RASIO.CO, Batam – Bersimpena Hari Jadi Kota Batam ke-190 yang dikemas dalam Batam Night Carnival dan Pawai Budaya turut dimeriahkan seni budaya Debus yang dipersembahkan oleh Panguyuban Warga Banten(puwnten) di Dataran Engku Hamidah, Batam. Sabtu(14/12).
Debus adalah seni pertunjukan bela diri yang dikenal sebagai salah satu seni pertunjukan masyarakat Banten di barat Pulau Jawa. Sebuah kesenian yang mempertunjukan kemampuan manusia yang luar biasa berupa menahan siksaan jasmani yang disengaja.

Memperlihatkan kekebalan tubuh manusia terhadap apa saja yang secara normal akan mengakibatkan manusia terluka. Aksi kekebalan terhadap senjata tajam, memakan api, memotong lidah hingga bergulingan di atas serpihan kaca dan lain sebagainya.

Bagi masyarakat Banten, kesenian Debus merupakan warisan budaya leluhur yang hingga kini tetap bertahan sebagai bentuk identitas Masyarakat Banten. Nilai-nilai budaya dalam kesenian ini lebih cenderung dipengaruhi oleh unsur-unsur Agama Islam yang dijadikan sebagai acuan dalam bertingkah laku.
“Disamping memeriahkan Hari Jadi Batam ke190, kesenian Debus juga sebagai bentuk menarik wisata asing berkunjung ke Batasm,” kata Sekretaris Panguyuban Warga Banten, M Zaini Sudarsono di Dataran Engku.

Selain itu, Lanjutnya, Seni Budaya Debus juga dapat mempersatukan warga Banten yang ada di Batam karena paguyuban juga punya program sosial diantaranya penghijauan dan sat ini sedang proses kerjasama dengan pemko batam.
“Salah satu bentuk sumbangsih kami di hari jadinya batam, mempersembahkan Debus sebagai khas budaya nusantara bahkan debus telah sampai ke mancanegara,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil walikota Batam, Amsakar Ahmad, Malam ini masyarakat Batam tumpah ruah. Meskipun hujan cukup panjang, tidak menyurutkan semangat untuk berpartisipasi. Ini menunjukkan kecintaan kita kepada Kota Batam.
Karnaval di malam hari ini menampilkan 22 busana kreasi Batik Batam. Kain-kain batik bermotif ciri khas Batam diolah sedemikian rupa sehingga menjadi pakaian berdesain menarik.
“Seluruh motif ada tapi dominannya memang motif ikan marlin,” ujarnya.
Sementara itu pawai budaya diikuti sekitar seribu peserta. Seluruh komunitas dan paguyuban ikut ambil bagian dalam kegiatan ini.
Paguyuban yang berpartisipasi antara lain dari keluarga Karimun, Lingga, Sumatra Barat, Betawi, Bawean, Bali, hingga Indonesia Timur. Tiap paguyuban menampilkan ciri khas masing-masing. Seperti keluarga Betawi yang membawa ondel-ondel dan miniatur Monas. Ada juga penampilan barongsai, pencak silat, dan sebagainya.
“Masing-masing dikoordinasikan oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD),” tutur Amsakar.
Kemeriahan pawai budaya ini, menurutnya, cermin adanya kebersamaan dan persatuan. Kebersamaan dan rasa cinta terhadap kota ini perlu dalam mendukung pembangunan Batam.
“Membangun Batam, kalau semua komunitas bersatu, insya Allah apa yang kita cita-citakan menjadikan Batam kota maju bisa terwujud,” kata dia.
APRI@www.rasio.co //

