Perekonomian Kepri Tumbuh Menguat di Triwulan I-2018

0
682

RASIO.CO, Batam – Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mulai meningkat pada triwulan I-2018. Pertumbuhan ekonomi Kepri sebesar 4,47% (yoy), lebih tinggi dibanding pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 2,57% (yoy). Namun masih lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi nasional yang tumbuh 5,06% (yoy). 

Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi triwulan I-2018 dipengaruhi oleh perbaikan kinerja investasi. Kinerja investasi meningkat 6,49%, didorong oleh kinerja investasi bangunan dan non bangunan.

Investasi bangunan tumbuh menguat sebesar 6,05% (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 3,96% (yoy), sedangkan investasi non bangunan tumbuh sebesar 5,35% (yoy), naik cukup signifikan dibanding triwulan sebelumnya yang terkontraksi 3,34% (yoy).

Net ekspor masih mencatatkan kontraksi terutama bersumber dari penurunan ekspor luar negeri. Konsumsi pemerintah tumbuh menguat 9,00% (yoy) lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 3,01% (yoy).

Sementara itu, konsumsi rumah tangga tumbuh melambat menjadi 6,50% (yoy) dari 6,61% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Perlambatan tersebut terkonfirmasi dari Survei Konsumen yang berada di level pesimis.

Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi bersumber dari perbaikan kinerja sektor industri pengolahan, konstruksi dan perdagangan. Kinerja sektor industri mengalami pertumbuhan 4,43% (yoy), pertumbuhan ini terutama ditopang oleh pertumbuhan produksi kapal dan struktur terapung lainnya, serta produk-produk dari besi baja.

Sejalan dengan meningkatnya realisasi pertumbuhan investasi bangunan, sektor konstruksi juga tumbuh 5,08% (yoy) dari terkontraksi 0,18 (yoy) triwulan sebelumnya. Pertumbuhan juga dicatat oleh sektor pertambangan dan penggalian dipengaruhi oleh tren kenaikan harga migas dan relaksasi ekspor bauksit.

Sektor perdagangan tumbuh sebesar 5,84% (yoy), dipengaruhi oleh tingginya tingkat kunjungan wisman pada triwulan laporan yang tumbuh 27,27% (yoy) dibanding triwulan lalu 17,23% (yoy).

Tekanan inflasi Kepri cukup tinggi pada triwulan I-2018.

Inflasi triwulan I-2018 sebesar 5,05% (yoy), lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya dengan inflasi sebesar 4,02% (yoy). Kelompok administered price, mencatatkan inflasi 8,63% (yoy), dengan andil terbesar inflasi dari tarif listrik. Kenaikan tarif listrik oleh PT. Bright (PLN Batam) merupakan yang ketiga kalinya sesuai dengan Peraturan Gubernur Kepulauan Riau No. 21 Tahun 2017.

Komoditas inti mencatatkan inflasi 2,27% (yoy), terutama disumbang oleh upah tukang bukan mandor. Sementara itu, tingkat inflasi volatile food sebesar 9,15% (yoy) terutama disumbang oleh komoditas cabai merah dan beras.

Memasuki April 2018, Kepri mencatatkan deflasi 0,29% (mtm) atau secara tahunan terjadi inflasi 4,35% (yoy). Secara total tahunan (Januari – April , inflasi Kepri sebesar 0,76% (ytd). Andil terbesar deflasi April bersumber dari komoditas cabai merah.

Membaiknya perekonomian Kepri pada triwulan-I 2018 turut mendorong kinerja perbankan. Kinerja perbankan (bank umum dan BPR konvensional) pada triwulan I-2018 membaik dibandingkan triwulan sebelumnya tercermin dari peningkatan pertumbuhan Kredit.

Kredit (berdasarkan lokasi proyek) tercatat tumbuh menguat 7,25% (yoy) dibandingkan pertumbuhan pada triwulan IV-2017. Berdasarkan jenis penggunaan, pertumbuhan kredit pada triwulan ini dipengaruhi oleh perbaikan kinerja kredit modal kerja yang menunjukkan pertumbuhan sebesar 0,64% (yoy), meningkat signifikan dari triwulan lalu yang terkontraksi sebesar 5,84% (yoy).

Stabilitas keuangan daerah relatif tetap terjaga sejalan dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi Kepri. Tingkat tingkat kredit bermasalah (NPL) Kepri pada triwulan I-2018 sebesar 4,23% , membaik dibandingkan periode sebelumnya yang tercatat sebesar 5,07%, sehingga pada triwulan ini NPL Kepri berada di bawah ambang batas (treshold) sebesar 5% yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia.

Aktivitas sektor UMKM tumbuh menguat tercermin dari pertumbuhan kredit UMKM sebesar 6,35% (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,31% (yoy). Sementara itu, Loan to Deposit Ratio (LDR) Kepri berdasarkan lokasi proyek mencatatkan kenaikan menjadi sebesar 93,19% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 91,51%.

Sejalan dengan membaiknya kinerja perbankan (bank umum dan BPR konvensional), kinerja bank umum konvensional triwulan I-2018 juga menunjukkan perbaikan. Penyaluran kredit bank umum (berdasarkan lokasi proyek) pada triwulan I-2018 tercatat tumbuh 8,85% (yoy), meningkat dari triwulan IV-2017 yang hanya mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,15% (yoy).

Sementara aset dan DPK bank umum (berdasarkan lokasi bank) tumbuh melambat masing-masing sebesar 8,63% (yoy) dan 8,37% (yoy) dibandingkan triwulan lalu sebesar 9,48% (yoy) dan 11,35% (yoy). Berdasarkan sektor ekonomi, porsi penyaluran kredit bank umum Kepri terbesar adalah pada sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 15,19% dari total kredit, diikuti oleh industri pengolahan (14,29%) dan sektor transportasi, gudang dan komunikasi (10,35%).

Kinerja BPR menurut indikator DPK dan Kredit tercatat tumbuh menguat sementara kinerja pembiayaan syariah mengalami perlambatan pada triwulan I-2018. Penyaluran kredit BPR Kepri tumbuh menguat dari 7,76% (yoy) pada triwulan lalu menjadi 38,73% (yoy) pada triwulan laporan. DPK BPR juga mengalami peningkatan dari 6,19% (yoy) pada triwulan IV-2017 menjadi 7,97% (yoy) pada triwulan ini.

Namun, aktivitas pembiayaan syariah Kepri pada triwulan I-2018 tercatat mengalami perlambatan, tercermin dari penurunan pembiayaan syariah Kepri yang terkontraksi sebesar 6,40%, menurun dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 4,53% (yoy). Sejalan dengan perlambatan pembiayaan, aset perbankan syariah pada triwulan I-2018 juga tumbuh melambat menjadi 8,31% (yoy).

Sesuai dengan pola historisnya, net outflow mengalami peningkatan sementara pembayaran non-tunai (kliring) mengalami kontraksi namun membaik dibandingkan triwulan sebelumnya. Net outflow uang kartal pada triwulan I-2018 adalah sebesar Rp 633 Miliar, tumbuh 162,01% (yoy) dibandingkan triwulan yang sama tahun lalu yang juga mencatatkan net outflow sebesar Rp 242 Miliar.

Transaksi non tunai (kliring) masih terkontraksi namun lebih baik dibandingkan periode lalu. Pada triwulan I-2018, nominal transaksi terkontraksi 26,27% (yoy) dibanding triwulan lalu sebesar 33,15% (yoy).

Perekonomian Kepri triwulan II-2018 diperkirakan tumbuh pada kisaran 4,3 – 4,7% (yoy). Dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan disumbang oleh pertumbuhan kinerja industri pengolahan, konstruksi dan perdagangan. Dari sisi konsumsi, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan disumbang oleh pertumbuhan kinerja konsumsi RT dan investasi. Sepanjang tahun 2018, perekonomian Kepri diproyeksikan akan tumbuh sekitar 3,1%-3,5% (yoy) ditopang oleh investasi, sektor kontruksi dan industri pengolahan.

Laju inflasi pada triwulan II-2018 diperkirakan akan sedikit melemah, karena sudah tidak ada lagi rencana kenaikan tarif listrik yang memicu inflasi di triwulan I-2018. Namun masih terdapat beberapa risiko pendorong inflasi yaitu peningkatan permintaan menjelang Bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri yang dapat meningkatkan inflasi volatile food.

Selain itu, berdasarkan pola historisnya, tarif angkutan udara diproyeksikan akan mendorong inflasi administered price. Secara total tahunan, inflasi Kepri 2018 diperkirakan masih dalam kisaran target inflasi Nasional 3,5% ± 1% (yoy). (red/r).

APRI@www.rasio.co

 







TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini