Melestarikan Budaya Jawa, Punokawan Batam Gelar Slametan Suroan

0
21

RASIO.CO, Batam – Dalam upaya pelestarian budaya Jawa di tanah perantauan, Perkumpulan Sosial Pelestari Budaya Jawa Punokawan Batam, menggelar acara syukuran dan doa bersama dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 2026, pada Senin malam (15/06), di Sei Tering Tanjung Sengkuang Batam.

Acara yang diberi nama dalam istilah jawa “Slametan Suroan” ini, tidak saja diikuti oleh Pengurus dan anggota Punokawan Batam, namun juga warga masyarakat keturunan Jawa yang ada di Kota Batam dan sekitarnya.

Ketua Punokawan Batam, H. Sutardi, SE menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan, atas apa yang telah dilalui dan yang telah dicapai setahun lalu, serta memohon petunjuk dan bimbingan untuk perjalanan kehidupan setahun mendatang..

Sutardi juga mengatakan bahwa selain itu acara ini juga dimaksudkan untuk melestarikan budaya Jawa, mengingat tradisi Suroan ini telah dilakukan sejak jaman dahulu oleh para leluhur masyarakat Jawa.

“Dengan acara ini kami berharap masyarakat Jawa perantauan di Kota Batam ini, tidak melupakan budaya luhur warisan nenek moyang kita ini, agar nantinya dapat diduplikasikan ke generasi berikutnya, hingga budaya Jawa akan tetap lestari, tak lekang digerus kemajuan jaman,’ ungkapnya.

Untuk itulah maka Tata laksana dalam prosesi budaya itu lantas mengikuti pakem yang telah ditetapkan,yang mana hal itu merupakan warisan para leluhur masyarakat Jawa yang telah dilakukan sejak dahulu kala.

Walaupun prosesinya tidak selengkap maupun sesempurna seperti yang dilakukan di Jawa, namun diharapkan tidak mengurangi nilai dan maknanya.

Peralatan ritual atau Ubo Rampe dalam bahasa Jawa, yang merupakan syarat utama dari prosesi disediakan secara lengkap. Karena ubo Rampe itu memiliki makna yang terkandung di dalamnya, yakni Bubur Suro,Tumpeng Kuat, Pisang Raja dan kembang tujuh rupa.

Selain itu para anggota Punokawan dan masyarakat yang hadir dalam acara ini, juga diwajibkan untuk membawa makanan dalam wadah ambengan atau Takir, yakni tempat makanan yang terbuat dari daun pisang, untuk nantinya akan saling ditukar dengan peserta yang lainnya.

Adapun rangkaian prosesi yang dilaksanakan pada malam itu, diawali dengan penyampaian Sejarah dan makna serta filosofi Suroan oleh para Tokoh Punokawan, yakni Eka Basuki dan Budi Winarno.

Penuturan yang disampaikan dalam bahasa Indonesia dan Jawa itu, memberikan pemahaman terkait acara tersebut sekaligus menjelaskan setiap makna yang terkandung dalam setiap prosesi yang akan dilakukan. Dimana inti dari setiap prosesi itu merupakan wujud ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas segala berkah yang telah diberikan, serta ritual perenungan atau instropeksi diri atas apa yang telah dilakukan selama ini. Selain itu acara tersebut juga merupakan ritual doa untuk memohon petunjuk dan kekuatan lahir batin dalam menghadapi tantangan kehidupan di tahun mendatang.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan prosesi pembacaan doa atau Ujub yang dipimpin oleh Sugeng Triawan atau yang akrab dipanggil Eyang Sugeng. Lantunan doa yang disampaikan dalam bahasa Jawa halus ini, berlangsung cukup khidmat, seluruh peserta terlihat begitu khusuk mendengarkan setiap kalimat yang dilantunkankan sambil meng Aminkan dengan menjawab “Inggih” secara serentak.

Kemudian ritual dilanjutkan dengan prosesi pemotongan Tumpeng Kuat dan Bubur Suro serta ritual Kembul Bujono atau makan bersama dengan cara yang cukup unik, yakni para peserta saling bertukar takir atau makanan yang dibawa masing-masing dari rumah. Dikatakan bahwa Ritual ini mengandung simbol kerukunan dan persaudaraan antar sesama.

Rangkaian acara berikutnya adalah tirakatan sambil melakukan Topo Bisu dengan berjalan mengelilingi areal acara tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dalam Prosesi itu seluruh peserta berjalan kaki sambil merenungkan apa yang telah dilalui di tahun lalu, sebagai wujud intropeksi diri agar segala kesalahan tidak terulang lagi kesalahan-kesalahan di masa mendatang.

Lanjut acara ditutup dengan Ngumbah Gaman atau pembersihan senjata pusaka berupa keris maupun sejenisnya. Ritual yang ditangani langsung oleh Eyang Sugeng ini juga biasa disebut dengan Jamasan Pusaka. Sejumlah benda pusaka keris milik anggota Punokawan dilakukan pembersihan dengan mengikuti Pakem Jamasan atau pembersihan sesuai adat budaya Jawa.

Pembersihan Pusaka ini bertujuan untuk merawat peninggalan para leluhur yang dititipkan kepada anak cucunya agar lestari keberadaannya. Dan Prosesi tersebut dikatakan murni kegiatan budaya yang telah diwariskan secara turun temurun yang tidak terkait dengan ritual keagamaan manapun. (YD)







TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini