Sabtu, November 7, 2026
No menu items!
Beranda blog Halaman 1565

Jaksa Berang, Hakimpun Gerah Ulah Ismail Berbelit Dipersidangan

0

RASIO.CO, Batam – Ulah terdakwa Ismail Bin Mahmud selalu berbelit-belit dalam kasus dugaan penipuan lahan senilai Rp2,5 milyar membuat JPU berang bahkan majlis hakimpun gerah sehingga akan dihukum berat nantinya jika terbukti.

” Saudara ngakunya mendapat fee Rp10 juta, namun mengeluarkan cek kosong senilai Rp1 milyar dan saudara beralasan membantu teman? dari awal saudara selalu berbelit padahal saudara sudah pernah dihukum dalam kasus yang sama,” Kata JPU diruang sidang Kartika PN Batam. Kamis(14/09/2017).

Lanjut dia, Keterangan saudara selalu bersama terdakwa Ruslan berbelit-belit, mana mungkin saudara hanya beralasan membantu teman saudara Amir(DPO) dan dalam hal ini tidak mendapat keuntutngan apa-apa?

” Sudah berapa kali saudara Ismail melakukan penipuan? bahkan habis perkara sidang ini saudarapun sudah ditunggu kasus penipuan lainnya,” ujar JPU kesal.

Sementara itu, Majlis hakim ketuapun merasa gerah ulah terdakwa Ismail yang kembali berbohong mengatakan hanya menerima imbalan 10 juta dalam kasus ini, namun mengakui memberi cek kosong terhadap korban Fie-fie.

” Saudara Ismail kalau masih terus berbohong berarti saudara sudah siap dihukum berat,” ujar hakim ketua.

Majlis hakim ketua Mangapol Manalu yang didampingi dua hakim anggota bersama JPU penganti menunda persidangan minggu depan dengan agenda mendegarkan tuntutan.

Sebelumnya, Majlis hakim ketua PN Batam Mangapul Manalu dalam agenda periksaan saksi BP Batam Gaung Wibowo dan terdakwa Ruslan menilai penipuan yang dilakukan terdakwa Ismail Bin Mahmud cs diduga karena rakus, pasalnya hanya bermodalkan pembayaran faktur 10 persen berhasil menipu Rp1 Milyar.

“berdasarkan keterangan saksi Gaung BP Batam, bahwa baru hanya pembayar faktur 10 persen dalam pengajuan lahan belum bisa dipastikan lahan milik pemohon, artinya terdakwa Ismail bermodalkan faktur berhasil menipu korbannya Rp1 milyar dan itu rakus namanya,” ujar majlis hakim ketua Mangapul Manalu didampingi dua hakim anggota. Kamis(31/08/2017).

lanjut Dia, termasuk Amir(DPO) dan terdakwa Ruslan sebagai Direktur PT Trio Putra Ananda sebagai pembayar faktur 10 persen di bank Mandiri serta denah lokasi berusaha menipu korban Fie-fie dan berhasil, namun saksi Gaung perwakilan BP Batam jelas mengatakan lahan 1000 M2 teryata milik Voni Kasenda.

“dugaan terdakwa bertiga dimana satu buron masing-masing punya perusahaan dan berkoloborasi menipu korban bermodalkan peta lokasi dan faktur ,” ujarnya.

Sementara itu, JPU penganti mempertayakan terhadap saksi terdakwa Ruslan, apakah dari uang yang berhasil menipu korban Rp1 milyar mendapat bagian karena perusahaannya dipakai untuk menggurus segalanya?. Ruslan menjawan langsung tidak, namun saat dipertegas JPU barulah mengakui.

“Ya yang mulia, saya baru menerima 15 juta dari perjanjian dengan Ismail dan Amir(DPO) 10 persen,” ujar terdakwa Ruslan.

Terdakwa Ismail Bin Mahmud bersama Ruslan dan Amir(DPO) diduga menipu Fie-fie lebih kurangRp1 milyar dengan modus menawarkan sebidang tanah 1000 m2 di Batam Centre tepatnya di belakang Perum. Puri Mas. parahnya tanah tersebut telah dimiliki Vony Kasenda.

Untuk menyakinkan korbannya terdakwa Ismail dan Ruslan sebagai direktur utama (berkas berbeda) menunjukkan Surat Pemberitahuan Pengalokasian Lahan dari BP Batam dengan nomor Surat : B/2246/A3-A3.4/LH.01.00/6/2015 tanggal 16 Juni 2015 kepada PT. Trio Putra Ananda.

Faktur Tagihan Uang Muka (Faktur Tagihan UWTO) dengan nomor A. 0004061503 tertanggal 16 Juni 2015 kepada PT.Trio Putra sebesar Rp. 5.175.000.

Bukti Pembayaran Faktur Tagihan Uang Muka (Faktur Tagihan UWTO) ke Rekening Bank Mandiri BP Batam sebesar Rp. 5.175.000.-. Gambar Penetapan Lokasi Lahan, namun semua itu palsu.

“Ismail meyakinkan kami dengan legalitas diatas, untuk itu kami sudah menyerahkan Rp1,2 milyar dan membuat surat perjanjian pengikatan jual beli pengoperan dan pemindahan hak atas tanah pengajuan lahan di depan Notaris DR Markus Gunawan SH, MKn,” Kata Fie-fie diruang sidang pengadilan PN Batam. Senin(21/08/2017).

Lanjut Dia, selanjutnyamenyerahkan 5 lembar cek tunai Bank Mandiri sebesar Rp. 1.250.000.000.- , disaksikan oleh terdakwa Ismail dan Amir (DPO) sesuai dengan permintaan saksi Ruslan Bin Jasman untuk pembayaran objek tersebut.

“Cek tersebut dicairkan Ismail sendiri sesuai laporan bank yang mulia,” jelasnya.

Fie-fie mengatakan, Ismail dan Ruslan juga berjanji bahwa dalam waktu 3 atau 4 hari akan dilakukan pengukuran di tempat lokasi lahan tersebut tetapi sampai batas waktu yang telah dijanjikan, tidak pernah dilakukan pengukuran hingga sampai batas waktu yang telah ditentukan

dan sekitar bulan Juli 2016 pada saat korban melewati lokasi yang telah dijual saksi Ruslan kepada korban ternyata di lahan tersebut sedang ada aktifitas seperti membersihkan lahan dan petugas BP Batam sedang melakukan pengukuran.

“Akhirnya terdakwa bersama ruslan berusaha mengembalikan dengan cek tetapi saat dicairkan cek kosong dan kami laporkan terhadap polisi,” ungkap korban.

Majlis hakim ketua Mangapul didampingi dua hakim anggota sempat menghardik terdakwa Ismail karena berbelit-belit dalam persidangan bahkan membantah BAPnya.

“Saudara silahkan berbohong, dimana dapat memperberar hukuman saudara sesuai pasalnya 4 tahun pencara,” kata Mangapul.

Sidang dilanjutnya pekan depan dengan agenda masih mendegarkan keterangan saksi-saksi yang akan dihadirkan JPU Hendarsyah Yusuf Permana.

APRI@www.rasio.co

 

Lagi, Sabu dan Heroin Asal Malaysia Dimusnahkan Polda Kepri

0

RASIO.CO, Batam – Jajaran kepolisian Subdit III Resnarkoba Polda Kepri kembali menusnahkan 121 gram sabu dan 10 gram heroin asal Malaysia yang diamankan Bea Cukai pelabuhan Intenasional Batamcentre. Senin(14/08/2017). lalu dengan tersangka MS.

Selain memusnahkan berang haram asal malaysia tersebut, juga dimusnahkan ganja kering yang diduga berasal dari Aceh seberat 480 gram, namun merupakan hasil tangkapan Subdit II Resnarkoba Polda Kepri dengan tersangka JH.

Barang sabu dan heroin dimusnahkan dengan cara dilarutkan dalam air panas mendidih dalam tong lalu dibuang dalam seftytank sedangkan narkoba jenis ganja dibakar dengan tong besi disaksikan Polisi, BNNP Kepri, Kejaksaan, BPOM Kepri, dan LSM Granat.

” Sabu dan Heroin merupakan tangkapan Bea Cukai sedangkan Ganja diamankan dari JH dirumah kosannya,” Kata Kasubbid Penmas Bidhumas Polda Kepri AKBP Edi Santoso didampingi Kasubdit III Dit Resnarkoba Polda Kepri AKBP Arthur Sitindaon. Kamis(14/09/2017).

KataDia, MS merupakan warga negara Malaysia dikedapatan membawa sabi dan heroin dengan cara menyembunyikan dalam duburnya yang dilapisi karet kondom berupa kapsul.

Sedangkan, tersangka JH berhasil diamankan 480 gram kering dirumah kosnya dalam plastik hitan dapurnya dan dalam pengakunya barang haram tersebut diperoleh dari rekannya MUS(DPO),” pungkasnya.

Kedua tersangka dijerat Pasal 114 ayat (1), Jo pasal 111 (1), pasal 114 ayat (2) jo pasal 112 (2), pasal 113 ayat (1) juncto pasal 132 ayat (1)Undang-undang Republik Indonesia no.35 tahun 2009. dengan ancaman hukuman mati.

APRI@www.rasio.co

 

 

Begini Hasil Investigasi Kemenkes Meninggalnya Bayi Debora di Mitra Keluarga

0

RASIO.CO, Jakarta – Kementerian Kesehatan mengelaborasi fakta temuan hasil penelusuran investigasi meninggalnya Bayi Debora saat mendapat penanganan Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres dan menunjukkan ada kesalahan administrasi.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Oscar Primadi dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (13/9/2017), menjelaskan bahwa RS Mitra Keluarga Kalideres telah melakukan penanganan medis kepada pasien Bayi Debora, namun terdapat kesalahan pada layanan administrasi dan keuangan yang diberikan oleh RS terhadap status pasien.

“Layanan medik sudah diberikan oleh RS, tetapi untuk menilai kesesuaian dengan standar akan ditindaklanjuti dengan audit medik oleh Profesi,” kata Oscar.

Oscar menjelaskan, pihak rumah sakit sudah mengetahui bahwa pasien Bayi Debora merupakan peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, namun tetap menerima biaya perawatan.

“Uang muka diminta saat akan dilakukan perawatan lanjut. Kebijakan SPO RS terhadap pembayaran uang muka 1×24 jam. Pasien mau membayar biaya pelayanan RS,” terang dia.

Oscar juga menjelaskan, bahwa RS Mitra Keluarga Kalideres saat kejadian mempunyai fasilitas untuk memenuhi kebutuhan pasien. Selain itu, sebenarnya RS Mitra Keluarga Kalideres sudah biasa melayani pasien peserta BPJS Kesehatan dan melakukan klaim ke lembaga negara tersebut.

“RS sudah melakukan klaim secara rutin pasien gawat darurat ke BPJS sebanyak 24 kali, dengan 24 kali terbayarkan dan tiga klaim masih dalam proses,” kata dia.

Atas kasus tersebut, Kementerian Kesehatan menyimpulkan bahwa internal rumah sakit belum berjalan dengan baik, serta adanya kebijakan uang muka yang tidak sejalan dengan peraturan perundang-undangan.

Kemenkes juga menilai kebijakan rumah sakit belum secara utuh diketahui oleh petugas yang berada di layanan informasi.

Sumber : Antara

Basaria: Pemeriksaan Setya Novanto Tak Terpengaruh Surat DPR

0

RASIO.CO Jakarta – Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Basaria Panjaitan mengatakan pemeriksaan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto tak akan terpengaruh dengan adanya surat dari pimpinan DPR. Melalui surat itu, pimpinan DPR minta pemeriksaan Setya ditunda hingga proses praperadilan selesai.

“Ya enggak ada pengaruhnya. Kalau orang ada permintaan, ya boleh saja. Masa kita melarang orang meminta? Masalah dikabulkan atau tidak, itu urusan KPK,” kata Basaria di kantor Dewan Pengurus Pusat Partai Demokrat,ditempo.co, Rabu(13/09/2017).

Surat permintaan dari pimpinan DPR tersebut diantarkan oleh Kepala Biro Kesekretariatan Jenderal DPR, Hani Tahapsari, Selasa, 12 September 2017. Terkait surat itu, Basaria mengaku, belum menerima.

Namun ia memastikan surat itu tidak akan berpengaruh terhadap pemeriksaan terhadap Setya Novanto yang kini sudah berstatus sebagai tersangka kasus korupsi e-KTP. “Saya pikir itu bukan intervensi. Penyidikan tetap jalan,” ujar dia.

Dalam surat tersebut tertulis Setya Novanto meminta pimpinan dewan mengirimkan surat ke KPK agar menunda pemeriksaannya sampai proses praperadilan selesai.

Novanto mengajukan praperadilan atas penetapannya sebagai tersangka perkara korupsi e-KTP yang disinyalir merugikan negara hingga Rp 2,3 triliun. Sidang perdana praperadilan yang seharusnya digelar Selasa, 12 September 2017 ditunda sampai Rabu pekan depan, 20 September 2017.

Setya Novanto pada Senin, 11 September 2017, seharusnya menjalani pemeriksaan perdana sebagai tersangka kasus korupsi e-KTP. Namun Ketua Umum Partai Golkar itu tidak memenuhi panggilan penyidik KPK dengan alasan sakit veritgo dan dirawat di Rumah Sakit Siloam, Jakarta, sejak Ahad, 10 September 2017. KPK pun telah menjadwalkan ulang pemeriksaan Setya pada pekan depan.

Sumber: tempo

 

Ahli: Hak Angket DPR Hanya untuk Pemerintah

0

RASIO.CO, Jakarta – Hak angket DPR hanya dapat ditujukan bagi Pemerintah selaku pelaksana kekuasaan eksekutif. Hal tersebut disampaikan Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Andalas Yuliandri dalam sidang uji aturan hak angket DPR .

Dikutip dari mahkamahkonstitusi go.id, Dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (UU MD3), Rabu (13/9).

Sidang yang dipimpin Wakil Ketua MK Anwar Usman tersebut beragendakan mendengar Ahli yang dihadirkan para Pemohon perkara Nomor 36/PUU-XV/2017, 37/PUU-XV/2017, 40/PUU-XV/2017, dan 47/PUU-XV/2017.

Yuliandri yang hadir sebagai Ahli Tim Advokasi Selamatkan KPK (47/PUU-XV/2017) menekankan KPK merupakan lembaga independen yang tidak dapat intervensi oleh lembaga negara manapun. Oleh karena itu, hak angket DPR tidaklah tepat dilakukan karena KPK bukan bagian dari kekuasaan eksekutif.

“Jika demikian, presiden sebagai pimpinan eksekutif tertinggi tentu harus pula bertanggung jawab terhadap segala tindakan KPK, membaca rancang bangun sistem ketatanegaraan Indonesia. Hal itu mustahil terjadi, sebab presiden bukanlah atasan KPK, layaknya tindakan sebuah kementerian yang diselidiki oleh DPR harus dipertanggungjawabkan pula oleh presiden dan/atau menteri terkait,” terangnya.

Menurut Yuliandri, rumusan alternatif kumulatif dari ketentuan Pasal 79 ayat (3) dari UU MD3 sama sekali tidak dapat dijadikan sebagai dasar untuk menjadikan KPK sebagai subjek hukum yang dapat diselidiki oleh DPR.

Bahkan jika norma-norma tersebut dapat diberi penafsiran, lanjutnya, maka norma tersebut haruslah ditafsirkan bahwa hak angket hanya dapat dilakukan terhadap lembaga yang berada di bawah ranah eksekutif yang bertanggung jawab langsung kepada presiden.

Selain itu, Yuliandri menyebut adanya cacat prosedur dalam pelaksanaan hak angket DPR terhadap KPK karena adanya ketentuan yang tidak dipatuhi. Prosedur yang tidak dipatuhi tersebut diatur dalam Pasal 199 ayat (3) UU MD3.

Yakni cara voting yang harus mendapat persetujuan dari rapat paripurna DPR yang dihadiri lebih dari setengah jumlah anggota DPR. Keputusan tersebut harus diambil dengan persetujuan lebih dari setengah jumlah anggota DPR yang hadir.

Yuliandri menjelaskan jika perwakilan fraksi tidak lengkap dalam pansus angket, maka keabsahan pansus dapat dipertanyakan.

“Menurut Ahli, prosedur merupakan salah satu indikator penting dan utama untuk menilai keabsahan tindakan dari penyelenggara negara. Apabila ketentuan prosedur diabaikan, maka akan berakibat pada tidak sahnya suatu tindakan atau keputusan yang diambil”, tandasnya.

Sejak Konstitusi RIS

Sementara itu, Direktur Pusat Kajian Anti Korupsi Universitas Gadjah Mada (Pukat UGM) Zainal Arifin Mochtar yang juga hadir sebagai Ahli Pemohon menerangkan bahwa hak angket telah ada sejak Konstitusi RIS.

Hak angket tercantum dalam Konstitusi RIS terutama Pasal 121 yang mengistilahkan dengan hak interpelasi DPR terhadap Pemerintah. Selain itu, ada pula dalam UUDS 1950 terutama Pasal 70 yang menunjukkan bahwa Konstitusi menghendaki hak angket ditujukan kepada Pemerintah.

“Kalau mau membaca peraturan perundang-undangan, inilah yang akan kita dapatkan. Potret yang menarik. Kenapa? Karena semenjak Indonesia ada, mulai dari konstitusi RIS, lalu UUDS Tahun 1950 semua ditujukan kepada Pemerintah. Bahkan pascaamandemen, ketika lahir setidaknya tiga undang-undang pascaamandemen, yaitu Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003, Nomor 27 Tahun 2009, dan Nomor 17 Tahun 2014, pada faktanya selalu ditunjukan kepada Pemerintah, tidak pernah ditujukan kepada lembaga negara di luar pemerintah,” terangnya.

Putusan Provisi

Dalam sidang tersebut, Majelis Hakim juga membacakan putusan provisi yang dimintakan oleh para pegawai KPK dalam perkara Nomor 40/PUU-XV/2017. Putusan provisi yang dimintakan.

Yakni memerintahkan kepada DPR dan Panitia Khusus Angket KPK untuk menghentikan semua kegiatan dan pelaksanaan hak angket terhadap KPK sampai dengan adanya putusan akhir Mahkamah Konstitusi terhadap pokok permohonan a quo. Majelis Hakim memutuskan menolak putusan provisi yang dimaksud.

Anwar yang membacakan putusan provisi menerangkan putusan diambil dengan suara terbanyak. Akan tetapi, putusan dengan suara terbanyak tidak dapat diambil karena ketidakhadiran Hakim Konstitusi Saldi Isra yang menunaikan ibadah haji dan kedudukan voting sama.

Empat orang hakim berpendapat permohonan putusan provisi ditolak dan empat lainnya berpendapat diterima. Adapun Hakim Konstitusi yang berpendapat permohonan provisi ditolak adalah Arief Hidayat, Anwar Usman, Aswanto, dan Wahiduddin Adams.

Sedangkan empat hakim konstitusi yang berpendapat bahwa permohonan putusan provisi beralasan untuk dikabulkan adalah I Dewa Gede Palguna, Suhartoyo, Manahan MP Sitompul, dan Maria Farida Indrati.

“Berhubung suara Ketua Arief Hidayat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (8) Undang-Undang Mahkamah Konstitusi, termasuk ke dalam empat Hakim Konstitusi, yang berpendapat menolak permohonan putusan provisi, maka permohonan putusan provisi dinyatakan ditolak,” tandas Anwar.

Terhadap empat orang Hakim lainnya berpendapat permohonan putusan provisi beralasan untuk dikabulkan, maka berlaku ketentuan Pasal 45 ayat (8) Undang-Undang Mahkamah Konstitusi yang berbunyi, “Dalam hal musyawarah Sidang Pleno Hakim Konstitusi, sebagaimana dimaksud pada ayat (7), tidak dapat diambil dengan suara terbanyak, maka suara terakhir Ketua Sidang Pleno menentukan.”

Sebelumnya, sejumlah pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan pengujian terkait tentang hak angket DPR yang meminta keseluruhan Pasal 79 ayat (3) UU MD3 menjadi konstitusional bersyarat (Perkara Nomor 40/PUU-XV/2017).

Hal serupa juga diungkapkan oleh Mantan Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Indonesia Corruption Watch (ICW) serta Konfederasi Persatuan buruh Indonesia (KPBI) yang tergabung dalam Tim Advokasi Selamatkan KPK (Perkara Nomor 47/PUU-XV/2017).

Kemudian beberapa Pemohon perseorangan juga mengajukan permohonan serupa yang teregistrasi dengan Nomor 36/PUU-XV/2017 dan 37/PUU-XV/2017.

Para Pemohon menyoal Pasal 79 ayat (3) UU MD3 yang mengatur sebagai berikut: “3) Hak angket sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap pelaksanaan suatu undang-undang dan/atau kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan hal penting, strategis, dan berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan”.

Ketentuan Pasal 79 ayat (3) UU MD3 dinilai mengandung ketidakjelasan rumusan atau multitafsir sehingga tidak memenuhi asas kejelasan rumusan serta kepastian hukum sebagaimana dimaksud Pasal 28D ayat (1) UUD 1945.

Implikasinya timbul beberapa penafsiran berbeda dan berakibat pada kekeliruan DPR dalam menggunakan hak angket terhadap KPK. DPR menafsirkan pasal tersebut dapat digunakan untuk melakukan penyelidikan terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi yang dilakukan oleh lembaga penegak hukum khususnya KPK.

Telah bertentangan dengan ketentuan Pasal 1 ayat (3) UUD 1945. Para Pemohon, lanjutnya, menilai tindakan DPR tersebut merupakan langkah politik yang digunakan untuk melemahkan upaya pemberantasan korupsi.

Tindakan tersebut dilakukan bersamaan dengan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan oleh KPK terhadap beberapa kasus yang diduga melibatkan anggota DPR, diantaranya adalah perkara KTP-el yang saat ini sedang diperiksa oleh KPK.

Sumber: MK

 

Satu Triliun Investasi Masuk Melalui Klik

0

RASIO.CO, Batam – Hingga awal September, sedikitnya Rp 1,1 triliun nilai investasi yang masuk melalui Kemudahan Layanan Investasi Langsung Konstruksi (KLIK).

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM PTSP), Gustian Riau mengatakan nilai tersebut berasal dari satu lokasi kawasan industri.

“KLIK itu ada dua, Kabil dan Batamindo. Di Kabil saja Rp 1,1 triliun, dari dua investor PMA (penanaman modal asing) di bidang industri manufaktur. Kalau yang di Batamindo perluasan pabrik,” kata Gustian di Kantor Walikota Batam, Selasa (12/9).

Klik ini, kata Gustian, banyak yang menggunakan karena pada umumnya investor mencari yang prosesnya cepat. Sehingga kehadiran Klik ini dampaknya sangat besar bagi Batam. Oleh karena itu ke depan Klik ini akan diperluas cakupannya.

“Ke depan Pemerintah Kota Batam akan mencari untuk sektor pariwisata. Sekarang kan hanya industri,” kata dia.

Gustian menjelaskan khusus investasi PMA, domainnya berada di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pusat. Di Batam penugasannya ditempatkan di Badan Pengusahaan (BP) Batam.

Tapi untuk tanggungjawab laporan kegiatan penanaman modalnya tetap berada di Pemko Batam.

Dan Klik merupakan salah satu program BKPM RI dalam rangka memberikan kemudahan investor mengurus izin usaha.

Melalui program KLIK ini, investor yang telah mengantongi izin prinsip atau izin investasi, diperkenankan untuk langsung memulai konstruksi sambil mengurus izin-izin lain yang berlaku di daerah.

Dengan fasilitas tersebut investor bisa terus melangsungkan persiapan usaha berupa pembangunan konstruksi begitu mendapatkan izin prinsip meski belum memiliki izin lain.

Seperti Izin Mendirikan Bangunan, Izin Lingkungan—amdal, UKL/UPL, dan berbagai izin pelaksanaan daerah. Namun dengan catatan, selama memulai konstruksi, investor diwajibkan tetap mengurus izin-izin tersebut.

Izin-izin yang belum dimiliki wajib diselesaikan sebelum seluruh pembangunan konstruksi untuk kegiatan berproduksi selesai. Pihak investor hanya diperbolehkan berproduksi dan mulai berbisnis bila izin dan konstruksi selesai.

Klik ini diresmikan pada awal Februari lalu. Ada empat kawasan industri di Batam dan satu di Bintan yang sudah menerapkan Klik. Dua daerah di Kepulauan Riau ini memiliki keistimewaan dibanding daerah lain, yaitu dalam penerapan Klilk tidak ada batas minimal investasi dan jumlah tenaga kerja.(red/mcb).

APRI@www.rasio.co

 

 

Oknum Kepala Desa di Natuna Tertangkap Terima Suap

0

RASIO.CO, Natuna – Seorang oknum kepala desa Tanjung Kabupaten Natuna Musmulyadi Bin Harun(40) tertangkap menerima suap pengurusan surat-surat tanah oleh Tim Satuan Tugas Saber Pungli Polres Natuna. Sabtu(09/09/2017).

Dalam operasi OTT TIm Saber Pungli Polres Natuna merupakan informasi dari seorang masyarakat bahwa akan ada transaksi uang untuk kepengurusan surat-surat tanah di daerah Tanjung.

Setelah ditindak lanjuti dengan pengintaian melihat ada 2 orang laki-laki sedang duduk di salah satu warung di Pantai Tanjung. Kemudian anggota melakukan pengintaian dan melihat salah satu laki-laki memberikan uang.

” Saat ditangkap tersangka sedang transaksi pembayaran uang pengurusan tanah dan saat ini kasusnya terus dikembangkan,” Kata Kasatreskrim Polres Natuna AKP Komarudin melalui sambungan seularnya. Selasa(2/09/2017).

Kata Dia, Adapun uang yang diamankan senilai Rp. 500.000,-. dan merupakan
sisa uang dari kepengurusan surat tanah tersebut. yang mana biaya untuk kepengurusan tanah tersebut ditentukan oleh Kepala Desa sebesar 10% dari harga pembelian tanah.

Adapun biaya pada saat kepengurusan surat tanah tersebut sebesar Rp. 2.000.000,-, yang kemudian dibayar pembeli sebesar Rp. 1.500.000,- pada saat surat telah diterbitkan namun sisanya dibayarkan pada saat pembeli sudah mempunyai uang.

Hingga akhirnya sisa uang sebesar Rp. 500.000,- dibayarkan pembeli tanah pada hari Sabtu tanggal 09 September 2017 Sekira Pukul 14.00 Wib di salah satu warung yang terletak di Pantai Tanjung,” pungkasnya.

APRI@www.rasio.co

Ribuan Karung Balpres Ilegal Asal S’Pore Diamankan Polairud Batam

0

RASIO.CO, Batam – Ditpolairud Polda Kepri berhasil mengamankan 2000 pakaian bekas serta perobatan bekas yang merupakan sampah asal negara Singapore yang diangkut kapal KLM Raja Persada-I Gt. 103 di perairan Nongsa Batam. Jumat(11/09/2017).

Kapal yang mengangkut pakaian dan perabotan bekas asal negara singa tersebut ditangkap patroli polisi Barelang xxxi – 3001 Polairud diperairan batubesar nongsa batam padakoordinat 01° – 10’ – 815” n 104 -° 09’ – 312”e.

” Kapal tampa dokumen , namun nahkoda dan 10 ABK diamankan sudah diamankan,” Kata Kapolda Kepri Irjen Pol Sam Budigusdian melalui Kabid Humas Polda Kepri Kombes S Erlangga. Senin(11/09/2017).

Kata Dia, KLM Raja persadaigt. 103 tersebut di nakhodai H bin J berlayar dari pelabuhan jurong port singapura tujuan batambermutan ±2000 karung pakaian bekas danbarang -barang bekas lainnya tanpa dilengkapi dengan dokumenpabean.

Selanjutnya terhadap 1 unit klm. Raja persadaigt. 103, nakhodadan 10 orang abk sertamuatan di ad – hock dan dikawal menuju kedermaga ditpolairud poldakepri sekupang batam guna pemeriksaan lebihlanjut.

Akibat perbuatanya, tambahnya, dijerat pasal102 UU RI no 10 tahun 1995 tentang kepabeanan dengan ancaman hukuman 8 tahun penjara serta denda 500 juta.” tutupnya.

Barang bukti yang berhasil diamankan 1 unit klm. Raja persada-i gt.103, 1 bundel dokumen kapal klm. Raja persada-i gt.103, ± 2000 karung pakaian , 30 kasur.

50 unit tempat tidur rumah sakit , 1 unit piano besar, ±50 kursi putar, 200 meja belajar, 50 lemari besi, dan 30 karpet gulung.

APRI@www.rasio.co

 

 

Korupsi IT UMRAH Tanjungpinang Seret Puluhan Pejabat Penting

0

RASIO.CO, Batam – Kasus Dugaan Korupsi pengadaan alat IT UMRAH atau lebih dikenal pengadaan Program Integrasi Sisten Akademik dan Administrasi univesrsitas Maritim Raja Ali Haji senilai Rp29 milyar mendapat perhatian publik.

Informasi diperoleh, pihak penyidik Krimsus Polda kepri telah memeriksa lebih kurang 60 orang pejabat penting yang diduga terkait dalam kasus pengadaan alat IT Umrah tersebut, bahkan pejabat PPK dikabarkan pekan kemarin usai diperiksa. Senin(11/09/2017).

Selain itu pula pihak yang kabarkan sudah diperiksa dipihak UMRAH dosen , rektorat sedangkat kontraktor pelaksana, pihak distributor/vendor, dan pihak bank, bahkan pihak peserta yang ikut lelang yang kalah.

“Kami percaya terhadap kepolisian, dan kabarnya udah puluhan yang diperiksa, dimana dugaan korupsi UMRAH melibatkan pejabat tinggi lainnya,” Kata LSM Getuk Tanjungpinang Jusri melalui sambungan selularnya beberapa hari lalu.

Sebelumnya, Selain itu, kasus dugaan korupsi tiga mega proyek bagi pendididikan anak bangsa mencapai Rp100 milyar ditangani bertahap, bahkan pihak penyidik akan memeriksa orang nomor satu rektor di Universitas UMRAH Prof. Dr. Syafsir Akhlus, M.Sc sebagai saksi.

“Kita berharap saja rektor UMRAH siap diperiksa karena staff LP3M pun diperiksa pekan ini,” Kata LSM Getuk Tanjungpinang Jusri Sabri sebagai pelapor. Senin(31/07/2017).

Kata Dia, Kami sebagai pelapor dari awal sudah optimis kasus mega proyek dapat diungkap walaupun agak lambat dan penuh hambatan baik teknis dan intervensi serta tekanan terhadap penyidik,” Kata Jusri melalui sambungan selularnya.

Lanjut dia, walupun mendapat hambatan, namun penyidik melakukan penyelidikan terus dengan penuh kehati-hatian dan kami terus berkoordinasi dengan pihak penyidik untuk sama-sama mengungkap kasus yang memalukan dunia pendidikan ini.

Sementara itu, Rektor UMRAH Tanjungpinang Prof.Dr. Syafsir Akhlus, M.sc berusaha selalu menghindar saat media rasio berupaya mengklarifikasi melalui sambungan selularya terkait dugaan korupsi pengadaan Program Integrasi Sisten Akademik dan Administrasi univesrsitas Maritim Raja Ali Haji(UMRAH)mengunakanan dana APBN tahun 2015 dengan nilai kontrak Rp29 Milyar.

Setelah dilakukan penyelidikan dari tahun 2016 Penyidik Tipikor Krimsus Polda Kepri menaikkan status penyelidikan menjadi penyidikan.

Kasus dugaan korupsi pengadaan Program Integrasi Sisten
Akademik dan Administrasi univesrsitas Maritim Raja Ali Haji(UMRAH)
mengunakanan dana APBN tahun 2015 dengan nilai kontrak Rp29 Milyar.

Dengan potensi kerugian keuangan negara diperkirakan lebih kurang Rp 9
Milyar. tim penyidik mewacanakan akan melakukan penyidikan melakukan
pemeriksaan saksi-saksi, melakukan penyitaan barang bukti, dan permintaan
keterangan ahli.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda kepri Kombes Pol Budi
Suyanto membenarkan dan sedang melakukan pemeriksaan terhadap saksi-
saksi saat ini.

“Masih pemeriksaan saksi-saksi,” ujarnya singkat.

Hal yang sama juga dibenarkan kabid humas Polda Kepri Kombes Pol S
Erlangga mengatakan, perkembangan lidik dugaan TP Korupsi dengan melalui Hasil Gelar perkara pada hari Rabu tgl 19 Juli 2017.

Telah ditemukan adanya kerugian negara untuk itu telah ditingkatkan menjadi Penyidikan TP Korupsi terkait pengadaan barang dan jasa pada pengadaan program integrasi sistem akademik dan administrasi antara Umrah dan PT Jovan Karya Perkasa.”pungkasnya.

APRI @ www.rasio.co

Mau Diperiksa KPK, Novanto Sakit

0

RASIO.CO, Jakarta – Meski sebelumnya memastikan Setya Novanto akan hadir dalam pemeriksaan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tetapi Sekjen Partai Golkar Idrus Marham hari ini, Senin (11/9/2017) membawa surat keterangan sakit yang memastikan Ketua DPR tersebut tidak bisa datang.

Idrus menyatakan dirinya datang menyampaikan surat yang menerangkan Setya Novanto tidak bisa memenuhi panggilan KPK karena sakit sebagaimana dikemukakannya kepada wartawan, Senin (11/9/2017).

Dia mengaku membawa kelengkapan surat keterangan dokter yang menerangkan Novanto dalam keadaan sakit. “Ini kelengkapan surat keterangan dokternya untuk disampaikan kepada pimpinan KPK,” kata Idrus Marham.

Idrus menjelaskan berdasarkan hasil pemeriksaan dokter kemarin Novanto mengalami peningkatan kadar gula darah setelah berolahraga. Setelah diperiksa, ternyata mempengaruhi fungsi ginjal dan jantung.

Selain menyampaikan surat, Idrus Marham juga meminta KPK menjadwalkan ulang pemeriksaan Setya Novanto sebagai tersangka.

Dalam perkembangan lain, pengadilan akan mulai menyidangkan gugatan praperadilan terhadap penetapan status Setya Novanto sebagai tersangka dalam kasus yang disebutkan merugikan keuangan negara hingga Rp2,3 triliun.

Sebelumnya, dalam keterangan kepada wartawan, akhir pekan lalu, Idrus Marham memastikan  Setya Novanto akan datang pada pemeriksaan keduanya di KPK. Lembaga itu menetapkan Novanto sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi e-KTP pada pertengahan Juli lalu.

Ketua KPK, Agus Rahardjo, mengatakan Novanto diduga memiliki peran dalam setiap proses pengadaan e-KTP, mulai perencanaan, pembahasan anggaran, hingga

Sumber: bisnis.com