RASIO.CO, Bukittinggi – Kota Bukittinggi sangat akrab Jam Gadang-nya. Selain menjadi ikon kota ini, Jam Gadang juga menyimpan banyak sekali sejarah, terutama perjalaanan Provinsi Sumatera Barat dari zaman penjajahan Belanda.

Berlokasi di Benteng Pasar Atas, Guguk Panjang, monumen ini terlihat kokoh. Dan ratusan para wisata lokal maupun mancanegara berkunjung menyaksikan kemegahan jam gadang.
Lokasi jam gadang dikelilingi bagunan tua serta kuliner yang berlokasi tidak jauh dari jam gadang yaitu pasar bawah dan pasar atas yang mempunyai jenjang cukup banyak. Selain itu juga berdiri bagunan KFC serta Ramayana, sehingga cukup memanjakan para wisata lokal maupun mancanegara.

Selain itu, aneka kuliner serta souvenir mudah anda dapatkan dilokasi bergambarkan jam gadang dan bagi anda hobi berfoto keluarga juga ada para fotografer dilokasi untuk mendapatkan sesi pemandangan karena di belakang jam gadang berdiri gagah gunung merapi.
“Sungguh indah karya seniman terdahulu mendirikan jam gadang sehingga jadi monumen sejarah serta icon sumbar,” kata Ajrah berasal dari jakarta. Selasa(12/07).
Ia menambahkan, Baru pertama kali berkunjung ke jam gadang dan sangat mempeson , selain itu juga kota Bukittinggi nan indah dan serta udaranya sangat dingin tanpa polusi,” ujar Azra keturunan minang ini.
Diketahui, Secara harfiah, nama Bukittinggi memiliki arti bukit yang tinggi, hal tersebut sesuai dengan wilayah Bukittinggi yang secara geografis berada di area perbukitan.
Bukittinggi merupakan salah satu pusat perdagangan grosir terbesar di Pulau Sumatera, terutama komoditas tekstil dan pakaian. Pusat perdagangan utamanya terdapat di Pasar Ateh, Pasar Bawah, dan Pasar Aur Kuning.
Bukittinggi adalah kota dengan perekonomian terbesar kedua di Provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Sebagai enklave dari Kabupaten Agam, kota ini pernah menjadi ibu kota Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Kota ini juga pernah menjadi ibu kota Provinsi Sumatra dan Provinsi Sumatra Tengah.
Pada zaman perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, Bukitinggi berperan sebagai kota perjuangan. Dari bulan Desember 1948 sampai dengan bulan Juni 1949 ditunjuk sebagai ibu kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia ( PDRI ), setelah Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda.
Jam Gadang memiliki denah dasar seluas 13 x 4 meter. Bagian dalam menara jam setinggi 26 meter ini terdiri dari beberapa tingkat, dengan tingkat teratas merupakan tempat penyimpanan bandul.
Keunikan lainnya, menara Jam Gadang telah mengalami tiga kali perubahan. Saat pertama didirikan menara berbentuk bulat dan terdapat patung ayam jantan menghadap ke arah timur di atasnya. Namun, pada masa penjajahan Jepang menara diubah menjadi bentuk Pagoda.
Adi@www.rasio.co //

