RASIO.CO,Batam – Jajaran Kepolisian diduga datangi lokasi penimbunan Limbah B3 yang berlokasi di belakang Edukit Batamcentre Batam.Jumat(25/04) sore.
Pantauan lapangan, Terpantau di lokasi lokasi diduga pengumpulan limbah B3, Team Krimsus Polda Kepri mengunakan jaket Berlogo Polisi menyambangi lokasi sedari luar dan belum berhasil masuk karena tertutup rapat pagar besi.
Team penyidik terlihat menenteng map warna merah menggunakan mobil avanza warna silver didepan lokasi dan lebih kurang 1 jam baru ditemui sekurity diluar pagar.
Juga terlihat beberapa mobil truck serta lorry bak tertutup berjejer rapu di sebersng jalan yang diduga digunakan angkut limbah.
“Perusahaan tanpa plang nama dan aktifitas tak jelas mas,” ujar sumber enggan dipublis di lokasi.
Selain itu, Saat awak media mengkonfirmasi bahwa saat ini , pihak beacukai Batam telah mengeluarkan Surat Pemberitahuan Pengeluaran Barang (SPPB)sebanyak 136.
Dan awak media mempertanyakan apakah ratusan kontainer yang akan dikeluarkan seluruhnya, beacukai mejawab melalui Kabid Humas Beacukai, Batam, Setiawan Rosidy.
“Kalo utk ini tergantung bagaimana rekomendasi dari BP dan DLH bang,”
Selain itu, lanjutnya saat ini baru dikeluarkan sebanyak 136 SPPB.
“136 yg sdh SPPB,” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, Dugaan masuknya limbah B3 E-Waste(elektronik) asal Amerika bukan hisapan jempol belaka, Limbah diduga Milik PT.Esun Internasional Utama lebih kurang 129 kontainer terparkir di Pelabuhan Batuampar Batam, Jumat (32/10).
Data diterima rasio.co, Disampaikan Kabid Bimbingan Kepatahan dan Layanan Informasi (Kabid BKLI) Beacukai Batam, Evi Oktavia. Saat ada dipelabuhan Batuampar. PT. Esun Internasional Utama Indonesia yang sudah diperiksa 39 kontainer Kontainer yang sdh sampai belum PPFTZ 90 kontainer dengan
Total keseluruhan 129 Kontainer.
PT. Logam Internasional Jaya Kontainer yang sudah diperiksa 25 kontainer
Sedangkan Kontainer yang sdh sampai belum PPFTZ 139 kontainer dan Total keseluruhan 164 Kontainer
Sedangkan PT. Batam Bayery Recicle Industry totalnya 23 kontainer, Kontainer yang sudah diperiksa 10 kontainer dan Kontainer yang sdh sampai belum PPFTZ 13 kontainer.
“Total seluruhnya 316 kontainer dan Kita sudah minta mereka utk mereekspor barang tersebut,” kata Evi melalui sambungan selularnya.
Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mewacanakan mengembalikan kenegara asal 73 kontainer limbah elektronik (e-waste) Batam.Rabu(08/10).
Pengembalian 73 kontainer kenegara asal merupakan komitmen pemerintah Indonesia melindungi lingkungan hidup dari ancaman limbah berbahaya dan beracun (B3).
Kementrian lingkungan hidup Melalui langkah cepat dan koordinasi lintas instansi, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) berhasil menggagalkan masuknya 73 kontainer limbah elektronik (e-waste) ilegal asal Amerika Serikat dan memastikan seluruhnya akan segera dire-ekspor ke negara asalnya.
Pemerintah tidak akan mentolerir upaya menjadikan Indonesia sebagai tempat pembuangan dan pengolahan limbah ilegal dari luar negeri.
“Setiap pihak yang terbukti melakukan impor limbah elektronik ilegal akan diproses secara hukum dan akan dikenakan sanksi pidana sesuai ketentuan perundang-undangan,” tegas Menteri LH/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq.
Tindakan tegas ini berawal dari hasil deteksi Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan Hidup (GAKKUM LH) KLH/BPLH yang bersama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menemukan indikasi pemasukan e-waste melalui Pelabuhan Batu Ampar, Batam, pada 22–27 September 2025.
Menindaklanjuti temuan tersebut, KLH/BPLH segera melayangkan surat kepada Dirjen Bea Cukai untuk mencegah barang keluar dari pelabuhan serta melakukan pengawasan ketat terhadap sejumlah perusahaan pengimpor limbah elektronik.
Tiga Perusahaan Pemilik 73 Kontainer Limbah.
Hasil pemeriksaan fisik bersama KPU Bea Cukai Batam terhadap 73 kontainer tersebut mengungkap bahwa barang-barang ilegal itu dimiliki oleh PT Logam Internasional Jaya, PT Esun Internasional Utama Indonesia, dan PT Batam Battery Recycle Industry.
Direktorat Pengelolaan Limbah B3 KLH/BPLH memastikan seluruh kontainer berisi limbah B3 kategori B107d (limbah elektronik) dan A108d (limbah terkontaminasi B3), seperti printer circuit board (PCB), karet kawat, CPU, hard disk, serta komponen elektronik bekas lainnya.
Semua kontainer itu kini diproses untuk re-ekspor kembali ke Amerika Serikat.
Masuknya limbah elektronik ilegal tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap Pasal 106 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang menyatakan bahwa setiap orang yang memasukkan limbah B3 ke wilayah Indonesia dapat dipidana penjara 5 hingga 15 tahun dan didenda Rp5 miliar hingga Rp15 miliar.
Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan Hidup, Rizal Irawan, menegaskan komitmen pemerintah untuk membawa kasus ini hingga ke ranah hukum.
Temuan ini menjadi bukti bahwa modus impor limbah B3 masih terjadi. Kami akan berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk membawa kasus ini ke ranah pidana. Selain sanksi administratif, perusahaan-perusahaan yang terlibat akan dihadapkan pada sanksi pidana dan denda sebagaimana diatur dalam UU Lingkungan Hidup,” ujar Irjen Pol. Rizal Irawan.
Langkah tegas KLH/BPLH ini membuktikan bahwa Indonesia tidak akan membiarkan dirinya dijadikan tempat pembuangan limbah dunia. Penegakan hukum lingkungan hidup yang konsisten menjadi kunci utama untuk melindungi kesehatan masyarakat, menjaga kelestarian ekosistem, dan memastikan keberlanjutan lingkungan hidup di tanah air.
Redaksi@www.rasio.co //


