RASIO.CO, Batam – Kamp Pengungsi Vietnam di Pulau Galang, Batam merupakan tempat bersejarah bagi sekitar 250.000 pengungsi dari Vietnam pada tahun 1979-1995.
Salah satunya Pagoda Chua Kim Guan di Pengungsian Vietnam yang berpotensi mendatangkan pengunjung wisata lokal maupun macanegara di Batam, Kepri.
Hampir setiap hari libur para wisatawan lokal maupun mancanegara mengunjungi untuk melihat peninggalan tempat pengungsian viatnam tersebut. selain pagoda juga ada gereja, vihara, rumah sakit, tempat pemakaman, kantin, barak, dan bahkan rumah tahanan.
“Wellcome to Vietnam ..” ya kata-kata ini yang bisa diungkapkan bagi siapa saja yang mengunjungi perkampungan ini.
Pasalnya kamu akan menemukan segala kehidupan yang berhubungan dengan Vietnam seperti tulisan, museum bahkan pemakaman para pengungsi Vietnam yang ada di pulau ini.

Ternyata sejarah itu benar, kampung vietnam atau yang dikenal Camp Vietnam ini merupakan area yang pengungsi Manusia Perahu Vietnam.
Bagusnya, kamp vietnam akan segera di benahi kembali bahkan akan di bangun ZOO alias kebun binatang oleh BP Batam sebagai bentuk untuk menarik wisata asing.
” Siteplen sudah di disiapkan, dimana rencananya akan di bangun ZOO untuk menarik wisata lokal maupun mancaneggara,” kata Kepala BP Batam Lukita beberapa waktu lalu.
Dahulu Kamp ini dibangun atas kerja sama UNHCR, salah satu organisasi di bawah PBB yang menangani dan membantu para korban perang, dengan pemerintah Indonesia.
Dengan menggunakan lahan seluas 80 hektar, UNHCR dan pemerintah Indonesia membangun sebuah kamp pengungsian bagi warga Vietnam di Pulau Galang pada 1979.
Layaknya sebuah ‘kota’ baru, kamp tersebut dilengkapi dengan berbagai fasilitas umum, mulai dari sekolah, tempat ibadah (gereja, vihara, masjid), rumah sakit, tempat pemakaman, kantin, barak, dan bahkan rumah tahanan.
Kisah kamp pengungsian ini berawal dari perang sipil yang berlangsung cukup lama di Vietnam, yaitu dari 1959-1975 yang turut melibatkan beberapa negara lain, seperti Amerika Serikat dan Rusia.
Pasca perang tersebut, banyak warga Vietnam yang lari dari negaranya dengan alasan keamanan dan untuk mencari perlindungan. Dengan menggunakan perahu kayu, mereka mengarungi Laut China Selatan selama berbulan-bulan.
Beberapa dari mereka pun ada yang meninggal saat di perjalanan tersebut, namun sebagian besar juga berhasil mencapai daratan, termasuk di beberapa pulau di Indonesia, seperti di Kepulauan Natuna dan Bintan. Karena alasan ini pulalah mereka disebut sebagai “manusia perahu”.
Pada 1979, mereka semua dipindahkan ke kamp pengungsian di Pulau Galang. Selama sekitar 16 tahun mereka tinggal di pulau ini, hidup dengan terpisah dari dunia luar. Hal ini sengaja dilakukan untuk mempermudah pengawasan dan penjagaan keamanan di sekitar kamp.
Hingga akhirnya pada 1995 kamp ini ditutup setelah para pengungsi tersebut berhasil mendapatkan suaka dari beberapa negara, seperti dari Amerika Serikat dan Australia, maupun kembali ke negara asal mereka, Vietnam. Kamp ini pun akhirnya mulai dibuka untuk umum pada 1998, setelah pembangunan Jembatan Barelang selesai dilakukan.
Saat ini, beberapa fasilitas kamp masih ada yang berfungsi dengan baik, seperti Pagoda Quan Am Tu, Pagoda Chua Kim Quan, dan Gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem. Tempat ibadah ini masih digunakan oleh para pengunjung yang ingin beribadah maupun bersembahyang di dalam area kamp.
Dua buah kapal kayu yang dulu digunakan para pengungsi pun masih bisa Anda lihat, diletakkan di dekat Museum Kamp Pengungsi Vietnam Pulau Galang. Museum ini menyimpan berbagai barang peninggalan para pengungsi, seperti KTP, foto, hingga benda-benda kerajinan tangan mereka, berupa lukisan, taplak meja, miniatur rumah, dll.
Tepat di depan museum, terdapat sebuah bangunan bekas kantor Brimob kepolisian RI dan penjara untuk para pengungsi Vietnam yang melakukan tindak kejahatan, seperti merampok, kabur dari tempat pengungsian, membuat minuman keras, dll.
Sebuah patung kemanusiaan atau “humanity statue” di dalam area kamp dibangun untuk mengenang Tinh Nhan, seorang pengungsi wanita Vietnam yang nekat bunuh diri setelah diperkosa oleh sesama pengungsi.
Tidak jauh dari Humanity Statue, terdapat pemakaman Ngha Trang, di mana lebih dari 500 pengungsi dimakamkan di tempat ini. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika hingga saat ini masih ada para keluarga para pengungsi Vietnam yang berkunjung ke kamp ini, juga mantan pengungsi yang saat ini tinggal di beberapa negara lainnya, seperti dari Amerika Serikat, Australia, Belanda, Singapura, dsb.
Lokasi : sekitar 50 kilometer dari pusat kota Batam, Desa Sijantung, Pulau Galang Baru
Jam operasional : hari biasa, pk. 7:30-16:30; akhir pekan, pk. 7:30-17:00
Biaya masuk : Rp. 10.000/orang Fasilitas : mesjid, gereja, kantin, toilet, pemandu wisata gratis Fasilitas umum terdekat : warung, toko kecil, salon Tempat menarik terdekat : Pantai Melur(red/bbr).
APRI@www.rasio.co

