RASIO.CO, Lingga – Sebagai sosok yang pernah merasakan pahit getirnya hidup sebagai anak nelayan, sekaligus memiliki latar belakang berpendidikan di bidang perikanan, Muhammad Ishak mengaku sangat gembira dan mengucap syukur atas hadirnya informasi mengenai pengembangan budidaya rumput laut di Pulau Lalang.
Muhammad Ishak, menaruh harapan besar agar program ini dapat berjalan sukses dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat pesisir.
“Harapan besarnya tentu tak lain dan tak bukan adalah semoga budidayanya berkembang, berhasil, dan berkelanjutan, serta dapat meningkatkan pendapatan nelayan pembudidaya rumput laut,” ujar Ishak, Kamis (21/5/2026).
Ishak mengungkapkan hal ini bukan tanpa alasan. Ia mengingat kembali pengalamannya beberapa tahun silam, tepatnya sebelum Kabupaten Lingga terbentuk. Saat itu, ia ditunjuk oleh perusahaan patungan Indonesia, Malaysia, dan Korea sebagai Kepala Pengembangan Budidaya Rumput Laut di wilayah Kepulauan Riau, Provinsi Riau. Salah satu lokasi unggulan yang dikembangkan saat itu adalah perairan Pelakak – yang kini menjadi Desa Pelakak, Kecamatan Singkep Pesisir.
Menurut Ishak, lokasi tersebut sangat cocok untuk pengembangan jenis rumput laut Eucheuma cottonii dan bisa dibudidayakan sepanjang musim. Dukungan dari masyarakat nelayan pun saat itu sangat antusias menyambut usaha tersebut. Namun, perjalanan usaha budidaya itu akhirnya menemui jalan buntu, bukan karena kegagalan dalam produksi atau kurangnya minat nelayan, melainkan masalah di sisi pemasaran.
“Perusahaan berhenti membeli hasil panen nelayan, baik rumput basah maupun kering, dengan alasan gudang penyimpanan sudah penuh. Informasi yang kami dapat saat itu, harga rumput laut di pasar dunia sedang anjlok. Beberapa tahun setelah perusahaan itu tutup, ada lagi pihak yang berusaha mengembangkan di lokasi yang sama, namun masalah yang sama pun terulang. Tentu saja kejadian ini sangat mengecewakan para nelayan,” kenang Ishak.
Meski begitu, Ishak menilai usaha budidaya rumput laut sebenarnya memiliki daya tarik yang sangat besar dan potensi tinggi untuk dikembangkan di Kabupaten Lingga. Hal ini didukung oleh kondisi wilayah yang memiliki banyak pulau, teluk, pantai, dan selat, meski tidak semua titik cocok untuk usaha ini. Selain itu, proses budidaya tergolong mudah dan bisa dikerjakan oleh seluruh anggota keluarga, dengan masa panen yang relatif singkat yakni hanya 45 hari.
“Artinya, jika nelayan mengelola budidaya secara berurutan, mereka bisa mendapatkan hasil dan penghasilan setiap hari, sama seperti nelayan tangkap — asalkan ada pembeli yang mau mengambil dalam kondisi basah. Ini keuntungan yang sangat besar,” jelasnya.
Namun di balik potensi itu, Ishak mengatakan, terdapat kendala teknis yang kerap dialami pembudidaya. Salah satunya adalah kesulitan dalam memenuhi standar kualitas saat rumput harus dijual dalam bentuk kering. Standar yang disyaratkan biasanya adalah kadar air tersisa 15 persen, atau perbandingan 8 hingga 10 kilogram rumput basah menjadi 1 kilogram rumput kering, serta bebas dari kotoran dan pasir.
“Kendala lain, jika terlambat dijemur rumput laut akan mudah rusak. Belum lagi curah hujan di Lingga cukup tinggi, padahal penjemuran butuh waktu 3 hingga 4 hari berturut-turut. Hal-hal inilah yang dulu menjadi hambatan,” tambahnya.
Berdasarkan pengalaman pahit tersebut, Ishak sangat berharap pengembangan baru di Pulau Lalang ini tidak mengulangi kesalahan atau menghadapi kendala yang sama. Ia berharap pihak perusahaan pengelola dan Pemerintah Kabupaten Lingga telah menyiapkan langkah strategis dan antisipasi yang matang, sebagaimana yang telah diterapkan di daerah-daerah lain yang pengembangan budidaya rumput lautnya sudah maju dan mapan.
“Mudah-mudahan pihak perusahaan dan Pemkab Lingga sudah menyiapkan langkah strategis dan antisipasi, seperti di daerah-daerah lain yang sudah maju pengembangan usahanya. Insya Allah, kali ini hasilnya akan berbeda dan berkelanjutan,” pungkasnya penuh harap.
Puspan

