Filosofi Rasa: Internalisasi Nilai Luhur dari Dapur hingga ke Batin

Oleh: Tantri Ida Nursanti, M.Psi - Penggiat Literasi

0
383
Tantri Ida Nursanti, M.Psi - Penggiat Literasi dari Surabaya

RASIO.CO, Batam – Pernahkah kita benar-benar menyadari apa yang sedang kita kunyah? Di tengah hiruk-pikuk gaya hidup modern, makan sering kali hanya menjadi aktivitas mekanis untuk menggugurkan rasa lapar atau sekadar mengikuti tren kuliner.

Kita rela mengantrI panjang di booth makanan mall yang penuh sesak, namun sering kali kehilangan momen untuk benar-benar “hadir” bersama apa yang kita santap. Padahal, jika kita menengok kembali pada kearifan leluhur, meja makan sebenarnya adalah laboratorium terkecil untuk melatih kesadaran diri dan kedaulatan jiwa.

Jika sebelumnya saya pernah mengulas bagaimana pakaian menjadi cermin jiwa yang tampak dari luar, maka makanan adalah “nutrisi batin” yang dirancang untuk membersihkan apa yang ada di dalam.

Para Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga, adalah sosok-sosok yang sangat memahami psikologi ini. Beliau tidak hanya menyebarkan ajaran melalui lisan, tetapi melalui “bahasa budaya” yang bisa disentuh, dicium, dan dirasakan: makanan. Namun, di tengah keberlimpahan opsi makanan hari ini, sering kali kita hanya kenyang secara fisik, tetapi hampa secara makna.

Dalam hasil penelitian Ahmad Buhori mengenai simbolisme pangan di Godean, Yogyakarta, kita menemukan bahwa setiap elemen di atas piring tradisional adalah instrumen internalisasi nilai. Ambil contoh Ketupat.

Anyaman janurnya yang rumit adalah representasi dari kompleksitas kesalahan dan nafsu manusia. Namun, di balik anyaman itu, terdapat nasi putih bersih yang melambangkan Pancer—inti diri atau fitrah yang harus tetap suci melalui proses ngaku lepat (mengaku salah). Sayangnya, sering kali kita lebih sibuk memotret bentuk luar ketupat demi konten, tanpa sempat membedah maknanya ke dalam sukma.

Proses makan sebenarnya adalah ritual “mengikat yang empat” (Kukut-ing Papat). Empat sudut ketupat mewakili empat nafsu (Amara, Lawamah, Sufiyah, Mutmainah) yang harus ditenangkan agar sang Pancer bisa bersinar.

Begitu pula dengan Apem dan Ketan. Secara filosofis, ketan melambangkan kekhilafan (khotoan), sementara apem melambangkan ampunan (afwan).

Penempatan apem di atas ketan adalah simbol visual tentang harapan bahwa pengampunan harus selalu menutupi kesalahan kita. Di meja makan yang riuh, mampukah kita tetap mengingat bahwa setiap suapan adalah kesempatan untuk memaafkan diri sendiri?

Internalisasi ini meluas menjadi sebuah pemberdayaan diri yang nyata. Kita melihatnya pada simbol Ingkung Ayam yang kakinya terikat—sebuah pengingat untuk mengendalikan gerak nafsu agar kesadaran kita tetap terarah pada tujuan hidup yang lebih mulia. Meja makan adalah ruang di mana kita belajar tentang keseimbangan dan kedaulatan batin. Namun, kedaulatan itu sering kali luruh saat kita membiarkan diri diperbudak oleh keinginan tanpa batas, alih-alih kebutuhan yang sadar.

Napas kearifan ini menemukan relevansinya dalam ruang-ruang transformasi seperti komunitas Banyumili. Dalam beberapa diskusi saya dengan penggagasnya, R. Bagus Herwindro, beliau sering menekankan pentingnya konsep “hadir” (presence) dan kesadaran holistik.

Bagi Pak Bagus, pemberdayaan diri dimulai ketika seseorang mampu hadir utuh di momen saat ini (here and now). Di Banyumili, kebersamaan sering dirayakan di depan rupa-rupa hidangan—dari yang tradisional hingga modern.

Foto-foto makanan yang sering dibagikan kawan-kawan bukan sekadar dokumentasi visual yang menggugah selera, melainkan sebuah pernyataan tentang rasa syukur dan kehadiran jiwa yang utuh di tengah keberagaman.

Hal ini sejalan dengan apa yang diulas oleh Samsul Hidayat dalam bukunya, Food and Religion: Eksplorasi Makanan dalam Tradisi Keagamaan. Makanan adalah fenomena multidimensional yang menghubungkan dimensi fisik dengan spiritual, berfungsi sebagai jembatan yang mempromosikan pemahaman dan kebersamaan.

Melalui setiap suapan yang dinikmati dengan sadar, kita sebenarnya sedang diajak untuk pulang ke rumah diri. Kita belajar bahwa meski “saudara empat” (ego dan nafsu) kita berbeda-beda, kita tetap bisa kembali pada satu pusat yang sama: kemanusiaan yang damai.

Ternyata, di tengah antrean makanan yang panjang itu, esensi pemberdayaan diri bukan terletak pada apa yang kita beli, melainkan pada seberapa sadar jiwa kita saat menikmatinya.

Sepiring rasa, seulas doa,

Mengikat nafsu dalam heningnya jiwa.

Makan adalah cara batin bicara,

Tentang hadir, di tengah hiruk-pikuk dunia.

(Tantri Ida Nursanti, M.Psi – Penggiat Literasi)

Print Friendly, PDF & Email





TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini