Sabtu, November 7, 2026
No menu items!
Beranda blog Halaman 1558

Benang Merah Gerakan PKI

0

RASIO.CO, Batam – Peristiwa G30S PKI atau yang dikenal dengan Gestapu merupakan bagian gelap dari sejarah Indonesia. peristiwa yang diawali terbunuhnya 6 jenderal ini akhirnya melahirkan berbagai macam konspirasi.

Dakwaan PKI sebagai dalang penculikan dan pembunuhan jederal menimbulkan aksi pemberantasan pihak-pihak yang terlibat ataupun yang diduga menjadi PKI. Jutaan nyawa menjadi korban dan sanksi sosial pun dikenakan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Sejak pemerintahan orde baru, PKI seakan menjadi momok yang harus dihilangkan. Kediktatoran pemerintah membungkam kesaksian para korban Selama lebih dari 30 tahun. Runtuhnya pemerintahan orde baru, memulai kebebasan bersuara untuk mengungkapkan fakta sejarah yang selama 30 tahun terpendam. Berbagai macam bukti mulai dari sumber tertulis maupun kesaksian para korban terungkap satu persatu.

Sejak dinyatakan bubar pada tahun 1966 dan diperkuat oleh uu no. 27/1999, tidak ada lagi alasan yang bisa dibenarkan eksisnya gerakan komunisme di Indonesia, baik PKI termasuk dengan PKI berwajah lain,dari dua pernyataan generasi pengurus PKI yakni Sudisman sebagai Pengganti DN Aidit dan Dita Indah Sari sebagai penjabat Publik mengatakan “ Jika saya mati sudah tentu bukan berarti PKI mati bersama kematian saya, tidak sama sekali tidak, walaupun PKI sudah rusak berkeping keping sya tetap yakin bahwa ini hanya bersifat sementara dan dalam proses sejarah, nanti PKI akan timbul kembali, sebab PKI adalah anak zaman yang dilahirkan zaman”.

Hal ini lah yang membuat bangsa kita semakin khawatir akan kebangkitan kembali PKI, dan bisa kita pahami bahwa memang PKI terus bergerak, karena kader PKI maupun warga PKI serta simpatisan PKI tidak mengenal bubar ataumati, yang mereka pahami adalah pasang naik dan pasang surut kebangkitan PKI.

Proses persidangan terhadap para terdakwa yang terlibat kasus yang dikenal dengan G.30.S PKI telah menyita satu porsi tersendiri perhatian dari Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia. Terutama karena adanya indikasi bahwa saat itu MA diduga dimanfaatkan untuk memperlancar tugas-tugas dan wewenang Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib).

Kopkamtib sendiri adalah lembaga yang dibentuk pada 10 Oktober 1965, segera setelah terjadi peristiwa G.30.S. Pada kasus-kasus yang dianggap dapat mengganggu stabilitas politik dan ekonomi, Kopkamtib bisa menerobos wewenang departemen sipil, bahkan wewenang angkatan bersenjata sekalipun.

Soal MA berada di bawah pengaruh Kopkamtib, memang tidak ada keterangan yang tegas mengenai hal tersebut. Namun hal itu juga tidak bisa diingkari jika dilihat dari beberapa surat edaran MA (SEMA) mengenai proses pemeriksaan terhadap kasus-kasus PKI. Misalnya SEMA No 3 Tahun 1972 yang ditujukan kepada semua ketua pengadilan tinggi dan para ketua pengadilan negeri.

Dalam SEMA itu disebutkan bahwa memperhatikan surat Pangkopkamtib perihal pengajuan perkara G30S/PKI, diinstruksikan kepada ketua pengadilan tersebut untuk memberikan prioritas pemeriksaan terhadap perkara-perkara tersebut.

Instruksi tersebut diperjelas lagi lima tahun kemudian. Melalui SEMA No 3 Tahun 1977, Ketua MA menginstruksikan kepada para ketua pengadilan tinggi dan ketua pengadilan negeri untuk memprioritaskan penanganan kasus-kasus G.30.S.

Lagi-lagi berdasarkan surat Pangkopkamtib kepada Ketua MA. Peran kuat Kopkamtib juga terlihat dalam SEMA berkaitan dengan pengurangan masa tahanan bagi terdakwa yang pernah ditahan oleh Kopkamtib. Saat itu terjadi perdebatan apakah penahanan yang dilakukan oleh Kopkamtib termasuk jenis penahanan sementara yang bisa mengurangi masa tahanan para terdakwa.

Dalam SEMA No. 2 Tahun 1977, MA menegaskan bahwa penahanan yang dilakukan oleh Kopkamtib tidak termasuk dalam masa penahanan sementara yang bisa mengurangi masa tahanan. Kecuali jika secara tegas disebut dalam putusan hakim bahwa masa penahanan dipotong oleh masa penahanan yang dilakukan oleh Kopkamtib. Namun MA sendiri menyarankan untuk menghindari bunyi putusan demikian.

Tentu jadi pertanyaan tersendiri mengapa begitu besar pengaruh Kopkamtib pada beberapa SEMA tersebut. Ternyata, “Permintaan bantuan” Kopkamtib kepada MA berbekal landasan yang kuat.

Tepatnya, Keputusan Presiden RI No. 9 Tahun 1974 tertanggal 2 Maret 1974. Dalam BAB IV Pasal 11 ayat (2) Keppres tersebut, disebutkan bahwa Kopkamtib mempunyai tugas dan wewenang antara lain : menggunakan semua alat negara dan unsur-unsur aparat pemerintah yang ada serta mengambil tindakan-tindakan lainnya, sesuai dan berdasarkan ketentuan-ketentuan hukum yang berkalu dalam melaksanakan tugas-tugas Kopkamtib.

Berdasarkan hal tersebut, dalam suratnya No. K-209/KOPKAMTIB/VIII/77, Pangkopkamtib mengharapkan kepada Ketua MA dan Menteri Kehakiman untuk menginstruksikan kepada para Ketua Pengadilan Tinggi dan pengadilan Negeri untuk memprioritaskan penyidangan perkara-perkara G.30.S.

Tanggal 30 September 1965 dan PKI merupakan hal yang masih sensitf untuk diperdebatkan sampai saat ini, berbagai macam konspirasi dilemparkan ke Publik untuk saling membenarkan dan Gerkan 30 S. PKI merupakan dalang dan latar belakang yang sampai saat ini menjadi misteri yang belum terungkapkan .

Ditulis Oleh : Risman R. Siregar, S.H, Praktisi Hukum di Kota Batam

Nikmati Hari Kopi Sedunia Gratis 5 Ribu Cangkir di Solo

0

RASIO.CO, Surakarta – Bagi Anda para pencinta kopi, tidak ada salahnya berkunjung ke Pasar Gede Harjonagoro, Solo, pada Minggu, 1 Oktober 2017.

Di sana akan tersedia 5.000 cangkir kopi yang bisa dinikmati gratis oleh masyarakat. Acara ngopi gratis itu digelar untuk merayakan Hari Kopi Sedunia.

“Selain menikmati kopi, pengunjung bisa menikmati indahnya kawasan Pasar Gede di malam hari,” kata ketua panitia Hari Kopi Sedunia Solo, Jefri Aditya Jayadi, Jumat, 29 September 2017.

Setidaknya ada 50 kedai kopi yang akan berpartisipasi dalam acara itu. Para barista akan menyuguhkan racikan kopi andalannya dalam acara yang digelar mulai pukul 19.00 WIB tersebut.

“Kami tidak membatasi jenis kopi yang akan dibagikan,” kata Jefri. Yang terpenting, mereka bisa mengajak masyarakat Solo merayakan Hari Kopi Sedunia. “Sekaligus memperkenalkan budaya ngopi,” ucapnya.

Acara serupa juga digelar pada tahun lalu di lokasi yang sama. Pada saat itu mereka menyediakan sekitar 3.000 cangkir kopi yang bisa dinikmati gratis oleh masyarakat.

Menurut Jefri, kebiasaan masyarakat Solo nongkrong di kedai kopi baru merebak dua tahun lalu. “Mungkin lebih belakangan dibanding kota lain,” tuturnya. Saat ini kedai-kedai kopi di Solo rata-rata telah memiliki pelanggan yang cukup loyal.
“Kebanyakan pelanggan berusia muda, seperti mahasiswa,” kata Jefri.

Dia berharap acara itu bisa lebih mengenalkan kopi kepada semua lapisan masyarakat. Hari Kopi Sedunia kali ini akan dimeriahkan atraksi keahlian para barista di Pasar Gede itu.

Sumber: tempo

Ganja Siap Edar Dibakar Polisi

0

RASIO.CO, Batam – Jajaran kepolisian Subdit 3 Resnarkoba Polda Kepri kembali memusnahkan dengan membakar barang haram jenis ganja asal aceh seberat 790 gram.

Ganja seberat 790 gram tersebut diamankan dari tersangka WP alias W di dalam Hall Deck 4 Kapal Pelni KM Kelud yang dibawa dari Medan. Rabu(06/09/017) lalu.

Pemusnahan dilakukan dengan membakar gaja tersebut dalam tong besi disaksiskan, Perwakilan dari Bea dan Cukai, Kejaksaan Negeri, Pengadilan Negeri, BPOM, LSM Granat. Jumat(29/09/2017). dilapangan Mapolda Kepri.

” Ganja dibawa dari Medan dan akan diedarkan di Batam,” Kata AKBP Arthur Sitindoan Kasubdit 3 Resnarkoba Polda Kepri.

Kata Dia, tersangka menyembunyikan ganja kering siap edar yang dibungkus dalam plastik bening dan dililit lakban warna coklat dari badan tersangka tepatnya dibagian perut serta pinggang.

” Pengakuannya tersangka ganja didapat dari Aldi(DPO),” ujarnya.

Lanjut Dia, ganja tersebut dibelinya dari Aldi(DPO) dijalan Tembung pasar 10 Medan seharga Rp600 ribu selanjutnya dibawa ke Batam.

Perbuatan terdakwa dijerat Pasal 114 ayat (1), Jo pasal 111 (1), Undang-undang Republik Indonesia no.35 tahun 2009 Tentang Narkotika dengan acanaman hukuman mati,” tutupnya.

PUTRA@www.rasio.co

 

 

 

 

Angka Kemiskinan Batam Menurun

0

RASIO.CO, Batam – Jumlah orang miskin di Kota Batam berkurang sekitar 2.000 kepala keluarga.

“Angka kemiskinan kita ada penyusutan. Kita berasumsi seperti itu,” kata Wakil Walikota Batam, Amsakar Achmad di Bengkong, Rabu (27/9).

Ia menjelaskan, berdasarkan data penerima Kartu Keluarga Sejahtera tahun 2017 terdapat 39.903 rumah tangga sasaran. Namun saat pendistribusiannya terdapat 9.000-an kartu yang tidak sampai ke penerima dengan berbagai alasan.

Atas alasan itulah dilakukan pendataan ulang dengan melibatkan RT, RW, kelurahan, dan petugas pencacah.

“Setelah dicacah ulang, terdata 37.428 RTS. Artinya berkurang 2.000-an dari data PPLS awal,” kata mantan Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan ESDM Batam ini.

Menurut Amsakar, angka tersebut sudah disepakati dan dituangkan dalam berita acara yang ditandatangani RT, RW, dan Lurah masing-masing.

Berita acara dari seluruh kecamatan kemudian ditandatangani Amsakar selaku Ketua Percepatan Penanganan Kemiskinan Kota Batam. Selanjutnya diserahkan ke Walikota Batam untuk dijadikan Surat Keputusan (SK) penerima Bantuan Pangan Non Tunai. Langkah berikutnya diajukan ke Gubernur dan diteruskan ke Kementerian Sosial.

“Itu yang diusulkan ke pusat. Kita tidak tahu apakah nanti akan diverifikasi atau seperti apa. Jadi kita juga sudah sampaikan ke RT RW jangan dulu sebutkan ke warganya kalau itu pasti terima bantuan. Harapan kita bantuan yang turun tahun berikutnya ya di 37 ribu itu,” kata dia.

Sebelumnya diberitakan bahwa Pemerintah Kota Batam kesulitan dalam mendistribusikan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS). Berdasarkan data Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat, masih ada 9.747 KKS yang belum diberikan ke keluarga penerima manfaat (KPM). Terdiri dari 357 KPM dari Program Keluarga Harapan (PKH) dan 9.390 KPM beras sejahtera (rastra).

Walikota Batam, Muhammad Rudi berharap ke depannya hal serupa tidak terulang lagi. Karena menurutnya pemerintah daerah sudah bersusah payah mencari bantuan ke pusat. Tapi yang sudah dapat malah tidak tersalurkan dengan maksimal.

“Saya susah payah cari bantuan. Ini sudah ada depan mata kok tidak kita selesaikan,” kata Rudi.(red/mcb)

Sumber: Media Centre Batam

Jadwal Lengkap F1 GP Malaysia 2017

0

Sepang – Pebalap Mercedes, Lewis Hamilton, bakal melanjutkan misi memperkukuh posisinya pada pacuan juara dunia F1 2017.

Kans tersebut bakal makin terbuka jika pebalap asal Inggris tersebut tampil apik pada balapan F1 GP Malaysia di Sirkuit Sepang, Minggu (1/10/2017).

Hamilton menatap GP Malaysia dengan percaya diri setelah dua pekan sebelumnya naik podium utama di GP Singapura.

Kemenangan tersebut terasa lebih manis karena rivalnya dalam perburuan juara dunia, Sebastian Vettel, gagal finis karena mengalami crash yang juga melibatkan Max Verstappen dan Kimi Raikkonen.

Dengan komposisi tersebut, Hamilton memperlebar jarak dengan Vettel. Hamilton mengantongi 263 poin atau unggul 28 poin atas sang pebalap Ferrari.

Sebaliknya, Vettel kini menghadapi jalan yang makin berliku. Dia harus segera pulih dari kegagalan di Singapura jika tak ingin kans juara melayang.

Selain harus mengejar Hamilton, posisi Vettel juga bisa saja terancam Valtteri Bottas. Pebalap Mercedes tersebut menguntit di posisi ketiga, dengan koleksi 212 poin atau terpaut 23 poin dari Vettel.

Jadi, siapakah yang bakal memenangi F1 GP Malaysia, di Sirkuit Sepang?

Jadwal lengkap F1 GP Malaysia:

Jumat, 29 September 2017

10.00 WIB – 11.30 WIB: Latihan Bebas 1

14.00 WIB – 15.30 WIB: Latihan Bebas 2

Sabtu, 30 September 2017

13.00 WIB – 14.00 WIB : Latihan Bebas 3

16.00 WIB – 17.00 WIB : Kualifikasi

Minggu, 1 Oktober 2017

14.00 WIB : Balapan

Sumber:bola

Marquez Ungkap Sosok Pebalap yang Lecut Semangatnya

0

RASIO.CO, Aragon – Repsol Honda, Marc Marquez, mengaku semangatnya terpacu saat melihat kePebalap beradaan Dani Pedrosa di belakangnya. Hal itu dirasakan The Baby Alien pada balapan MotoGP Aragon, Minggu (24/9/2017).

Pedrosa sempat mengancam Marquez yang berada di posisi terdepan. Bahkan Pedrosa hanya terpaut 0,879 detik dari juara dunia lima kali tersebut saat finis.

“Pedrosa selalu membuat saya berada dalam tekanan. Semangatnya untuk bisa menang sangat besar sekali,” ujar Marquez dikutip dari Speedweek, Kamis (28/9/2017),

“Di beberapa lap terakhir, Pedrosa bahkan hanya berada 0,10 detik di belakang saya. Saya bahkan harus memacu gas hingga batas dan mengambil risiko,” sambungnya.

Pada MotoGP Aragon, Pedrosa memperlihatkan penampilan luar biasa dengan menyodok ke posisi kedua setelah memulai balapan dari urutan keenam. Pebalap asal Spanyol tersebut bahkan sempat berduel ketat dengan Valentino Rossi untuk memperebutkan posisi ketiga.

Hal serupa sejatinya juga ditunjukkan Marc Marquez pada balapan MotoGP Aragon. Memulai balapan dari posisi kelima, Marquez menyodok ke posisi terdepan dengan menyalip empat pebalap yang ada di depannya.

Sumber:bola

6 Kejanggalan di Sidang Praperadilan Setya Novanto

0

RASIO.CO, Jakarta – Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjadwalkan sidang putusan praperadilan Setya Novanto, hari ini, Jumat (29/9/2017).

Dilansir bisnis.com, Selama persidangan, Indonesia Corruption Watch (ICW) melakukan pemantauan dan menemukan beberapa kejanggalan. Berikut poin-poin kejanggalan yang dipublikasikan Jumat (29/9/2017).

1. Hakim menolak memutar rekaman bukti keterlibatan SN dalam korupsi KTP-El.

Pada sidang praperadilan Rabu, 27 September 2017, Hakim menolak memutar rekaman KPK sebagai bukti keterlibatan SN dalam korupsi KTP-El. Penolakan ini sangat janggal, karena Hakim berpandangan bahwa pemutaran rekaman tersebut sudah masuk pokok perkara, padahal rekaman pembicaraan tersebut adalah salah satu bukti yang menunjukkan keterlibatan SN dalam perkara korupsi KTP-El.

Dengan dasar rekaman tersebut, KPK menetapkannya sebagai salah satu bukti –yang dibarengi dengan 193 bukti lainnya-, untuk menetapkan SN sebagai tersangka. Di sisi lain, Hakim Cepi Iskandar justru membuka ruang pengujian materi perkara dengan menolak eksepsi KPK terkait dengan pembuktian keterpenuhan unsur pada Pasal 2 ayat (1) UU Tipikor, yang menjadi salah satu dalil permohonan praperadilan SN. Padahal, pembuktian keterpenuhan unsur Pasal 2 ayat (1) UU Tipikor sudah masuk pada pembuktian pokok perkara, dan tidak sepatutnya disidangkan lewat mekanisme praperadilan.

2. Hakim menunda mendengar keterangan ahli dari KPK

Pada 27 September 2017, Hakim Cepi Iskandar menolak Ahli Teknologi Informasi Universitas Indonesia, Bob Hardian Syahbudin sebagai ahli dalam persidangan praperadilan. Alasan Hakim Cepi menolak kehadiran Bob Hardian sebagai ahli adalah, karena materi yang disampaikan pada persidangan sudah masuk pokok perkara pembuktian korupsi KTP-El. Di saat yang sama, Bob Hardian sudah memberikan keterangan tertulis pada proses penyidikan korupsi KTP-El.

Ahli dihadirkan untuk memberi kesaksian terkait dengan temuannya dalam evaluasi sistem teknologi informasi KTP-El. Namun, hakim menolak kehadiran Bob Hardian sebagai ahli, dan dengan demikian menunda pemberian keterangannya.

3. Hakim menolak eksepsi KPK

Hakim Cepi Iskandar menolak eksepsi KPK yang disampaikan pada 22 September 2017. Dalam eksepsinya, KPK menyampaikan 2 (dua) hal yang menjadi keberatannya yaitu terkait status penyelidik dan penyidik independen KPK dan dalil permohonan SN yang sudah memasuki substansi pokok perkara.

Keabsahan dan konstitusionalitas penyelidik dan penyidik independen KPK sudah ditegaskan oleh Mahkamah Konstitusi melalui Putusan Nomor 109/PUU-XIII/2015, namun hal tersebut tidak dipertimbangkan oleh Hakim, padahal putusan tersebut mengikat sebagai norma hukum atas peraturan perundang-undangannya yang diuji materilkan.

Selain itu, Hakim Cepi Iskandar juga mengabaikan keterangan KPK yang menyebutkan bahwa dalil permohonan SN sudah masuk dalam pokok perkara. SN menguji keabsahan alat-alat bukti yang dijadikan dasar untuk menjeratnya sebagai tersangka dugaan korupsi, yang diatur dalam Pasal 2 ayat (1) UU Tipikor. Logika yang sama tidak muncul ketika KPK mengajukan permohonan untuk memperdengarkan rekaman pembicaraan, yang menguatkan dalil keabsahan penetapan SN sebagai tersangka.

4. Hakim abaikan permohonan Intervensi dengan alasan gugatan tersebut belum terdaftar di dalam sistem informasi pencatatan perkara.

Dalam sidang praperadilan 22 September 2017, Hakim Tunggal Cepi Iskandar mengabaikan permohonan intervensi yang diajukan oleh Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) dan Organisasi Advokat Indonesia (OAI). Pengabaian tersebut dilakukan dengan alasan gugatan dari para pemohon intervensi belum terdaftar dalam sistem informasi pencatatan perkara.

Keterangan tersebut sungguh janggal, karena berdasarkan penelusuran, MAKI sudah mendaftarkan gugatan sebagai pemohon intervensi sejak 6 September 2017. Gugatan intervensi tersebut sejatinya menguatkan posisi KPK, namun akhirnya tidak diperhitungkan oleh Hakim, padahal permohonan sudah didaftarkan sebelum sidang pertama dilakukan pada 12 September 2017.

5. Hakim bertanya kepada Ahli KPK tentang sifat adhoc lembaga KPK yang tidak ada kaitannya dengan pokok perkara praperadilan.

Dalam mendengar keterangan dari ahli Hukum Tata Negara Universitas Andalas Feri Amsari, Hakim bertanya mengenai sifat adhoc lembaga KPK, padahal tidak ada materi sidang praperadilan yang berkaitan dengan hal tersebut. Pertanyaan ini jelas tidak pada tempatnya, sehingga motivasi Hakim Cepi Iskandar ketika mengajukan pertanyaan tersebut, patut dipertanyakan.

6. Laporan kinerja KPK yang berasal dari Pansus dijadikan bukti Praperadilan

Kuasa Hukum SN membawa sejumlah bukti, yang salah satunya adalah LHP BPK Nomor 115/HP/XIV/12/2013 atau LHKP KPK 115, yang pada intinya menjabarkan kinerja KPK selama 10 tahun ke belakang. Dokumen ini diduga diperoleh tanpa melalui mekanisme yang sah, karena dokumen tersebut diduga diperoleh dari Pansus Angket KPK, bukan dari lembaga resmi yang seharusnya mengeluarkan, yaitu BPK.

Sumber:kabar24.bisnis.com

BUMN Perkapalan Bakal Dapat Pesanan dari Pertamina

0

RASIO.CO, Jakarta – Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tengah mendorong sinergi antara PT Pertamina (Persero) dengan industri berat dan perkapalan milik negara, guna meningkatkan kapasitas BUMN di industri berat dan perkapalan.

Menteri BUMN Rini M. Soemarno mengatakan BUMN perkapalan di dalam negeri berada dalam fase surut sehingga perlu digenjot untuk meningkatkan produksi. Terlebih, sebagian BUMN perkapalan sudah mendapat tambahan modal lewat penyertaan modal negara.

Rini mengatakan, sejumlah BUMN seperti PT Pertamina (Persero) dinilai bisa membantuk restrukturisasi usaha sejumlah BUMN perkapalan.

“Pertamina banyak order kapal, tapi kok enggak pernah ke dok kita (BUMN). Sekarang banyak (BUMN Perkalapan) yang berubah dan saya harap kerja sama bisa dilakukan,” jelas Rini di Jakarta, Jumat (29/9/2017).

Hari ini, Pertamina memang menjajaki kerja sama dengan meneken nota kesepahaman dengan sejumlah BUMN di klaster industri berat dan perkapalan, antara lain PT PAL (Persero), PT Dok Perkapalan Surabaya (Persero), dan PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari (Persero).

Selanjutnya dengan PT Barata Indonesia (Persero), PT Boma Bisma Indra (Persero), dan PT Industri Kapal Indonesia (Persero). Nota kesepahaman juga diteken antara Dok Perkapalan Surabaya dan PT Djakarta Lloyd (Persero).

Rini menekankan, perusahaan perkapalan pelat merah harus menggenjot kapasitas baik dari segi kualitas produk maupun waktu penyerahan tepat waktu (time delivery). BUMN lain seperti Pertamina juga diminta untuk membagikan pengatahuan teknis kepada BUMN galangan sehingga terjadi peningkatan kapasitas.

“Saya tekankan, kalau gak bisa (mengerjakan pesanan) ya kerja sama. Janga berpikir bagaiaman bisa bikin satu (kapal), tapi bagaimana bikin 100,” tegasnya.

Direktur PAL, Budiman Saleh mengatakan BUMN perkapalan siap untuk mendukung program investasi Pertamina dalam pembelian kapal maupun pemeliharaan kapal. Sebelumnya, BUMN perkapalan telah mampu membangun kapal tanker dengan ukuran 30.000 DWT. Secara khusus, PAL sudah menggarap overhaul single point mooring sebanyak 16 kali sejak 2009.

“Sinergi antara Pertamina dengan NSHI (national shipping & heavy industries) secara langsung akan memberikan multiplier effect terhadap kemajuan industri perkapalan di Indonesia,” ujarnya.

Direktur Perencanaan dan Investasi Pertamina, Gigih Prakoso mengatakan tahun depan perseroan mengalokasikan belanja modal sebesar US$200 juta untuk pembelian kapal baru dan pemeliharaan armada. Jumlah tersebut menjadi potensi pasar yang bisa digarap BUMN perkapalan.

Sedikitnya Pertamina bakal membangun 7 kapal baru berukuran 7.500 DWT dengan anggaran US$20 juta hingga US$30 juta per unit.”

“Nanti kita duduk bareng sama sama melihat potensi yang bisa kita kerjasamakan. Sebelum kontrak, kita juga bisa assessment dulu dan coaching bagaimana standarisasi yang dibutuhkan Pertamina,” jelasnya.

Sumber:bisnis

Komisioner KPK Beberkan Latar Belakang Hak Angket DPR

0

RASIO.CO, Jakarta- Komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode Muhammad Syarif mengungkapkan latar belakang munculnya hak angket DPR terhadap KPK.

Penyampaikan keterangan ini dilakukan Laode sebagai Pihak Terkait dalam uji aturan hak angket DPR dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (UU MD3) yang digelar pada Kamis (29/9).

Dalam sidang yang dipimpin oleh Ketua MK Arief Hidayat tersebut, beragendakan mendengar keterangan KPK sebagai Pihak Terkait Perkara 36/PUU-XV/2017, 37/PUU-XV/2017, 40/PUU-XV/2017, dan 47/PUU-XV/2017.

Dilansir laman web, mahkamahkonstitusi.go.id, Laode mengungkapkan munculnya Pansus Hak Angket terhadap KPK bermula dari Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang dilakukan Komisi III DPR bersama KPK pada 18 – 19 April 2017.

RDP tersebut membahas mengenai berbagai hal mulai dari soal penyidik independen, manajemen penyidikan sampai dengan laporan Badan Pemeriksa Keuangan yang berjalan dengan lancar.

Akan tetapi, lanjut Laode, pada kesimpulan terakhir, Komisi III DPR meminta KPK melakukan klarifikasi dengan membuka rekaman berita acara pemeriksaan atas nama Miryam S. Haryani. Komisi III DPR hendak mengetahui tentang penyebutan sejumlah nama anggota dewan.

“Poin keempat inilah yang oleh pimpinan KPK dan seluruh pegawai KPK yang hadir pada rapat dengar pendapat tersebut menolaknya. Karena kami menganggap itu adalah bukan dalam ranah laporan atau dengar pendapat, tetapi itu adalah ranah pro justitia, sehingga kami tidak bisa menyerahkannya kepada Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat. Komisi III tetap mendesak, serta menyampaikan akan melakukan angket apabila KPK menolak membuka rekaman tersebut,” terang Laode.

Dalam perjalanannya, sambung Laode, Pansus Angket terhadap KPK juga sempat mengirimkan surat untuk menghadirkan Miryam S. Haryani untuk diperiksa, meskipun KPK juga menolak permintaan tersebut.

“Jadi, sekali lagi, sulit untuk menangkap secara positif ide di balik Pansus Angket KPK. Karena faktanya, penggunaan hak angket DPR terhadap KPK adalah karena Pimpinan KPK menolak untuk memutarkan rekaman dan menghadirkan Miryam S. Haryani karena saat itu yang bersangkutan tengah menjalani proses hukum di KPK,” tuturnya.

Persoalan Menjadi Bias

Selain itu, Laode juga menyebut penggunaan angket oleh DPR terhadap KPK menjadi tidak proporsional dan kehilangan kebijakan rasionalitasnya.

Menurutnya, menjadi bias apabila substansi yang terkait dengan penegakan hukum, apalagi yang berkaitan dengan perkara pidana yang seharusnya diproses dalam area hukum melalui sistem peradilan pidana, kemudian dibawa ke ranah politik seperti yang terjadi saat ini.

“Penggunaan hak angket DPR terhadap KPK sebagai lembaga independen akan menjadi catatan sejarah penting dalam penegakan hukum dan sejarah pemberantasan korupsi di Indonesia. Kami meyakini, jika penggunaan hak angket DPR terhadap KPK sebagai lembaga penegak hukum yang independen tidak dihentikan, maka peristiwa ini akan menjadi pintu masuk bagi kekuasan politik untuk terus mencampuri kerja-kerja penegakan hukum di Indonesia, baik di KPK maupun di luar KPK,” tegasnya.

Sebelumnya, sejumlah pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan pengujian terkait tentang hak angket DPR yang meminta keseluruhan Pasal 79 ayat (3) UU MD3 menjadi konstitusional bersyarat (Perkara Nomor 40/PUU-XV/2017).

Hal serupa juga diungkapkan oleh Mantan Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Indonesia Corruption Watch (ICW) serta Konfederasi Persatuan buruh Indonesia (KPBI) yang tergabung dalam Tim Advokasi Selamatkan KPK selaku Pemohon Perkara Nomor 47/PUU-XV/2017.

Kemudian beberapa Pemohon perseorangan juga mengajukan permohonan serupa yang teregistrasi dengan Nomor 36/PUU-XV/2017 dan 37/PUU-XV/2017.

Para Pemohon menyoal Pasal 79 ayat (3) UU MD3 yang mengatur sebagai berikut: “3) Hak angket sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap pelaksanaan suatu undang-undang dan/atau kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan hal penting, strategis, dan berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan”.

Ketentuan Pasal 79 ayat (3) UU MD 3 dinilai mengandung ketidakjelasan rumusan atau multitafsir sehingga tidak memenuhi asas kejelasan rumusan serta kepastian hukum sebagaimana dimaksud Pasal 28D ayat (1) UUD 1945.

Implikasinya timbul beberapa penafsiran berbeda dan berakibat pada kekeliruan DPR dalam menggunakan hak angket terhadap KPK.

DPR menafsirkan pasal tersebut dapat digunakan untuk melakukan penyelidikan terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi yang dilakukan oleh lembaga penegak hukum khususnya KPK telah bertentangan dengan ketentuan Pasal 1 ayat (3) UUD 1945.

Para Pemohon, lanjutnya, menilai tindakan DPR tersebut merupakan langkah politik yang digunakan untuk melemahkan upaya pemberantasan korupsi.

Tindakan tersebut dilakukan bersamaan dengan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan oleh KPK terhadap beberapa kasus yang diduga melibatkan anggota DPR, diantaranya adalah perkara E-KTP yang saat ini sedang diperiksa oleh KPK.

Sumber:MK

 

 

Nekad Merokok, Penumpang Maskapai Batik Air Diamankan

0

RASIO.CO, Jakarta – Bahar Muhammad, 46, kedapatan merokok dalam pesawat Batik Air yang terbang dari Sorong, Papua, menuju Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu 27 September 2017.

Ulah nekat Bahar berlangsung sekitar pukul 15.10 WITA, atau satu jam setelah pesawat bernomor penerbangan ID-6195 meninggalkan Bandara Domine Eduard Osok Sorong.

Pria yang berprofesi nelayan itu langsung diciduk tim Aviation Security (Avsec) begitu pesawat mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar

Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Sulsel Kombes Dicky Sondani mengungkapkan, saat di pesawat Bahar dilaporkan meninggalkan kursi menuju toilet. Tidak lama berselang, sistem pendeteksi asap menyala. Ia kemudian ketahuan merokok di dalam toilet.

“Saat mengetahui si penumpang merokok, pramugari langsung menegurnya. Dan yang bersangkutan langsung ditangkap petugas keamanan bandara saat pesawat mendarat,” kata Dicky di Makassar, Rabu 27 September 2017.

Bahar sempat diinterogasi petugas Avsec Bandara Hasanuddin sebelum akhirnya dilepaskan. Dengan catatan, dia menandatangani pernyataan tidak akan mengulangi perbuatannya.

“Dia iseng merokok saat buang air di dalam toilet pesawat. Dia mengaku tidak tahu ada larangan,” ujar Dicky

Dari penyelidikan petugas keamanan, Dicky diketahui beralamat di desa Kapaleo kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara. Dia menumpang pesawat ke Makassar untuk mengunjungi mertuanya di daerah Kariango kabupaten Maros, Sulsel.

Merokok di dalam pesawat tergolong perbuatan yang membahayakan keamanan dan keselamatan penerbangan. Perbuatan ini melanggar Pasal 54 Undang-undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Hukumannya penjara maksimal lima tahun atau denda Rp2,5 miliar.

Sumber : airmagz