
RASIO.CO, Batam – Para pengusaha nakal jadikan Batam produksi rokok ilegal alias tanpa cukai, lagi keluar rokok diduga produksi Batam mulai beredar di grosir maupun toko eceran. Jumat(11/04).
Informasi lapangan, rokok merk Morene dan dibandrol harga 9 ribu s/d 10 ribu ditingkatkan pengecer.
Ironisnya, Para pengusaha nakal jadikan Batam produksi rokok ilegal secara massal , contohnya dan lainnya, parahnya sudah ratusan kali beacukai melakukan penegahan, baik darat maupun laut.
Bahkan sudah banyak Para pemain bahkan penyeludup di penjara dan disidang di PN Batam, saat ini terdakwa Asemi Syah Putra dengan nomor perkara 136/pid-b/btm-2025 dan barang bukti rokok HD Clasic sebanyak 28 karton.
Dan terdakwa Ramlan dengan nomor perkara 141/pid-sus/btm-2025 barang bukti 310 karton merk Camlard , Para terdakwa saat ini masuk tahap tuntutan di PN Batam.
“Merk Morena tanpa bandrol ini sudah beredar di sagulung harga eceran 10 ribu,”kata sumber enggan namanya dipublikasikan.
Diketahui, Menjelang lebaran idul fitri 2025, Beacukai melaksanakan operasi cukai bahkan ditemukan juga para pengusaha rokok ilegal mengunakan cukai palsu dan cukai kadaluarsa.
Total Barang Hasil Penindakan Cukai periode 10-23 Maret 2025 mencapai 403.276 batang Barang Kena Cukai (BKC) Hasil Tembakau dari berbagai merek baik dari SKM maupun SPM, dan 1.850,1 liter BKC Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA).
Bea Cukai Batam menemukan BKC HT tersebut tanpa dilekati pita cukai, dilekati pita cukai palsu, atau dilekati pita cukai yang sudah kadaluarsa.
Beberapa rokok ilegal tersebut bahkan merupakan rokok impor dari Amerika Serikat, Inggris, Tiongkok dan Singapura dengan berbagai merk seperti Luffman, HD, H Mind, T3, Ofo, Manchester, dan berbagai merk lainnya.
“Kegiatan operasi cukai kami lakukan berdasarkan pengembangan yang berasal dari informasi masyarakat mengenai peredaran rokok ilegal di wilayah Kota Batam. Kami menemukan berbagai merek dan jenis baik sigaret putih mesin (SPM) maupun sigaret kretek mesin (SKM).
“Kegiatan operasi cukai yang dilaksanakan pada kurun waktu dua pekan tersebut menghasilkan 80 Surat Bukti Penindakan (SBP). Untuk penindakan HT, Bea Cukai Batam menetapkan potensi ultimum remedium sebagaimana dimaksud dalam pasal 40B ayat (6) UU 39 tahun 2007 tentang Cukai, dan Peraturan Menteri Keuangan nomor 237/PMK.04/2022 tentang Penelitian Dugaan Pelanggaran di Bidang Cukai, sebesar Rp706,136,000.00. Atas BKC ilegal yang berhasil disita kemudian diamankan dan dibawa ke kantor Bea Cukai Batam untuk dilakukan penelitian lebih lanjut,” jelas Kepala Bidang Bimbingan Kepatuhan dan Layanan Informasi Bea Cukai Batam, Evi Octavia.
Dalam menjalankan fungsi Bea Cukai sebagai community protector sekaligus revenue collector, Bea Cukai Batam berupaya melaksanakan kedua fungsi tersebut secara seimbang dan proaktif.
Pengawasan atas BKC HT dan MMEA secara umum dilaksanakan dengan 2 pendekatan, melalui pendekatan preventif dan represif.
Pendekatan preventif merupakan upaya Bea Cukai Batam yang melibatkan dimensi lain dari pengawasan, yaitu peningkatan pelayanan kepada mitra dengan cara profiling pengguna jasa, peningkatan edukasi dan publikasi melalui media kehumasan terutama terkait sosialisasi ketentuan dan peraturan, peningkatan deterrent effect publikasi penindakan dan edukasi bahaya BKC ilegal.
Sedangkan upaya represif dilakukan dengan cara pengumpulan informasi dan analisis di antaranya dengan pembentukan tim cyber crawling, audit di bidang cukai, patroli, serta operasi yang dilakukan secara mandiri maupun operasi bersama.
Jumlah penangkapan BKC ilegal tersebut menambah jumlah tangkapan sepanjang tahun 2025.
Data penindakan menunjukan hingga tanggal 21 Maret 2025, Bea Cukai Batam telah berhasil melakukan penindakan BKC Ilegal dengan total 7.062.077 batang BKC HT dan 1.888,72 liter BKC MMEA, dengan nilai barang ditaksir mencapai 16,265 miliar rupiah dan kerugian negara ditaksir mencapai 7,935 miliar rupiah.
“Upaya dalam memberantas rokok ilegal yang dilakukan oleh Bea Cukai Batam berkolaborasi dengan aparat penegak hukum lain merupakan kegiatan yang berkesinambungan dari tahun ke tahun. Dengan menggandeng aparat penegak hukum lain dan masyarakat, serta dengan sinergi dan kolaborasi, dapat meningkatkan kesuksesan menekan peredaran rokok ilegal di Indonesia, khususnya di Kota Batam,” pungkas Evi.
Redaksi @www.rasio.co //

