Buka Pelatihan Muatan Lokal, Amsakar: Pentingnya Jati Diri di Tengah Arus Global

0
504
Foto/Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, membuka Pelatihan Pengembangan Perangkat Ajar Muatan Lokal berdasarkan Perwako Nomor 16 Tahun 2025. Kegiatan ini bertujuan memperkuat jati diri dan nilai budaya Melayu bagi para pendidik di tengah pesatnya arus globalisasi

RASIO.CO, Batam – Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, membuka Pelatihan Pengembangan Perangkat Ajar Muatan Lokal berdasarkan Peraturan Wali Kota (Perwako) Nomor 16 Tahun 2025 di Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Batam, Kamis (20/11).

Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat identitas dan karakter lokal melalui dunia pendidikan.

Dalam sambutannya, Amsakar menyampaikan apresiasi kepada Disdik Batam yang dinilai sigap menindaklanjuti amanat regulasi tersebut. Ia menegaskan bahwa penguatan muatan lokal bukan sekadar pemenuhan dokumen pembelajaran, melainkan kebutuhan mendasar dalam membentuk karakter peserta didik di tengah derasnya arus globalisasi.

“Saya mengapresiasi apa yang dilakukan Dinas Pendidikan saat ini dengan menindaklanjuti Perwako Nomor 16 Tahun 2025 tentang pengembangan perangkat ajar muatan lokal Kota Batam,” ujar Amsakar.

Ia menjelaskan bahwa muatan lokal memuat nilai-nilai dan kearifan daerah yang mesti diwariskan kepada generasi muda agar mereka tidak tercerabut dari akar budaya. Menurutnya, Batam yang memiliki interaksi sosial, ekonomi, dan budaya lintas negara membutuhkan upaya lebih kuat untuk menjaga jati diri daerah.

“Muatan lokal ini penting karena mencerminkan kearifan lokal. Nilai-nilai itu harus ditransformasikan kepada peserta didik agar mereka tetap membumi dan tidak kehilangan identitas daerah,” tegasnya.

Amsakar juga menyoroti dinamika Batam sebagai kota metropolis berbatasan dengan negara serumpun. Interaksi multinasional yang semakin intens, kata dia, menuntut pemahaman kolektif agar identitas lokal tetap terjaga.

“Perlu pemahaman bersama supaya Batam yang interaksinya sudah multinasional ini tetap memiliki identitas yang kuat,” ucapnya.

Selain itu, Amsakar menyinggung tantangan era bonus demografi, di mana komposisi usia produktif Indonesia mencapai 65–72 persen. Generasi muda saat ini, tuturnya, hidup di tengah penetrasi budaya global yang begitu cepat sehingga nilai-nilai lokal kerap dianggap kurang relevan.

“Mereka adalah generasi yang sudah akrab dengan budaya global, sementara nilai lokal dianggap kurang menarik. Karena itu, kita harus memberi pemahaman dan pengetahuan yang tepat,” jelasnya.

Ia menambahkan, perubahan perilaku akibat perkembangan teknologi informasi telah membentuk karakter baru pada generasi muda. Dalam situasi tersebut, muatan lokal berperan penting sebagai benteng pembentukan jati diri.

“Kepribadian lokal dan jati diri yang tertanam melalui muatan lokal ini harus kita jaga. Itulah benteng pembentukan karakter anak-anak kita,” tutupnya.

Redaksi@www.rasio.co//

Print Friendly, PDF & Email






TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini