Gelombang II Bantuan Internasional ke Aceh, Obat-obatan hingga Relawan

0
308
Gubernur Aceh Muzakir Manaf menyampaikan pernyataan perpanjangan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi di Banda Aceh, Aceh, Rabu (10/12). (Foto/ANTARA FOTO)

RASIO.CO, Aceh – Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem menyatakan bahwa gelombang kedua bantuan internasional dari Malaysia untuk korban banjir dan longsor di Aceh telah tiba. Bantuan yang mendarat di Aceh tersebut terdiri dari obat-obatan, pakaian, cokelat, hingga tenaga medis.

Mualem menjelaskan bahwa bantuan logistik dan relawan medis itu segera disalurkan ke daerah-daerah terdampak bencana yang membutuhkan. Bantuan logistik tersebut mencakup 2 ton obat-obatan, 1 ton cokelat, dan pakaian untuk anak-anak.

“Sudah sampai bantuan dari Kuala Lumpur, yaitu 3 ton untuk kita bagi-bagikan ke beberapa kabupaten/kota bersama dokter dan perawat. Obat-obatan 2 ton, 1 ton cokelat dan pakaian untuk anak-anak,” kata Mualem saat jumpa pers di Meuligoe Gubernur Aceh, dikutip CNNIndonesia, Rabu (10/12) malam.

Ia menambahkan bahwa para pengungsi saat ini sangat membutuhkan obat-obatan karena mulai terserang berbagai penyakit, seperti penyakit kulit, gatal-gatal, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), hingga demam.

“Ini saya rasa paling banyak membutuhkan obat-obatan. Apalagi sekarang masyarakat kita sudah terdampak,” ujarnya.

Sebelumnya, Mualem telah memberi lampu hijau bagi bantuan luar negeri yang ingin masuk ke Aceh untuk membantu korban banjir dan longsor. Ia menegaskan tidak ada larangan selama tujuannya membantu.

“Saya rasa tidak ada larangan. Sah-sah saja, tidak ada masalah,” kata Mualem usai rapat percepatan penanganan bencana di Sumatra yang digelar di Lanud Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, pada Minggu (7/12).

Ia memastikan bahwa relawan maupun bantuan luar negeri yang masuk ke Aceh tidak akan dipersulit. “Mereka tolong kita, kok kita persulit?” ujarnya.

Mualem juga mengakui Aceh telah menerima bantuan dari Malaysia dan kini kedatangan gelombang kedua. Selain itu, ia berencana meminta bantuan ahli dari China untuk membantu proses pencarian korban.

Sementara itu, Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin turut menanggapi langkah Gubernur Aceh yang membuka diri terhadap bantuan internasional dalam penanganan bencana hidrometeorologi di tiga provinsi di Sumatra. Menurut Sjafrie, bantuan dari China yang dimaksud Mualem adalah bantuan personal untuk membantu pencarian korban, bukan bantuan negara asing.

“Sebetulnya yang dimaksud itu adalah (bantuan) personal yang dari China, itu untuk menemukan (korban), itu bukan bantuan asing,” kata Sjafrie di Universitas Hasanuddin, Makassar, Selasa (9/12).

“Itu bantuan personal kepada Mualem yang mau mencari jasad-jasad dari para korban bencana,” lanjutnya.

Sjafrie menegaskan bahwa pemerintah RI telah mengerahkan seluruh kekuatan personel untuk melakukan pencarian terhadap korban yang masih hilang akibat bencana banjir dan longsor, dan semua dilakukan secara mandiri tanpa melibatkan pihak asing.

“Tetapi secara keseluruhan penanggulangan bencana yang ada di Sumatera Utara dan Sumatera Barat serta Aceh itu ditanggulangi secara mandiri,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa penanganan bencana di Sumatra berada dalam kendali penuh pemerintah dan dapat ditangani oleh bangsa Indonesia sendiri.

“Kemarin Presiden Prabowo sudah melakukan evaluasi bahwa bencana ini bisa kita atasi oleh bangsa sendiri,” ujar Sjafrie.

Pemerintah, lanjutnya, memiliki peralatan angkut darat, laut, dan udara yang memadai, logistik yang cukup, obat-obatan lengkap, serta tenaga medis yang siap membantu proses penanganan bencana.

***







TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini