan perasaan yang cinta tanah air sebagai mana yang disampaikan sesepuh kami di NU yaitu hadratus syech KH.hasyim ashari “hubbul waton minal iman” yang artinya mencintai tanah air adalah bagian dari iman.

Ia berharap agar pihak kepolisian terutama polres Kuansing melibatkan serta mengajak seluruh jajaran masyarakat untuk meminimalisir radikalisasi negatif dan anti pancasila di desa atau daerahnya masing-masing Demi terciptanya NKRI harga mati. Tutup M.Fajrin Kholil Sekjen Gp.Ansor Kuansing

Sementara itu kasatkorcab Banser Kuansing Agus Rianto juga menyarankan Harus ada pihak yang memastikan setiap kelembagaan kemahasiswaan tidak membawa masuk faham radikalisme negatif dan Anti Pancasila dalam organisasi kemahasiswaan terutama pihak kampus semacam rektorat ataupun senat fakultas harus bekerja sama dengan penegak hukum dan ulama demi memastikan setiap kegiatan mahasiswa dikampus tidak berbau Radikalisme negatif atau anti Pancasila.

Harapan saya sebagai kasatkorcab banser kuansing dalam kegiatan fgd ini tidak hanya sebagai acara seremonial belaka, namun bisa menjadi titik awak pergerakan kepada seluruh elemen masyarakat dalam mensosialisasikan tentang bahayanya faham radikal di negri tercinta ini. Pungkas agus Rianto kasatkorcab Banser Kuansing.

rusmanto@www.rasio.co //







TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini