Suka Duka ke Gunung Jantan hingga Bertemu ‘Tongkat Ali’

0
1320

RASIO.CO, Karimun – Bosan di hotel, lalu buka handphone dan googling tentang tempat wisata. Aktivitas ini sontak saja dilakukan Pemred Rasio Media dan Redpel rasio.co ketika berada di Kabupaten Karimun, Minggu dua pekan lalu.

Ada banyak tempat wisata yang terpapar di android, baik wisata alam, relegi, belanja maupun wisata pantai. Namun hari itu pilihan jatuh pada tempat wisata Gunung Jantan dan Air Terjun Pongkar. Liputannya:

Jarum jam masih menunjukkan pukul 09:10 Wib. Matahari pun masih berselimut kabut, namun kami memutuskan untuk meninggalkan kamar 315 Hotel Holiday, tempat menginap. Hotel bintang tiga ini letaknya persis di bibir laut, diapit Pelabuhan Domestik dan Pelabuhan TNI Angkatan Laut.

Tidak ada pernak-pernik yang dibawa, kecuali handphone dan minuman mineral. ‘’Kita langsung tancap saja, pak,’’ tanya Redpel rasio.co sambil menyalakan mesin mobil di parkiran, persis di depan pintu keluar hotel. ‘’Bapak tahu jalan?’’ saya tanya balik. ‘’Kan ada google maping,’’ ujar Redpel menjawab enteng.

Saya pun mengangguk mengiyakan. Selang beberapa menit kami pun memasuki Toyota Avanza warna silver yang sudah dipanaskan, lalu meluncur ke jalan raya yang terasa sempit, karena hampir separuh jalan raya dari kawasan hotel Holiday hingga ke arah barat kota, dipakai untuk parkir roda empat.

‘’Beginilah Karimun, pak. Dari dulu jalannya sempit dan sulit dilebarkan. Banyak bangunan tua yang sudah sulit digeser,’’ ujar Redpel mulai bercerita. ‘’Ini masih mending hari libur, kendaraan agak sepi. Tapi kalau hari kerja, kita nyetir harus sabar dan hati-hati, banyak motor dan macet,’’ tambah Redpel meyakinkan.

Sekitar lima menit meluncur, perjalanan terhenti di sebuah lampu merah. Di depannya ada dua arah jalan yang sama. Orang Karimun menyebutnya Simpang Y. ‘’Kita lewat jalan mana ya?’’ tanya redpel. Saya pun diam saja sambil melempar pandangan ke atas, mencari rambu penunjuk lokasi dan tempat. ‘’Kita lewat jalur kanan saja, pak. Mudah-mudahan di depan ada petunjuk arah untuk sampai ke kawasan Gunung Jantan,’’ saranku kepada Redpel, yang memegang erat stirnya.

Setelah lampu hijau menyala, kami pun melesat mengikuti arah jalan kanan simpang Y. Aspal hotmixnya lumayan mulus, hingga sampai di sebuah pertigaan. Redpel lagi-lagi bertanya, mau pilih jalan yang mana. Saya pun terdiam, karena memang tak mengerti. Di pertigaan tak jauh dari Aston Hotel itu, tak juga ada penunjuk arah jalan. Alhasil redpel pun memutusksan menggunakan gooble talking, penunjuk arah. Tujuan akhir yang ditulis, tentu saja ke Gunung Jantan dan pantai Pongkar.
.
Di tengah kebuntuan, tiba-tiba saya pun teringat seorang teman yang memang berdomisili di Karimun. Saya coba menghubunginya lewat Call WA dan direspon. Saya tawari agar dia bisa ikut. Paling tidak bisa bantu jadi penunjuk jalan. Tapi sayangnya ia menolak karena ada acara keluarga. Saya lantas bertanya saja. Jika ingin ke Gunung Jantan dan Air Terjun Pongkar, melewati jalan apa. Dari ujung telepon, sang teman pun menjawab: paling dekat lewat GOR (Gedung Olah Raga), lewat jalur Poros arah kantor bupati.

‘’Abang harus naik mobil pribadi. Karena untuk sampai ke sana tidak ada kendaraan umum, kecuali carter taksi,’’ ujar sang teman. Dia mengira kami masih berada di hotel. ‘’Abang tulislah di koran abang tuh, bagaimana bisa Karimun memajukan pariwisatanya, kalau kendaraan umum untuk ke objek wisata tidak pernah dipikirkan,’’ ujar sang teman menambahkan. Saya pun mengiyakan saja sambil menutup telepon dan berterima kasih.

Setelah lampu hijau kami pun melanjutkan perjalanan ke arah lurus. Namun tak seberapa jauh, lagi-lagi ketemu perempatan lampu merah. Redpel pun kembali bertanya, arah mana lagi yang harus ditempuh. Belok Kiri, belok kanan, atau lurus. Saya pun terdiam, sambil mengamati di perempatan itu, kalau-kalau ada penunjuk jalan ke Gunung Jantan atau pantai pongkar. Tapi hingga leher berputar, rambu petunjuk jalan sama sekali tak terlihat.

‘’Kita lurus saja pak,’’ ucapku kepada Redpel. Tapi tak seberapa jauh, ketemu lagi pertigaan yang ada nama jalannya yakni Jln Yos Sudarso. ‘’Kita ke kanan pak, mungkin ini arah jalan ke kantor Bupati,’’ pintaku kepada Redpel sambil menebak dan yakin benar. Tapi rupanya, tebakan salah. Kami pun tersasar balik ke arah kota kembali.

Saya melihat raut wajah Redpel agak kesal. Sesekali dia berucap: kota dengan banyak persimpangan ini, seharusnya dilengkapi dengan petunjuk arah yang jelas, bukan sekedar nama jalan. Misalnya, arah kiri ke rumah sakit atau kantor Bupati. Arah kanan misalnya pantai, dan sebagainya. ‘’Kalau nama jalan saja, mana orang luar bisa faham. Begitu sampai di persimpangan pasti bingung mau kemana lagi,’’ ucap redpel sedikit jengkel.

Rasa jengkel itu semakin lengkap, karena penunjuk arah dari googletalk juga acap kali berbunyi: signal terputus. Saya pun melihat jam tangan, jarum jam sudah menujukkan pukul 10:35 Wib. Itu artinya hampir satu jam kami berputar-putar hanya di dalam kota saja.

Ibarat pepatah: Malu bertanya sesat di jalan. Alhasil, meski telanjur nyasar, kami pun bertanya kepada seorang pengendara. Minta diberitahu kemana arah jalan menuju ke Gunung Jantan dan Pantai Desa Pongkar. ‘’Dari sini bapak lurus saja. Nanti ketemu lampu merah, persimpangan rumah sakit daerah, bapak belok ke kiri dan lurus saja. Nanti baru ketemu gedung Olahraga, dan selanjutnya ikuti saja jalan aspal,’’ ujarnya sambil mengangkat dan meliuk-liukkan tangan kanannya.

Kami pun akhirnya memutuskan mengikuti petunjuk pengendara yang baik hati tersebut. Sekitar dua kilometer dari pertigaan rumah sakit, kami pun melintasi jalan Poros. Ada perasaan lega ketika melintas di depan Komplek perkantoran Bupati Karimun. Bahkan, tak jauh dari ujung komplek perkantoran, barulah terlihat petunjuk arah jalan ke Pantai Pongkar (Lurus), ke Bandara Sei Bati (Kanan) dan Jelutung Telung Bakau (Kiri).

‘’Nah ini, seharusnya rambu-rambu seperti ini, dipasang sejak kita berada di Pelabuhan. Jadi jika ada orang baru berkendaraan di jalan Karimun ini, mereka tidak bingung mencari arah yang ingin dituju,’’ ucap Redpel tersenyum kecil.

Kendaraan pun akhirnya dipacu lebih cepat. Jalan menuju ke kawasan wisata Gunung Jantan dan Pantai Pongkar, ternyata berliku-liku dan naik turun perbukitan kecil. Sekitar 100 meter dari kawasan wisata ini, ada sebuah gapura yang bertuliskan “Objek Wisata Air Terjun Desa Pongkar.’’

Kami pun akhirnya berhenti di penghujung jalan aspal. dari sini terlihat ada plantar beton yang cukup lebar dibangun. Panjangnya hampir 500 meter menjorok ke laut. Tapi pelantar beton ini belum tersambung ke penghujung jalan aspal. ‘’Kawasan ini rencananya mau dibangun pelabuhan. Tapi belum dilanjutkan pembangunannya,’’ ujar seorang warga yang hendak turun mencari kerang di pantai ujung jalan ini. Dari lokasi ini juga terlihat hijaunya hutan gunung pongkar.

Disambut Kelapa Muda

Ketika berada di kawasan wisata ini, matahari sudah tegak di atas kepala. Cuaca panas terik terasa menyengat kulit. Ditambah hembusan angin laut, tenggorokan pun terasa kering. Kami pun akhirnya memutuskan beristirahat sejenak di pendopoan di kaki bukit pongkar.

Ada banyak pedagang makanan dan minuman disini. Bahkan bisa membeli nasi bungkus, untuk dibawa naik ke gunung, sambil menikmati pemandangan kota Karimun dari ketinggian gunung ini. Namun kami hanya memesan kelapa muda sekedar pelepas dahaga.

Hari itu, pengunjung yang datang ke Air terjun dan Naik Gunung Jantan di Desa Pongkar ini, lumayan ramai. Mereka silih berganti, turun dan naik. Mayoritas anak-anak muda yang membawa pasangan serta anak sekolah. Ada juga beberapa turis dari Malyasia dan Singapura bersama keluarga.

Untuk mencapai air terjun ini, pengunjung harus berjalan kaki sekitar 200 meter dari arah parkiran. Namun perjalanan Anda tidak akan membosankan atau bahkan melelahkan, karena Anda akan dimanjakan dengan pemandangan hijau. Beraneka ragam pepohonan, suara kicauan burung, dan monyet-monyet yang bergelantungan menyambut kedatangan pengunjung.

Untuk menikmati wisata air terjun Pongkar ini, pengunjung tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Cukup sediakan uang sebesar Rp. 5.000,- untuk tiket masuk air terjun. Selain itu, Anda juga perlu membayar biaya parkir sebesar Rp. 2.000,-. Wisata air terjun Pongkar ini buka setiap hari mulai dari pukul 08.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Jadi Anda dapat merasakan keindahan air terjun sesuka hati.

Pengunjung juga akan merasakan keasrian dalam perjalanan menuju air terjun pongkar karena air terjun ini memang terletak di dalam hutan yang sangat asri, yaitu hutan Lindung. Selain dijadikan sebagai tempat rekreasi, hutan ini juga berfungsi sebagai hutan paru-paru daerah. Terdapat banyak flora dan fauna yang akan Anda temukan dalam perjalan menuju air terjun.
Fasilitas Air Terjun Pongkar.

Air terjun Pongkar ini berbeda dengan air terjun yang berada di Jawa. Biasanya air terjun mengalir dari tebing yang cukup tinggi dan mengalir dengan debit air yang besar. Namun tidak dengan iar terjun Pongkar ini. Air mengalir dengan debit air yang tidak berlalu besar, serta mengalir dari tebing yang tidak begitu tinggi.

Meskipun demikian, Anda akan merasakan kesegaran air yang mengalir di atas bebatuan serta keasrian wisata air terjun Pongkar ini. Anda juga dapat mandi dibawah air terjun untuk merasakan sensasi pijatan Dari arus air terjun.

Wisata Kuliner

Selain itu, di sekitar air terjun Pongkar juga sudah tersedia beberapa warung yang menyediakan makanan serta minuman. Disana juga telah tersedia kamar mandi. dengan berbagai fasilitas yang tersedia, membuat liburan Anda semakin menyenangkan.

Dan yang paling sensasional, ternyata di bagian atas bukit air terjun ini, terdapat sebuah warung yang menjual minuman ramuan Pasak Bumi. Orang Malaysia menyebutkan minuman ramuan ‘Tongkat Ali’.

Warung ini pun sudah ada sejak puluhan tahun silam, dan tanaman Pasak Bumi ini juga menjadi ciri khas Gunung Jantan yang sulit ditemui. Konon harus ada ritual perburuan tanaman Pasak Bumi ini. Bagaimana ceritanya, akan kami sajikan pada edisi berikutnya. (*) bersambung….

DH@www.rasio.co //







TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini