RASIO.CO, Batam – Paguyuban HIKMAN (Himpunan Keluarga Mandah) Kota Batam menegaskan pentingnya pelibatan komunitas dalam arah pembangunan Kota Batam. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan diskusi dan buka puasa bersama yang digelar di Puan Coffee, Villa Muka Kuning, Tembesi, Sagulung, Minggu (8/3).

Kegiatan yang berlangsung dalam suasana Ramadan ini menghadirkan anggota DPD RI daerah pemilihan Kepulauan Riau, Ria Saptarika, sebagai pembicara utama. Selain menjadi ajang silaturahmi, forum tersebut juga dimanfaatkan sebagai ruang diskusi untuk menyampaikan gagasan serta kritik terhadap dinamika pembangunan di Kota Batam.
Ketua HIKMAN Kota Batam, Fauzi, mengatakan paguyuban tidak ingin hanya menjadi pelengkap dalam kegiatan seremonial pembangunan. Ia menilai komunitas perantau Mandah memiliki kekuatan sosial yang cukup besar sehingga perlu dilibatkan dalam proses perumusan kebijakan daerah.
Menurutnya, Batam saat ini tengah bergerak cepat dalam berbagai sektor pembangunan. Karena itu, komunitas masyarakat diharapkan dapat dilibatkan secara lebih nyata dalam proses pembangunan kota.
“Batam sedang bergerak cepat. Dalam fase transisi pembangunan ini, kami ingin paguyuban dilibatkan secara nyata, bukan sekadar diundang saat acara seremonial,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Ria Saptarika menilai Batam sedang berada pada titik penting dalam proses transformasi pembangunan. Pertumbuhan investasi, perkembangan kawasan industri, serta dinamika kependudukan menurutnya memerlukan stabilitas sosial yang kuat.
Ia menilai paguyuban memiliki peran penting sebagai simpul sosial yang dapat membantu menjaga keharmonisan masyarakat di tengah pesatnya perkembangan kota.
“Paguyuban adalah simpul sosial. Jika komunikasi dengan pemerintah kota terjalin dengan baik, aspirasi masyarakat bisa tersalurkan dan pembangunan akan lebih partisipatif,” kata Ria.
Menurutnya, hubungan antara pemerintah daerah dan paguyuban perlu ditingkatkan menjadi dialog kebijakan yang lebih terstruktur. Hal tersebut dinilai penting agar aspirasi masyarakat dapat menjadi bagian dari proses perencanaan pembangunan.
Dalam sesi diskusi, sejumlah peserta juga menyampaikan berbagai pandangan dan kritik terkait keterlibatan komunitas dalam pembangunan kota.
Salah satu anggota HIKMAN, Dendy, menyampaikan bahwa selama ini paguyuban jarang diajak berdialog dalam pembahasan program strategis tingkat kota.
“Kami ingin ada forum rutin. Jangan hanya menjelang momentum politik atau kegiatan simbolik,” ujarnya.
Peserta lainnya juga menyoroti persoalan ekonomi kerakyatan. Ia menyebut banyak anggota paguyuban yang bergerak di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), namun belum mendapatkan akses informasi serta pendampingan yang optimal.
Menurutnya, komunikasi yang lebih baik antara komunitas dan pemerintah dapat membantu program pemberdayaan masyarakat berjalan lebih tepat sasaran.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Ria Saptarika menyatakan akan mendorong penguatan sinergi antara komunitas masyarakat dan pemerintah daerah, termasuk melalui forum dialog lintas paguyuban.
Ia menekankan bahwa pembangunan Batam tidak hanya bertumpu pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga membutuhkan kohesi sosial yang kuat di tengah masyarakat.
Diskusi yang berlangsung dinamis tersebut kemudian ditutup dengan kegiatan buka puasa bersama. Momentum Ramadan dimaknai sebagai kesempatan untuk mempererat kebersamaan sekaligus memperkuat komitmen paguyuban dalam menjaga harmoni sosial di Kota Batam.
Melalui kegiatan ini, HIKMAN Kota Batam menegaskan bahwa paguyuban siap menjadi mitra strategis dalam mendukung arah pembangunan Batam yang lebih inklusif dan partisipatif.
YD

