Keterpurukan Ekonomi Batam Berdampak Terhadap Pedagang Jajanan Lingkungan Sekolah

0
797

RASIO.CO, Batam – Keterpurukan Roda perekonomian di Provinsi Kepri , Batam khususnya mengalami penurunan alias minus ada pertumbuhan selama Triwulan I 2017 . juga berdampak terhadap pedagang yang berjualan dilingkungan sekolah.

Hal ini dialami Dadang pedangang Burger mangkal disekolah salah SD di Bengkong Sadai, dimana sudah 6 tahun berjualan untuk pelajar SD setahun terakhir terpuruk drastis pendapatannya sehingga usai berjualan disekolah terpaksa kembali berkeliling.

“Setahun terakhir ini paling parah, biasa anak sekolah jajan dua kali setiap waktu istirahat dan saat ini kadang sekali itupun ada bawa dari rumah,” Kata Dadang dilokasi. Rabu(19/07/2017).




Lanjut Dadang, usaha Berger ini sudah dilakoninya 6 tahun lalu sehingga dapat menghidupi dirinya bersama istri dan seorang anaknya yang sudah berusia 7 tahun. beruntung saat ini lokasi tempat berjualan sewanya murah perhari hanya Rp10 ribu.

“Istri dan anak ditinggal dikampung halaman sukabumi karena biaya hidup disini mahal,” jelasnya.

Ia menambahkan, untuk menghabiskan Burger 80 pcs satu hari sudah bagus dan biasanya mencapai 210 pcs dilokasi sekolah ini saja, apalagi harga bahan pokoknya selalu naik tetapi harga tetap.

“Paling hanya meraup hasil Rp50 ribu perhari dan bahan naik harga tetap karena kasian anak sekolah,” ujarnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Aris pedagang es campur dan bakso, ia mengatakan, bahwa anak sekolah sekarang sering dibekali orangtuanya, pasalnya orangtua lelaki tidak bekerja karena diputus kontrak habis job.

“Kami hanya pasrah berdagang mas dari pada dapur tidak berasap, bagusnya jalani aja dan berharap perhatian pemerintah dengan menyediakan paket sembako murah,” pungkasnya.

Sementara itu, beberapa waktu lalu Kepala Perwakilam BI Kepri Gusti Raizal Eka Putra, bahwa ada beberapa faktot peyebabnya perlambatan ekonomi dipengaruhi oleh penurunan net esport dan konsumsi pemrintah. Net eksport mencatat kontraksi 6,92%(yoy) terutama penurunan eksport antar wilayah.

“Konsumsi pemerinta mengalami kontraksi dibandingkan triwulan sebelumnya, ditambah tertundanya proses pengesahan APBD yang mempengaruhi realisasi belanja,” kata Gusti di I hotel Nagoya. Rabu(11/05/2017.

Ia mengatakan, Konsumsi pemerintahmengalami kontraksi 2,26%(yoy) dibanding triwulan sebelumnya tumbuh 0,29%(yoy), dikarnakan tertundanya pengesahan APBD sehingga mempengaruhi realisasi belanja saat ini baru 8,8%, Namun, perlambatan lebih mendalam tertahan oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 6,95% (yoy) dibanding triwulan sebelumnya6,12% (yoy).

Ditopang perayaan Imlek, Cap Go Meh dan penurunan tingkat pengangguran. investasi tumbuh 4,87% menguat dibanding triwulan sebelumnya 3,11%, dengan realisasi terbesar investtasi sektor industri elektronik, serta pembangunan perumahan dan hotel.

Sedangkan dari sisi lapangan usaha, lanjut dia, perlambatan ekonomi terutama bersumber penurunankinerja sektor industri pengolahan dan pertambagan. seperti industri pengolahan menurun karena rendahnya permintaan khususnya industri pendukung migas, kapal, dan besi baja.

Kinerja sektor pertambagan juga masih tertekan tercermin dari hasil lifting migas kepri menurun seiring harga minyak dunia masih pada level rendah sementara hasil barang tambang lainnya juga menurun. dan sektor kontruksi dan perdagangan juga mencatat perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya,” terangnya.

Kata Dia, Realisasi pendapatan maupun belanja Pemda menurun pada triwulan I 2017 dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya. dimana realisasi pendapatan sebesar 12,4% dari pagu anggaran, meurun dibandingkan realisasi priode sama tahun sbelumnya sebesar20,02% dari anggaran.

Turunya realisasi pendapatan disebabkan turunya transfer dana bagi hasil alam(SDA) yang dipengaruhi penurunan hasil migas Kepri. Sejalan dengan pelemahan pendapatan, penyerapan anggaran melalui belanja juga menurun. belanja Pemda baru terealisasi 8,8% dari pagu anggaran, lebih rendah dibanding priode yang sama tahun sebelumnya sebesar 12,0%.

Faktor tekanan inflasi triwulan I 2017 melemah dibandingkan triwulan sebelumnya. inflasi Kepri sebesar 3,08% lebih rendah dibanding inflasi triwulan sebelumnya sebesar 3,53%. menurunya inflasi dipengaruhi harga aneka cabai mengalami penurunan akibat pasokan cukup.

Sementara komoditas yang memicu inflasi adalah kenaikan tarif angkutan udara sejalan dengan perayaan Imlek dan Cap Go Meh april 2017. Kepri mencatat inflasi 0,38% (mtm) dengan andil terbesar bersumber dari kenaikan tarif listrik.

Selain itu, imbuhnya, sejalan perlambatan ekonomi, kinerja perbankan juga mengalami perlambatan, tetapi secara tahunan transaksi tunai meningkat, namun transaksi non tunai mengalami penurunan, tingkat pengangguran menurun, pada februari 2017 sebesar6,44% lebih rendah dibandingpriode sama sebelumnya sebesar9,03%.

Sedangakan pertumbuhan perekonomian Kepri triwulan II 2017 diperkirakan tumbuh 3,6% karena ditopang peningkatan konsumsi masyrakat menjelang Bulan Suci Ramadhan dan Hari raya Idul Fitri, serta relaisasi belanja pemerintah diyakini akan mulai terakselerasi triwulan kedua.

Terakhir, tambahnya, laju inflasi pada triwulan II 2017 diperkirakan meningkat, didorong oleh peningkatan permintaan periode ramadhan dan Idul Fitri dimana berdasarkan pola historis sumbangan terbesar dari bahan makanan dan tarif angkutan udara. inflasi lain kenaikan tarif listrik dan secara tahunan inflasi Kepri 2017 diperkirakan masih dalam kisaran target inflasi Nasional 4% plus minus 1%m(yoy),” tutupnya.

APRI @ rasio.co

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini